Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

BUDAYA JAWA: Basa Kasar, dari Ekspresi Emosional hingga Sapaan Keakraban

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 21 Januari 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang marah.
Ilustrasi seseorang yang sedang marah.

RADARSOLO.COM- Bahasa Jawa memiliki tingkatan. Dari yang sangat halus, hingga paling kasar.

Basa kasar adalah bahasa yang diucapkan untuk mengekspresikan kondisi seseorang yang sedang marah dengan nada yang tinggi.

Bahasanya bisa menggunakan bahasa kasar, ngoko atau bahkan krama bagi yang terbiasa menggunakan bahasa krama (Sulaksono, 2023: 20).

Pada zaman sekarang basa kasar tidak lagi digunakan untuk mengekspresikan rasa marah.

Atau lebih mudahnya kita sebut sebagai basa pisuhan yang dalam bahasa Indonesia berarti umpatan atau makian.

Akan tetapi juga digunakan oleh kebanyakan orang untuk mengekspresikan rasa terkejut, kagum atau bahkan sebagai sapaan kepada teman akrab.

Mengapa demikian? Basa kasar yang terdengar vulgar justru menjadi tanda keakraaban seseorang.

Karena sering dan mudah digunakan dalam berkomunikasi untuk mengungkapkan sebuah candaan atau lawakan.

Penggunaan basa kasar bisa terjadi karena beberapa kondisi dan dengan berbagai bentuk.

Misalnya dengan menyebut salah satu anggota badan dengan intonasi yang tinggi dan ditambahi dengan akhiran -mu pada akhir kata.

Seperti matamu (matamu), telihmu (weteng: perut), cangkemmu (tutuk: mulut), endhasmu (sirah: kepala), dan lain sebagainya.

Ungkapan tersebut biasanya digunakan untuk makian atau mengekspresikan rasa marah kepada lawan bicara.

Baca Juga: BUDAYA JAWA: Apa Itu Gugon Tuhon yang Eksis di Kalangan Masyarakat?

Penggunaan lain basa kasar juga bisa dalam bentuk nama hewan.

Penggunaan nama hewaan biasanya juga digunakan sebagai makian atau ungkapan kekesalan, tetapi juga digunakan sebagai sapaan.

Nama hewan yang sering digunakan sebagai basa kasar pisuhan atau makian misalnya asu atau kirik (anjing), celeng (anak babi), wedhus (kambing), bajing-an (bajing: tupai), jangkrik, dsb.

Beberapa orang Jawa memiliki sapaan tertentu atau sering disebut karan (bahasa Jawa) yang diberikan oleh teman-temannya karena merasa sudah akrab.

Biasanya sapaan tersebut bermula dari candaan dengan teman satu tongkrongannya.

Basa kasar yang biasa dipakai sebagai sapaan ini biasanya menggunakan nama hewan. Seperti celeng (anak babi), gudhel (anak kerbau) dan tobil (anak kadal).

Selain penggunaan nama anggota badan dan hewan, orang-orang Jawa juga sering menggunakan basa kasar yang menunjukkan suatu kondisi.

Misalnya mbathang untuk mengungkapkan suatu kondisi di mana seseorang tidur terlalu lama atau berlebihan.

Modar yang berarti mati merupakan bahasa kasar yang biasa digunakan dengan seseorang yang sudah akrab ketika mengungkapkan kondisi suatu benda atau juga sering digunakan sebagai basa kasar pisuhan untuk mengungkapkan kekesalan terhadap sesuatu hal.

Nglayap, digunakan untuk mengungkapkan kondisi saat seseorang bermain keluar (hangout) terlalu sering atau terlalu lama.

Nothol, merupakan basa kasar yang seharusnya digunakan untuk menyebut istilah makan hewan sejenis ayam.

Namun demikian, basa pisuhan lebih spesifik merupakan bahasa yang digunakan untuk mengumpat sebagai ungkapan kekesalan terhadap sesuatu hal.

Seperti goblok, jancok, pekok, dlogok dan sebagainya.

Baca Juga: BUDAYA JAWA: Legenda di Balik Terciptanya Telaga Madirda di Ngargoyoso Karanganyar

Basa pisuhan dalam bentuk ini juga sering dijadikan kata sapaan karena pengucapannya yang mudah dan bisa bersifat sebagai kata ganti orang.

Misalnya seperti ungkapan blok dari kata goblok dan cuk dari kata jancuk. (mg2/wa)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#akrab #Budaya Jawa Barat #bahasa #basa kasar #ekspresi #Emosional