Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Galeri Penuh? Bisa Jadi Anda Mengalami Digital Hoarding

I
Penulis: Inayah Choirunisa❯
Fenomena digital hoarding. Gambar: Pinterest
Fenomena digital hoarding. Gambar: Pinterest

Advertisement

RADARSOLO.COM - Pernah berniat membersihkan galeri ponsel, tetapi akhirnya mengurungkan niat karena merasa semua foto dan tangkapan layar masih mungkin dibutuhkan? Atau memiliki ribuan file, dokumen, hingga video yang tidak pernah dibuka lagi, tetapi tetap enggan menghapusnya? Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian.

Kebiasaan menyimpan terlalu banyak file digital dikenal dengan istilah digital hoarding. Fenomena ini merujuk pada kecenderungan seseorang mengumpulkan dan mempertahankan berbagai berkas digital, seperti foto, video, tangkapan layar, dokumen, email, maupun pesan, meskipun sebagian besar sudah tidak lagi digunakan.

Advertisement

Berbeda dengan kebiasaan menyimpan file penting sebagai cadangan, digital hoarding ditandai dengan sulitnya memutuskan mana yang perlu disimpan dan mana yang sebenarnya bisa dihapus. Akibatnya, kapasitas penyimpanan terus penuh, sementara jumlah file bertambah dari hari ke hari.

Fenomena ini semakin sering ditemui seiring berkembangnya teknologi. Kapasitas penyimpanan ponsel dan layanan komputasi awan (cloud) yang semakin besar membuat banyak orang merasa tidak perlu lagi memilah file. Selama ruang penyimpanan masih tersedia, hampir semua hal disimpan begitu saja.

Advertisement

Contohnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang memiliki puluhan tangkapan layar promo belanja yang sudah berakhir, foto menu restoran yang tidak pernah dikunjungi, gambar inspirasi yang terlupakan, hingga dokumen lama yang sudah tidak lagi digunakan. Tidak sedikit pula yang menyimpan ribuan foto dengan objek yang hampir sama karena merasa sayang jika harus menghapus salah satunya.

Lalu, mengapa seseorang sulit menghapus file digital?

Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran bahwa file tersebut suatu saat akan dibutuhkan. Pikiran seperti "siapa tahu nanti berguna" atau "takut menyesal kalau dihapus" membuat seseorang memilih menyimpan semuanya, meskipun kemungkinan file tersebut dibuka kembali sangat kecil.

Selain itu, beberapa file juga memiliki nilai emosional. Foto bersama keluarga, tangkapan layar percakapan, atau video dari momen tertentu sering kali disimpan karena menjadi pengingat pengalaman yang pernah dialami. Meski tidak pernah dibuka kembali, keberadaan file tersebut memberikan rasa tenang bagi pemiliknya.

Dalam beberapa penelitian, digital hoarding juga dikaitkan dengan perilaku menunda pengambilan keputusan. Menghapus file berarti harus memilih mana yang penting dan mana yang tidak. Bagi sebagian orang, proses tersebut terasa melelahkan sehingga mereka lebih memilih membiarkan semuanya tetap tersimpan.

Sekilas, kebiasaan ini mungkin tampak sepele. Namun, jika dibiarkan, digital hoarding dapat membuat penyimpanan cepat penuh, menyulitkan pencarian dokumen penting, hingga menimbulkan rasa kewalahan saat melihat ribuan file yang belum pernah dirapikan.

Advertisement

Artikel Terkait

Berani Coba? Luangkan 24 Jam Tanpa Media Sosial Akhir Pekan Ini

Berani Coba? Luangkan 24 Jam Tanpa Media Sosial Akhir Pekan Ini

Tantangan 24 jam puasa media sosial di akhir pekan dapat mengurangi kecemasan dan memperbaiki fokus. Melalui digital detox ini, waktu luang bisa dialihkan untuk aktivitas nyata yang lebih bermanfaat.

Hipdut, Saat Hip Hop dan Dangdut Bertemu Menjadi Musik Favorit

Hipdut, Saat Hip Hop dan Dangdut Bertemu Menjadi Musik Favorit

Genre hipdut memadukan beat hip hop modern dengan hentakan dangdut. Lewat lagu viral seperti Garam & Madu, genre ini sukses memikat Gen Z berkat ritme energik, lirik multibahasa, dan tren di media sosial.

Bukan Sekadar Musik Joget, Ini Rahasia Lagu Timur Mudah Viral di Media Sosial

Bukan Sekadar Musik Joget, Ini Rahasia Lagu Timur Mudah Viral di Media Sosial

Musik Indonesia Timur seperti Tabola Bale dan Mode Pesawat viral di media sosial. Karakter musiknya yang khas, ritmis, dan enerjik berhasil memikat pendengar nasional sekaligus mengenalkan identitas budaya lokal.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer