Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Nasi Trancam Ayam Goreng Kampung Khas Klaten

Damianus Bram • Sabtu, 3 September 2022 | 17:00 WIB
LEGENDARIS: Seporsi nasi terancam ayam goreng kampung khas Klaten di Desa Cawas, Kecamatan Cawas. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
LEGENDARIS: Seporsi nasi terancam ayam goreng kampung khas Klaten di Desa Cawas, Kecamatan Cawas. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Nasi trancam yang dipadupadankan dengan lauk pauk ayam goreng kampung banyak ditemui di berbagai tempat. Salah satu yang paling legendaris adalah Bu Mayar di Kecamatan Cawas, Klaten. Seperti apa keiistimewaanya?

Berbicara soal nasi trancam tidak bisa dilepaskan dari sosok seorang perempuan yang akrab dipanggil Bu Mayar, 74. Dialah yang mulai menyajikan kuliner otentik Klaten itu hingga akhirnya dikenal secara luas. Dia mulai berjualan sejak 1979 bersama orang tuanya, Wiro Sukarto di Jalan Raya Pedan-Cawas, Desa Cawas, Kecamatan Cawas.

Saat itu Bu Mayar masih berusia 30 tahun membantu orang tuanya yang awalnya berjualan menu soto dan nasi rames. Hingga akhirnya bertambah sajian nasi trancam yang justru digemari pelanggannya saat itu. Kini resep trancam yang telah turun temurun itu telah dipertahankan selama 43 tahun ini.

Racikan trancam terdiri dari beragam sayuran segar (mentah) yang sebelumnya memang tidak dimasak. Ada pun komposisinya mulai dari kacang panjang, daun kemangi, ketimun, kecambah, kubis, wortel hingga daun kenikir. Ditambah kelapa parut yang sudah diolah dengan berbagai bumbu sebagai pengikat rasanya. Saat hendak menyantap, perlu dicampurkan dulu antara sayuran dengan sambal parutan kelapa.

Dalam setiap penyajiannya selalu dilengkapi lauk pauk ayam goreng kampung dengan cita rasanya yang begitu khas. Begitu juga dengan nasi putih hangat. Sebelum berjualan nasi terancam di Cawas, Bu Mayar sempat berjualan ayam goreng berkeliling di Kota Semarang.

”Awalnya orang tua terinspirasi dari tradisi wiwitan. Hingga akhirnya membuat sendiri kemudian ditawarkan kepada pelanggan pada saat itu. Ada yang bilang rasa trancamnya nyamleng (nendang),” kata Bu Mayar saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di warungnya, kemarin (2/9).

Photo
Photo
TETAP EKSIS: Bu Mayar masih terlibat dalam meracik menu rahasia di warungnya. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Bu Mayar terus berkomitmen menjaga cita rasa nasi terancam ayam goreng kampung tersebut. Meski usainya sudah lanjut, tetapi masih terlibat di bagian dapur. Terutama untuk memastikan rasa racikan trancam tetap sama seperti 43 tahun yang lalu.

Pembuatan trancam itu sudah dimulai dari sore dengan menyiapkan berbagai bahan yang hendak diolah. Terlebih lagi aneka sayuran yang dipotong dipastikan dalam kondisi segar. Bahkan untuk timun bisa menghabiskan sebanyak 20 kilogram dalam sehari.

”Kami mengolahnya dengan cara tradisional. Seperti untuk memarut kelapa pun tetap dilakukan dengan diparut pakai tangan. Tidak menggunakan mesin, karena kalau menggunakan mesin rasanya sudah beda,” ucap Bu Mayar.

Sementara itu, khusus ayam goreng pada hari biasa menghabiskan 100 ekor ayam kampung dalam sehari. Sedangkan saat ramai bisa sampai 300 ekor ayam. Bu Mayar hanya menggunakan ayam kampung sebagai lauk dari nasi trancamnya.

”Seporsi nasi trancam ayam goreng kampung juga ada sambal. Tetapi tidak pedas. Jadi kuliner ini memiliki cita rasa gurih dan manis yang begitu kuat,” tandasnya. (ren/adi) Editor : Damianus Bram
#Nasi Trancam #Rumah Makan Bu Mayar Cawas #ayam goreng kampung #Nasi Trancam Khas Klaten #Nasi Trancam Ayang Goreng Kampung