Sebagai catatan, perusahaan ini bergerak di sektor pengolahan kayu sonokeling. Berupa dekoratif hingga balok kaki, dengan tujuan ekspor ke Tiongkok. Dalam kunjungannya, Jerry mengaku Kemendag siap memfasilitasi para pelaku usaha yang berkontribusi dan memberikan nilai tambah.
“Itu menjadi salah satu kewajiban kami. Apalagi nilai ekspor kita telah surplus selama 37 bulan. Bahkan yang tertinggi pada Desember 2020, tembus USD 54,46 miliar. Ini yang tertinggi sepanjang sejarah,” kata Jerry.
Jerry juga mengaku Kemendag mendorong perkembangan produk pertanian dan kehutanan. Meski tidak semua jenis kayu diekspor dalam bentuk barang mentah. Secara keseluruhan ada 46 atase perdagangan yang mengembangkan pasar dan promosi perdagangan di sejumlah negara.
Ditambah Indonesian Trade Promotoin Center (ITPC), perwakilan Indonesia di luar negeri yang membidangi perdagangan. Bertugas mempromosikan produk, hingga pelayanan informasi pasar komoditi ekspor.
“Di beberapa kota ada balai pelatihan ekspor. Semuanya dimaksudkan agar pelaku usaha mendapatkan berbagai kemudahan (dalam ekspor),” imbuhnya.
Sementara itu, direktur pabrik pengolahan kayu sonokeling setempat Djumadi Sri Wiryanto menyebut usaha itu sudah dijalaninya sejak 1998. “Ekspor kami menurun dalam dua tahun terakhir. Dampak dari perang Rusia-Ukrania juga. Biasanya bisa mengirim delapan kontainer dalam sebulan, kini hanya empat kontainer saja,” ujarnya.
Penurunan ekspor itu, sudah disampaikan ke Kemendag. Supaya bisa dicarikan solusi secepatnya. “Mohon dibantu pemasarannyajuga. Sehingga bisa meningkatkan aktivitas ekspor ke Tiongkok,” pintanya. (ren/fer/dam) Editor : Damianus Bram