RADARSOLO.COM – Pesona sejarah Kabupaten Klaten mulai menarik perhatian banyak daerah.
Meski masih terbilang baru, kegiatan Walking Tour yang digagas komunitas Klaten Lampau membuktikan bahwa sejarah bukan hanya tersimpan di buku teks, tapi bisa menjadi pengalaman nyata yang hidup dan inklusif bagi semua kalangan.
Dua peserta dengan latar belakang berbeda, Irwan (25) asal Prambanan, Klaten, dan May (20), mahasiswi asal Jember, Jawa Timur, membagikan pengalaman mereka setelah menyusuri jejak kolonial di jantung kota Klaten.
Bagi Irwan, lulusan ilmu sejarah ini, mengikuti walking tour adalah kesempatan mencari perspektif baru di tengah keterbatasan waktu untuk riset mandiri. Ia mengetahui kegiatan ini melalui akun Instagram Klaten Lampau.
Baca Juga: Kepedulian Tanpa Batas, Komunitas Scooter Klaten Galang Dana untuk Korban Banjir di Sumatera
"Setahu saya walking tour baru ada di Jogja dan Solo. Ternyata Klaten yang punya banyak situs cagar budaya juga dan ada yang mengadakan (walking tour). Ini bagus sekali," ujar Irwan kepada radarsolo.com.
Irwan mengikuti tur bertajuk Berjalan ke Stadion Trikoyo.
Perjalanan dari Alun-alun Klaten hingga stadion membawanya menelusuri bangunan-bangunan sarat sejarah. Ia terkesan dengan informasi detail tentang gedung SMPN 2 Klaten.
"Dijelaskan bahwa di sana pernah menjadi tempat pertemuan tokoh-tokoh penting, seperti perkumpulan guru Hindia Belanda. Bahkan orang yang sekolah di situ pun mungkin belum tahu. Informasi seperti ini jarang diketahui masyarakat luas," kata Irwan.
Ia juga mengapresiasi jadwal tur yang dilakukan sore menjelang magrib, dianggap sangat cocok untuk anak muda yang ingin jalan santai tanpa harus bangun pagi. Irwan berharap kegiatan seperti ini semakin dikenal luas:
"Harapannya pesertanya bisa lebih banyak dan sosialisasinya menyeluruh. Sejarah Klaten itu begitu kaya," ujarnya.
Antusiasme serupa ditunjukkan May, mahasiswi 20 tahun yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.
Meski pertama kali ke pusat Kota Klaten, ia merasa penjelasan tur mudah dipahami, bahkan untuk orang awam.
"Saya cari di Instagram dan memang sedang mencari walking tour selain di Solo atau Jogja. Menurut saya penjelasannya detail banget, seperti penggunaan peta lama untuk menunjukkan perubahan bangunan. Mana yang dulu terpisah sekarang menyatu, dan sebaliknya," ungkapnya.
May terkesan dengan narasi pemindahan monumen yang memengaruhi makna sebuah wilayah.
Menurutnya, berjalan kaki sambil mendalami cerita sejarah setiap bangunan memberi wawasan berbeda dibanding sekadar mengunjungi objek wisata populer.
Ia juga berharap jumlah peserta Walking Tour Klaten Lampau semakin bertambah.
"Kalau temannya banyak, akan semakin banyak insight dari pertanyaan-pertanyaan peserta lain. Penyelenggara juga jadi makin semangat banyak untuk bikin rute baru," tuturnya.
May bahkan memberikan ide untuk rute berikutnya: menelusuri sejarah umbul atau mata air di Klaten, penasaran mengapa kota ini memiliki banyak sumber mata air dan bagaimana perkembangannya dari masa ke masa.(ren)
Editor : Nur Pramudito