alexametrics
25.5 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Pelecehan Seksual Gereja Katolik di Prancis, 200 Ribu Anak Jadi Korban

RADARSOLO.ID – Sebuah laporan hasil penyelidikan besar mengenai kasus pelecehan seksual di Gereja Katolik  Prancis secara mengejutkan dirilis pada Selasa (5/10).

Laporan tersebut menyebutkan bahwa telah ada lebih dari 200.000 anak selama 70 tahun terakhir yang menjadi korban pelecehan seksual dari pendeta Prancis.

Kebanyakan korban berjenis kelamin laki-laki dan berusia antara 10 sampai 13 tahun. Puncak pelecehan seksual ini terjadi antara tahun 1950-1970, kemudian kembali meledak di awal 1990-an.

“Ini adalah aib kemanusiaan. Di neraka (gereja) ini, telah terjadi kejahatan masal yang keji. Tetapi yang lebih buruk lagi adalah pengkhianatan kepercayaan, pengkhianatan moral, pengkhianatan terhadap anak-anak,” ujar seorang korban pelecehan gereja sekaligus pendiri asosiasi korban La Parole Liberee, Francois Devaux, menanggapi rilis hasil penyelidikan tersebut pada Selasa (5/10).

Kasus-kasus pelecehan ini sebenarnya telah lama diungkap. Tetapi baru sekarang jumlahnya diakui melalui sebuah publikasi besar.

Pada Juni lalu, Paus Gereja Katolik di Prancis menyatakan, krisis pelecehan seksual Gereja Katolik adalah ‘malapetaka’ di seluruh dunia. Dia telah mengambil tindakan tegas dengan mengeluarkan revisi ekstensif terhadap Undang-Undang Gereja Katolik dan bersikeras bahwa para uskup telah mengambil tindakan terhadap ulama yang melecehkan anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan.

Tetapi langkah ini dinilai oleh para korban yang tergabung ke dalam asosiasi-asosiasi belum efektif menyelesaikan permasalahan, terlebih bagi para korban yang menderita trauma. Para korban pun diketahui tengah menuntut kompensasi atas kejadian yang dialaminya di gereja-gereja Katolik Prancis.

Temuan yang dipublikasikan pada Selasa kemarin sukses menggemparkan masyarakat nasional, bahkan global. Kasus ini menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan secara serius dan diberi tindakan nyata, mengingat gereja seharusnya mampu menjadi rumah yang melindungi umat. (mgi/ria)

 

RADARSOLO.ID – Sebuah laporan hasil penyelidikan besar mengenai kasus pelecehan seksual di Gereja Katolik  Prancis secara mengejutkan dirilis pada Selasa (5/10).

Laporan tersebut menyebutkan bahwa telah ada lebih dari 200.000 anak selama 70 tahun terakhir yang menjadi korban pelecehan seksual dari pendeta Prancis.

Kebanyakan korban berjenis kelamin laki-laki dan berusia antara 10 sampai 13 tahun. Puncak pelecehan seksual ini terjadi antara tahun 1950-1970, kemudian kembali meledak di awal 1990-an.

“Ini adalah aib kemanusiaan. Di neraka (gereja) ini, telah terjadi kejahatan masal yang keji. Tetapi yang lebih buruk lagi adalah pengkhianatan kepercayaan, pengkhianatan moral, pengkhianatan terhadap anak-anak,” ujar seorang korban pelecehan gereja sekaligus pendiri asosiasi korban La Parole Liberee, Francois Devaux, menanggapi rilis hasil penyelidikan tersebut pada Selasa (5/10).

Kasus-kasus pelecehan ini sebenarnya telah lama diungkap. Tetapi baru sekarang jumlahnya diakui melalui sebuah publikasi besar.

Pada Juni lalu, Paus Gereja Katolik di Prancis menyatakan, krisis pelecehan seksual Gereja Katolik adalah ‘malapetaka’ di seluruh dunia. Dia telah mengambil tindakan tegas dengan mengeluarkan revisi ekstensif terhadap Undang-Undang Gereja Katolik dan bersikeras bahwa para uskup telah mengambil tindakan terhadap ulama yang melecehkan anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan.

Tetapi langkah ini dinilai oleh para korban yang tergabung ke dalam asosiasi-asosiasi belum efektif menyelesaikan permasalahan, terlebih bagi para korban yang menderita trauma. Para korban pun diketahui tengah menuntut kompensasi atas kejadian yang dialaminya di gereja-gereja Katolik Prancis.

Temuan yang dipublikasikan pada Selasa kemarin sukses menggemparkan masyarakat nasional, bahkan global. Kasus ini menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan secara serius dan diberi tindakan nyata, mengingat gereja seharusnya mampu menjadi rumah yang melindungi umat. (mgi/ria)

 

Populer

Berita Terbaru