Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

"Feedback", "Insight", hingga "Mood", Mengapa Kata Inggris Lebih Melekat di Percakapan Gen Z?

I
Penulis: Inayah Choirunisa❯
Ilustrasi: Gemini AI
Ilustrasi: Gemini AI

Advertisement

RADARSOLO.COM - "Besok meeting finalisasi rundown, ya."
"Apakah dari teman-teman ada Feedback dari presentasi ini?"
"Lagi nggak mood."

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin sudah tidak asing lagi di telinga Gen Z. Di tengah percakapan berbahasa Indonesia, mereka kerap menyisipkan kata-kata berbahasa Inggris tanpa merasa canggung. Mulai dari feedback, insight, mood, healing, random, hingga deadline, istilah-istilah tersebut seolah telah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari.

Advertisement

Fenomena ini banyak dijumpai di lingkungan kampus, tempat kerja, maupun media sosial. Tak sedikit anak muda yang mengaku lebih spontan mengucapkan kata feedback dibanding "umpan balik", atau memilih mengatakan mood daripada "suasana hati". Lantas, mengapa kata-kata berbahasa Inggris terasa lebih melekat di percakapan Gen Z?

Dilansir dari artikel berjudul Pengaruh Penggunaan Bahasa Asing terhadap Komunikasi Gen Z, salah satu penyebab utamanya adalah lingkungan digital tempat Gen Z tumbuh.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z sejak kecil telah akrab dengan internet dan media sosial yang didominasi konten berbahasa Inggris.

Advertisement

Platform seperti TikTok, YouTube, Netflix, hingga berbagai gim daring menghadirkan konten global yang dikonsumsi hampir setiap hari. Tanpa disadari, paparan tersebut membuat banyak kosakata bahasa Inggris lebih mudah dikenali dan diingat. Bahkan, sebagian istilah terasa lebih familiar dibandingkan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Selain berasal dari media digital, banyak kata yang kini populer juga lahir dari budaya internet. Istilah seperti spoiler, healing, random, relate, hingga cringe awalnya berkembang di ruang digital sebelum akhirnya menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Kata-kata tersebut kemudian menyebar dengan cepat melalui unggahan media sosial, video pendek, hingga percakapan di berbagai platform digital.

Tak hanya itu, bahasa Inggris juga dianggap lebih ringkas untuk menyampaikan maksud tertentu. Sebagian Gen Z merasa kata seperti feedback, insight, atau mood lebih praktis digunakan dibandingkan padanan bahasa Indonesianya. Kebiasaan tersebut akhirnya terus terbawa, bahkan saat mereka sedang berbicara dalam bahasa Indonesia.

Faktor lain yang turut memengaruhi ialah tuntutan dunia pendidikan dan pekerjaan.

Saat ini, kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu keterampilan yang banyak dibutuhkan di era digital dan globalisasi. Mahasiswa maupun pekerja muda pun semakin akrab dengan berbagai istilah berbahasa Inggris melalui perkuliahan, seminar, hingga lingkungan kerja profesional.

Advertisement
Editor : Kabun Triyatno

Artikel Terkait

Kalau Belum Pernah Dengar Kata-Kata Ini, Kamu Nggak Sendirian

Kalau Belum Pernah Dengar Kata-Kata Ini, Kamu Nggak Sendirian

Bahasa Indonesia punya banyak kosakata unik di KBBI yang jarang diketahui dan tertukar istilah asing, seperti rubanah (basemen), tulat (3 hari lagi), candawara (game show), griya tawang (penthouse), gala, dan klangenan.

7 Bahasa Gaul Viral Gen Alpha yang Bikin Generasi Lain Bingung

7 Bahasa Gaul Viral Gen Alpha yang Bikin Generasi Lain Bingung

Bingung arti kata skibidi, rizz, hingga delulu yang sering muncul di medsos? Yuk, kenali 7 bahasa gaul Gen Alpha yang lagi viral biar kamu nggak kudet dan makin paham obrolan masa kini!

“Palum” dan “Galgah” sudah masuk KBBI, Kamu Juga Bisa Mengusulkan Kata Favoritmu!

“Palum” dan “Galgah” sudah masuk KBBI, Kamu Juga Bisa Mengusulkan Kata Favoritmu!

Unggahan @bungareyzaa tentang kata palum dan galgah di KBBI viral di TikTok. Tak sekadar jadi pengguna, kini masyarakat juga bisa berkontribusi mengusulkan kosakata atau perbaikan makna baru lewat situs KBBI Daring.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer