Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Anak Rajin Bantu Guru, Kok Dibilang Caper? Ini Kata Psikolog

Iwan Kawul • Jumat, 30 Januari 2026 | 14:04 WIB
Ilustrasi guru YPAC Solo mendampingi siswa ABK saat kegiatan outing class, belum lama ini.
Ilustrasi guru YPAC Solo mendampingi siswa ABK saat kegiatan outing class, belum lama ini.

RADARSOLO.COM - “Bu, katanya aku caper.”

Kalimat sederhana itu belakangan cukup sering terlontar dari anak-anak yang dikenal rajin, dekat dengan guru, dan kerap diminta membantu di kelas. Bukan karena berbuat salah, tetapi justru karena dianggap terlalu menonjol oleh teman-temannya sendiri.

Fenomena ini kerap membuat orang tua bingung. Di satu sisi, anak menunjukkan sikap positif: patuh, tanggung jawab, dan mau membantu. Di sisi lain, ada tekanan sosial dari teman sebaya yang memberi label negatif—cari perhatian—yang perlahan bisa menggerus kepercayaan diri anak.

Psikolog anak sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Guru PAUD FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Anayanti Rahmawati, S.Psi, Psi, MA, menilai situasi ini sebagai bagian dari proses perkembangan anak yang wajar, namun perlu dipahami secara utuh oleh guru dan orang tua.

Menurut Anayanti, pada masa anak-anak—khususnya usia SD—kedekatan dengan guru adalah hal yang alamiah.

"Kalau masih SD, anak-anak itu biasanya senang diminta tolong gurunya. Mereka masih berorientasi ke orang dewasa: orang tua, guru, siapa pun yang lebih tua. Jadi manut, dan malah bangga,” jelasnya.

Masalah mulai muncul ketika anak beranjak ke masa remaja. Di fase ini, orientasi sosial anak bergeser.

“Begitu masuk remaja, orientasinya beralih ke teman sebaya. Pendapat teman jadi sangat penting. Ketika ada komentar seperti ‘ah caper’, anak akhirnya memilih mengikuti temannya, bukan lagi gurunya,” ujar Anayanti.

Di titik inilah, anak yang sebelumnya aktif dan dekat dengan guru justru mulai menarik diri. Bukan karena berubah nilai, melainkan karena takut dikucilkan.
Anayanti menjelaskan, dalam praktiknya memang tidak semua anak mendapat kesempatan yang sama untuk membantu guru. Guru cenderung menunjuk anak-anak tertentu—yang dinilai rajin, mampu, atau bisa diandalkan. Situasi ini, tanpa disadari, bisa memicu kecemburuan sosial di antara teman-temannya.

“Bagi anak yang tidak terpilih, apalagi kalau itu berulang, bisa muncul perasaan tersisih. Dari situ lalu muncul label, ejekan, atau komentar negatif ke temannya yang sering diminta bantuan,” terangnya.

Padahal, menurut Anayanti, kedekatan anak dengan guru adalah hal yang positif dan perlu dijaga. Anak belajar tanggung jawab, kepercayaan, dan relasi sehat dengan figur otoritas. Masalahnya bukan pada anak yang membantu, tetapi pada bagaimana lingkungan mengelolanya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran guru dalam mengatur pendekatan. Guru perlu memastikan bahwa proses meminta bantuan tidak terlalu mencolok dan tidak menimbulkan kesan eksklusif. Salah satu caranya adalah dengan memberi penjelasan kepada seluruh kelas.

“Misalnya guru menyampaikan bahwa yang diminta membantu adalah anak-anak yang rajin, yang bertanggung jawab. Jadi teman-temannya tidak melihat itu sebagai ‘pilih kasih’, tapi sebagai motivasi,” jelasnya.

Dengan pendekatan seperti itu, anak-anak lain justru terdorong untuk meningkatkan diri. Bukan menjatuhkan, tetapi berlomba menjadi lebih baik agar mendapat kepercayaan yang sama.

Lalu bagaimana peran orang tua ketika anak pulang ke rumah dengan cerita ‘dibilang caper’? Anayanti mengingatkan agar orang tua tidak bereaksi berlebihan.

“Kadang orang tua terlalu ikut campur. Ada yang merasa anaknya dimanfaatkan, atau malah melarang anak untuk patuh pada guru,” katanya.

Padahal, menurutnya, dukungan orang tua justru sangat krusial. Anak perlu diyakinkan bahwa membantu guru adalah hal baik dan tidak perlu malu. Selama itu memang urusan sekolah dan dalam batas wajar, orang tua sebaiknya memberi kepercayaan pada guru dan anak.

Ia juga menyoroti fenomena orang tua yang terlalu kepo dan intervensif, hingga melewati batas. Misalnya mempertanyakan tugas sekolah yang dilakukan di luar jam belajar, atau keberatan ketika anak diminta kegiatan tambahan.

“Kalau guru yang minta, dan itu untuk pembelajaran anak, sebaiknya orang tua mendukung. Jangan justru mematahkan semangat anak dengan komentar negatif,” tegasnya.

Pada akhirnya, anak perlu dipahamkan bahwa berbuat baik tidak selalu mendapat tepuk tangan. Namun, dengan dukungan guru yang adil dan orang tua yang bijak, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa integritas dan tanggung jawab jauh lebih bernilai daripada sekadar penerimaan sesaat dari lingkungan. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Siswa caper #Anak caper #Murid caper #parenting