alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Bom Bunuh Diri Tewaskan 50 Orang di Kunduz, Serangan Paling Mematikan

RADARSOLO.ID – Serangan bom bunuh diri yang terjadi pada sebuah masjid di kota Kunduz, Afghanistan di tengah salat Jumat (8/10), telah menewaskan sedikitnya 50 orang. Dilansir dari bbc.com, menurut pejabat setempat, penyerangan masjid ini merupakan serangan paling mematikan semenjak perginya pasukan Amerika dari Afghanistan.

Jenazah bergelimpangan di dalam Masjid Said Abad, masjid yang sering digunakan oleh minoritas muslim penganut ajaran Syiah.

Diperkirakan sekitar 100 orang mengalami luka-luka atas kejadian ini. Kelompok Islamic State (IS) mengatakan, mereka berada di balik serangan itu. Ekstremis muslim Sunni telah menargetkan Syiah yang mereka lihat sebagai aliran sesat.

Pejabat keamanan setempat yang dikutip oleh Tolo News mengatakan bahwa lebih dari 300 orang sedang menghadiri salat Jumat, ketika serangan itu terjadi. Ada kekhawatiran bahwa jumlah korban tewas akan meningkat lebih lanjut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pemboman hari Jumat adalah serangan mematikan ketiga minggu ini, yang tampaknya menargetkan sebuah lembaga keagamaan.

PBB mengaitkan kejadian ini pada pemboman hari Minggu di dekat sebuah masjid di ibu kota Kabul yang menewaskan beberapa orang. Dan, serangan terhadap sebuah madrasah (lembaga pendidikan) di kota timur Khost pada Rabu.

Sementara itu, AS mengatakan, hari ini (9/10), para diplomat akan mengadakan pembicaraan langsung pertama dengan para pemimpin Taliban, sejak penarikan AS dari Afghanistan.

“Selama dua hari pertemuan, AS akan menekan Taliban untuk menghormati hak-hak perempuan, membentuk pemerintahan yang inklusif, dan mengizinkan badan-badan kemanusiaan untuk beroperasi,” kata seorang juru bicara departemen luar negeri.

Banyak warga Afghanistan berharap bahwa pengambilalihan Taliban setidaknya akan menandai era yang damai. Namun, ISIS merupakan ancaman signifikan terhadap janji Taliban untuk meningkatkan keamanan. (mga/ria)

 

RADARSOLO.ID – Serangan bom bunuh diri yang terjadi pada sebuah masjid di kota Kunduz, Afghanistan di tengah salat Jumat (8/10), telah menewaskan sedikitnya 50 orang. Dilansir dari bbc.com, menurut pejabat setempat, penyerangan masjid ini merupakan serangan paling mematikan semenjak perginya pasukan Amerika dari Afghanistan.

Jenazah bergelimpangan di dalam Masjid Said Abad, masjid yang sering digunakan oleh minoritas muslim penganut ajaran Syiah.

Diperkirakan sekitar 100 orang mengalami luka-luka atas kejadian ini. Kelompok Islamic State (IS) mengatakan, mereka berada di balik serangan itu. Ekstremis muslim Sunni telah menargetkan Syiah yang mereka lihat sebagai aliran sesat.

Pejabat keamanan setempat yang dikutip oleh Tolo News mengatakan bahwa lebih dari 300 orang sedang menghadiri salat Jumat, ketika serangan itu terjadi. Ada kekhawatiran bahwa jumlah korban tewas akan meningkat lebih lanjut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pemboman hari Jumat adalah serangan mematikan ketiga minggu ini, yang tampaknya menargetkan sebuah lembaga keagamaan.

PBB mengaitkan kejadian ini pada pemboman hari Minggu di dekat sebuah masjid di ibu kota Kabul yang menewaskan beberapa orang. Dan, serangan terhadap sebuah madrasah (lembaga pendidikan) di kota timur Khost pada Rabu.

Sementara itu, AS mengatakan, hari ini (9/10), para diplomat akan mengadakan pembicaraan langsung pertama dengan para pemimpin Taliban, sejak penarikan AS dari Afghanistan.

“Selama dua hari pertemuan, AS akan menekan Taliban untuk menghormati hak-hak perempuan, membentuk pemerintahan yang inklusif, dan mengizinkan badan-badan kemanusiaan untuk beroperasi,” kata seorang juru bicara departemen luar negeri.

Banyak warga Afghanistan berharap bahwa pengambilalihan Taliban setidaknya akan menandai era yang damai. Namun, ISIS merupakan ancaman signifikan terhadap janji Taliban untuk meningkatkan keamanan. (mga/ria)

 

Populer

Berita Terbaru