Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kebaya Simbol Modernitas, Beradaptasi dengan Zaman

P
Kebaya dalam bentuk desain kreasi dari Lenny Agustin. (Lenny Agustin untuk Jawa Pos)
Kebaya dalam bentuk desain kreasi dari Lenny Agustin. (Lenny Agustin untuk Jawa Pos)


KEBAYA merupakan simbol modernitas atau perubahan. Begitulah prinsip yang dipegang desainer Lenny Agustin. Dia mengatakan bahwa sejak kali pertama kemunculannya, kebaya selalu mengalami perubahan.

Pemahaman itu membuat Lenny tidak takut ”menabrak” pakem berkebaya. Jika biasanya kebaya berpadu anggun dengan kain sebagai bawahan, di tangan perancang yang juga mahasiswi S-3 Universitas Indonesia (UI) itu kebaya tidak selalu berdampingan dengan kain. Lenny juga mendobrak pandangan lawas yang selalu menyejajarkan kebaya dan kain dengan sanggul.

”Kalau pakai kebaya pakem, kemudian jalan-jalan naik MRT atau di mal, nanti ditanya mau kondangan ke mana,” kata perempuan yang menyemaikan tren kebaya funky sejak 2001 itu. Dalam wawancara dengan Jawa Pos pada Kamis (14/7), dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak anti terhadap kebaya pakem. Dia hanya berupaya lebih melazimkan kebaya agar bisa lebih sering dipakai, tidak hanya saat hajatan atau kondangan.

Kebaya, menurut Lenny, mengalami stagnasi dalam pemakaiannya. Terutama di kalangan anak muda. Karena itulah, kebaya funky hadir sebagai modernitas kebaya pakem. ”Ada yang bilang keluar dari pakem kebaya. Karena bawahannya tidak pakai kain,” tuturnya.

Di mata Lenny, kebaya adalah baju yang trendi. Kebaya bukan baju tradisional yang stuck dengan penampilan begitu-begitu saja. Dengan konsep kebaya funky, Lenny memperkenalkan rok tutu atau celana dan model bawahan lainnya sebagai padanan kebaya. Lenny juga menampilkan banyak model kebaya. Termasuk kebaya lengan pendek.

Terpisah, Didiet Maulana mengapresiasi tampilnya begitu banyak macam dan ragam kebaya. Baik warna maupun modelnya. Perancang senior itu menyatakan bahwa perkembangan kebaya selama satu abad terakhir begitu menarik. Kebaya mengikuti tren dan lebih muda. Perancang dan pengguna kebaya pun lebih bebas dalam mengekspresikan dirinya.

Kendati demikian, menurut Didiet, esensi kebaya tidak luntur. ”Justru makin kentara bahwa kebaya menampilkan kesederhanaan dan keanggunan di saat yang bersamaan,” tegas penulis buku Kisah Kebaya tersebut.



Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Dorong Kebaya Jadi Busana Harian, Pemkab dan KKI Karanganyar Gelar Parade Budaya di CFD

Dorong Kebaya Jadi Busana Harian, Pemkab dan KKI Karanganyar Gelar Parade Budaya di CFD

Ketua KKI Karanganyar mendorong agar paradigma masyarakat terhadap kebaya mulai bergeser, sehingga tidak lagi dipandang sebatas busana seremonial yang hanya dikenakan saat hajatan atau momentum formal tertentu.

Mercure Solo Gelar Zumba Berkebaya untuk Memperingati Hari Kebaya Nasional 2026

Mercure Solo Gelar Zumba Berkebaya untuk Memperingati Hari Kebaya Nasional 2026

Perpaduan antara olahraga dan budaya ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kebaya kepada berbagai kalangan serta mendorong masyarakat untuk terus melestarikan warisan budaya Indonesia.

Anggun dalam Warisan, The Sunan Hotel Gandeng Batik Danar Hadi peringati Hari Kebaya

Anggun dalam Warisan, The Sunan Hotel Gandeng Batik Danar Hadi peringati Hari Kebaya

Menggandeng designer lokal, The Sunan Hotel melestarikan warisan melalui Fashion and Luncheon yang dilaksanakan rutin di Narendra Restaurant, Kamis (23/7), berkolaborasi dengan Batik Danar Hadi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer