RADARSOLO.COM - Warga Desa Paseban, Kecamatan Bayat gelar kirab dalam rangkaian haul agung Sunan Pandanaran dan sadranan, Jumat (8/3).
Peserta kirab membawa jodhang, tumpeng, tenong hingga gunungan hasil bumi yang diiringi reog ke kompleks makam Sunan Pandanaran.
Kirab dimulai dari kawasan parkir ke kompleks makam Sunan Pandanaran yang berada di Bukit Jabalkat di Desa Paseban, Bayat.
Beberapa warga tampak membawa tumpeng dan gunungan, meski sebelumnya harus menaiki ratusan anak tangga menuju pendapa di atas bukit.
Sesampai di pendapa kompleks makam, warga menggelar zikir, tahlil serta doa bersama.
Namun, belum sampai rangkaian kegiatan tersebut, dua gunungan yang berisi hasil bumi dan jajanan pasar ludes karena menjadi rebutan warga.
Kemudian, rangkaian acara haul dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Pandanaran yang berada di puncak bukit.
Selain warga, para peziarah mengikuti rangkaian tradisi tersebut.
Tampak perwakilan pemerintah dari Kabupaten Boyolali, Klaten hingga Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu juga terlihat mendatangi makam Sunan Pandanaran.
“Rangkaian haul agung Sunan Pandanaran dan sadranan sudah dimulai sejak pekan lalu. Diawali penggantian kain mori putih di makam Sunan Pandanaran,” jelas Kepala Desa Paseban Eko Tri Raharjo, Jumat (8/3).
Dalam rangkaian haul agung Sunan Pandanaran juga telah digelar pengajian akbar dan malam midodaren yang diisi dengan laras madya serta macapat.
Baca Juga: Puluhan Kasus DBD Terjadi di Solo dalam 3 Bulan, Didominasi Anak-anak
Dilanjutkan kirab serta pentas seni karawitan serta reog jathilan pada hari ini. Serta pentas wayang kulit pada malam harinya.
“Kirab diikuti perwakilan dari 20 RW di Paseban. Masing-masing RW membawa tumpeng. Warga juga membawa tenong berisikan aneka jajanan,” ucapnya.
Dalam tradisi tersebut, sejumlah warga yang menggantungkan ekonomi dari wisata religi makam Sunan Pandanaran juga turut serta.
Seperti paguyuban petugas parkir, ojek, penjaga kamar mandi, pengusaha penginapan hingga paguyuban pedagang.
Mereka membawa tumpeng serta tenong, yang kemudian dinikmati bersama seusai zikir dan tahlil selesai.
“Rangkaian haul ini diperingati saban 27 Ruwah dalam kalender Jawa, sekaligus sadranan. Jadi setelah kegiatan haul, warga menggelar tradisi sadranan di makam leluhur masing-masing,” jelas Eko.
Salah satu warga yang ikut serta dalam kirab tersebut, Ariyati, 48, mengaku, setiap tahun mengikuti tradisi di kompleks makam Sunan Pandanaran tersebut.
Dia juga ikut berebut hasil bumi dari gunungan yang dikirab. Dan mengaku mendapat kacang panjang.
"Hanya untuk ngalap berkah saja dari para wali. Barokah buat usaha. Kebetulan saya dagang soto dan rawon di area parkir makam Sunan Pandanaran,” kata warga Desa Kebon, Bayat itu.
Sebelum mengikuti tradisi haul dan sadranan, Ariyati juga melakukan ziarah ke makam Sunan Pandanaran dan makam leluhur.
Termasuk membawa tenong yang berisikan aneka jajanan pada kirab tersebut.
“Ketika sedang sepi pengunjung biasanya saya sempatkan untuk berziarah ke makam Sunan Pandanaran. Ya dengan menaiki tangga, sudah biasa jadi tidak ngos-ngosan,” ujar Ariyati. (ren/ria)
Editor : Syahaamah Fikria