alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Saham Singapura Jatuh, Kasus Covid Dekati Level Tertinggi 1 Tahun

RADARSOLO.ID – Indeks saham Singapura jatuh hampir 1 persen pada Senin (13/9). Ini setelah kasus harian Covid-19 di negara tersebut mendekati angka tertinggi satu tahun.

Sementara nilai tukar baht Thailand memimpin pelemahan di antara mata uang regional. Karena pasar menunggu data inflasi AS untuk mempertimbangkan kemungkinan pengurangan kebijakan oleh Federal Reserve.

Ekuitas di seluruh Malaysia, India, dan Korea Selatan juga turun antara 0,4 persen dan 0,6 persen.

Kementerian Kesehatan Singapura melaporkan, lebih dari 500 kasus baru Covid-19 untuk hari ketiga berturut-turut. Padahal, negara tersebut telah membuka diri kembali kembali secara bertahap, setelah lebih dari 80 persen populasinya divaksinasi penuh.

“Di Singapura, kami mencatat risiko Covid-19 domestik terangkat lebih tinggi,” kata analis di Maybank dalam sebuah catatan.

“Mengingat bahwa tujuan kebijakan pada akhirnya adalah agar Covid-19 menjadi endemik di masyarakat, kami memerkirakan resistensi kebijakan yang lebih kuat kali ini untuk kembali ke penguncian,” imbuh dia.

Selain sejumlah data ekonomi dari Tiongkok pekan ini, investor juga menunggu data indeks harga konsumen (IHK) AS pada Selasa (14/9). Di mana diharapkan menunjukkan penurunan inflasi inti, sementara data penjualan ritel pada Kamis (16/9), dapat menunjukkan penurunan lagi.

IHK AS juga akan dinilai berdasarkan komentar Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker baru-baru ini kepada harian Jepang Nikkei. Bahwa dia ingin memulai tapering jika kenaikan inflasi terbukti lebih dari sekadar sementara.

Dolar dibangun di atas pergerakan bullish-nya dari minggu lalu dan memulai minggu ini dengan lebih kuat karena investor bertaruh pada Fed yang mulai memperketat dompetnya.

Baht Thailand turun 0,6 persen, menuju hari terburuknya dalam hampir tiga bulan. Bank sentral Thailand mengatakan, sistem keuangan negara itu stabil dan tidak ada masalah besar untuk mata uang.

Rupiah Indonesia, ringgit Malaysia, dan peso Filipina masing-masing melemah sekitar 0,2 persen.

Saham di Tiongkok dan Hongkong jatuh, terseret lebih rendah oleh raksasa teknologi, menyusul sejumlah langkah Beijing untuk menindak sektor teknologi negara itu.

Tiongkok akan merilis data penjualan ritel, output industri, dan investasi perkotaan pada Rabu (15/9). Para analis khawatir rilis itu akan menunjukkan perlambatan lebih lanjut di ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. (Antara)


RADARSOLO.ID – Indeks saham Singapura jatuh hampir 1 persen pada Senin (13/9). Ini setelah kasus harian Covid-19 di negara tersebut mendekati angka tertinggi satu tahun.

Sementara nilai tukar baht Thailand memimpin pelemahan di antara mata uang regional. Karena pasar menunggu data inflasi AS untuk mempertimbangkan kemungkinan pengurangan kebijakan oleh Federal Reserve.

Ekuitas di seluruh Malaysia, India, dan Korea Selatan juga turun antara 0,4 persen dan 0,6 persen.

Kementerian Kesehatan Singapura melaporkan, lebih dari 500 kasus baru Covid-19 untuk hari ketiga berturut-turut. Padahal, negara tersebut telah membuka diri kembali kembali secara bertahap, setelah lebih dari 80 persen populasinya divaksinasi penuh.

“Di Singapura, kami mencatat risiko Covid-19 domestik terangkat lebih tinggi,” kata analis di Maybank dalam sebuah catatan.

“Mengingat bahwa tujuan kebijakan pada akhirnya adalah agar Covid-19 menjadi endemik di masyarakat, kami memerkirakan resistensi kebijakan yang lebih kuat kali ini untuk kembali ke penguncian,” imbuh dia.

Selain sejumlah data ekonomi dari Tiongkok pekan ini, investor juga menunggu data indeks harga konsumen (IHK) AS pada Selasa (14/9). Di mana diharapkan menunjukkan penurunan inflasi inti, sementara data penjualan ritel pada Kamis (16/9), dapat menunjukkan penurunan lagi.

IHK AS juga akan dinilai berdasarkan komentar Presiden Fed Philadelphia Patrick Harker baru-baru ini kepada harian Jepang Nikkei. Bahwa dia ingin memulai tapering jika kenaikan inflasi terbukti lebih dari sekadar sementara.

Dolar dibangun di atas pergerakan bullish-nya dari minggu lalu dan memulai minggu ini dengan lebih kuat karena investor bertaruh pada Fed yang mulai memperketat dompetnya.

Baht Thailand turun 0,6 persen, menuju hari terburuknya dalam hampir tiga bulan. Bank sentral Thailand mengatakan, sistem keuangan negara itu stabil dan tidak ada masalah besar untuk mata uang.

Rupiah Indonesia, ringgit Malaysia, dan peso Filipina masing-masing melemah sekitar 0,2 persen.

Saham di Tiongkok dan Hongkong jatuh, terseret lebih rendah oleh raksasa teknologi, menyusul sejumlah langkah Beijing untuk menindak sektor teknologi negara itu.

Tiongkok akan merilis data penjualan ritel, output industri, dan investasi perkotaan pada Rabu (15/9). Para analis khawatir rilis itu akan menunjukkan perlambatan lebih lanjut di ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. (Antara)

Populer

Berita Terbaru