RADARSOLO.COM-Rangkaian Prambanan Shiva Festival 2026 yang dimulai sejak pertengahan Januari ditutup dengan perhelatan Mahashivaratri pada Minggu-Senin (15-16/2/2026) dini hari.
Bertempat di Lapangan Wisnu, Taman Wisata Candi Prambanan, Klaten yang dihadiri langsung Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha.
Mahashivatri 2026 yang kali pertama digelar di Indonesia itu menghadirkan penyalaan 1.008 dipa (pelita) dan mengumandangkan damaru (alat musik).
Melambangkan persatuan umat dalam doa dan menciptakan atmosfer yang mendukung meditasi mendalam demi kedamaian dan kesejahteraan dunia.
Mahashivaratri merupakan salah satu hari suci terpenting bagi umat Hindu di seluruh dunia.
Perayaan tersebut merupakan momentum refleksi mendalam, penyucian jiwa dan penguatan kebersamaan melalui rangkaian ritual sakral.
Memadukan seni, budaya dan spritual nilai agung Candi Prambanan.
Kegiatan tersebut sebagai momen pemujaan kepada Dewa Shiva yang merupakan sang pelebur dan sumber kesadaran tertinggi dalam ajaran Hindu.
Diselenggarakan secara kolaboratif antara Kementerian Pariwisata, Kemeneterian Agama, Kementerian Kebudayaan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan InJourney Destination Management (IDM).
Mereka yang ikut serta dalam kegiatan tersebut tak hanya umat Hindu saja. Tetapi wisatawan juga bisa turut serta dalam penyalaan dipa yang kemudian diletakan di Lapangan Wisnu.
Baca Juga: Kapan Sudang Isbat Ramadhan 2026? Ini Jadwal Resmi Penentuan Awal Puasa oleh Kemenag
Acara semakin semarak dengan kemegahan visual yang dihadirkan melalui atraksi video mapping yang membalut candi dengan teknologi cahaya.
Tentunya menambah kekhusyukan suasana saat penyalaan dipa.
“Rangkaian Prambanan Shiva Festival ini sudah kita lakukan sejak 17 Januari 2026. Pertama kali dilakukan, tetapi saya senang. Kemudian ditutup dengan perayaan Mahashivaratri, sebagai momentum untuk instropeksi diri, penyucian batin serta pemujaan kepada Dewa Siwa,” beber Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.
Lebih lanjut, ia terus mendorong pengembangan pariwisata berbasis budaya dan spritual yang terus dijaga kesakralannya.
Termasuk memperkuat kelestarian serta memastikan keberlanjutan warisan budaya dan spritual bangsa.
Ia juga menyampaikan bahwa tren kedepan wisatawan datang tidak hanya sekadar mencari hiburan.
Tetapi datang dalam hal pembersihan diri, mencari spritualisme hingga kedekatan pada dirinya sendiri, lingkungan, budaya dan masyarakat lokal.
“Saya pikir itu dimiliki dan menjadi kekuatan besar dari Candi Prambanan. Kita punya tempat pemujaan Siwa, saya harapkan ini kita buka kepada semua umat untuk mengenal, mengetahui dan kemudian menjaganya dan menghidupkan tempat ini (Candi Prambanan),” ujarnya.
Direktur Komersial IDM Gistang Panutur mempertegas bahwa malam Mahashivaratri baru kali pertama diadakan di Indonesia.
Menjadi puncak dari rangkaian pemujaan Siwa yang dimulai dari upacara keagamaan hingga menyalakan 1.008 dipa.
“Dinyalakan oleh umat Hindu dan wisatawan yang datang ke Candi Prambanan. Untuk merasakan khidmatnya suasana dari malam Mahashivaratri. Ditambah dengan adanya video mapping untuk membawa suasana kemegahan setelah dari acara sembahyang sehingga memberikan pengalaman bagi umat dan pengunjung,” beber Puspa.
Salah satu pengunjung, Yogi Diana, 37, asal Blitar, Jawa Timur mengaku baru pertama mengikuti perhelatan Mahashivaratri bersama suaminya.
Dirinya terkesan dengan rangkaian upacara keagamaan hingga adanya video mapping yang menyoroti kemegahan Candi Prambanan.
“Harapannya ke depan bisa semakin meriah lagi. Apalagi dengan penyalaan dipa ini sebagai lambang dari ucapan dan harapan. Kalau secara pribadi, harapan kami segera diberi momongan dan semoga dunia semakin baik,” ucapnya. (ren)
Editor : Tri wahyu Cahyono