alexametrics
26.3 C
Surakarta
Thursday, 9 December 2021

Mantan Diktator Korsel Meninggal, Kelompok Penyintas Ungkit Pembantaian Gwangju

RADARSOLO.ID – Mantan Presiden Korea Selatan (Korsel) Chun Doo-hwan, yang memerintah negara tersebut setelah kudeta militer pada 1979, meninggal pada Selasa (23/11) di usia 90 tahun.

Chun menjadi presiden yang cukup kontroversial. Dia merupakan seorang mantan komandan militer yang memimpin pembantaian tentara Gwangju terhadap demonstran pro-demokrasi pada 1980. Hal tersebut membuatnya mendapat hukuman mati, yang kemudian mendapat keringanan.

Chun meninggal dunia di rumahnya di Seoul dan jasadnya kemudian dikirim ke rumah sakit untuk dimakamkan kemudian. Dia menderita penyakit muliple myeloma, salah satu jenis kanker darah yang telah memasuki masa remisi.

“Namun, kondisi kesehatannya akhir-akhir ini mengalami penurunan,” kata mantan sekretaris pers Min Chung-ki kepada wartawan.

Kantor Kepresidenan Moon Jae-in menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga Chun. Tetapi menyatakan penyesalan atas kegagalannya untuk mengungkapkan kebenaran dan memberikan permintaan maaf.

Meski demikian, tidak ada rencana untuk mengirim karangan bunga atau pejabat ke rumah dukanya, kata juru bicara Moon.

Kematian Chun terjadi sekitar sebulan setelah mantan presiden lainnya dan rekan kudetanya Roh Tae-woo, yang memainkan peran penting namun kontroversial dalam transisi negara yang bermasalah menuju demokrasi, meninggal pada usia 88 tahun.

Dalam persidangan pada pertengahan 1990-an, Chun mengatakan bahwa kudeta tersebut memang diperlukan untuk menyelamatkan bangsa dari krisis politik. Dia pun membantah mengirim pasukan ke Gwangju.

“Saya yakin saya akan mengambil tindakan yang sama, jika situasi yang sama muncul,” kata Chun di pengadilan.

Chun lahir pada 6 Maret 1931 di Yulgok-myeon, sebuah kota pertanian miskin di daerah tenggara Hapcheon selama pemerintahan Jepang atas Korea.

Dia bergabung dengan militer langsung dari sekolah menengah. Kemudian naik pangkat sampai dia diangkat menjadi komandan pada 1979.

Setelah dipercaya untuk mengambil alih penyelidikan pembunuhan Presiden Park Chung-hee tahun itu, Chun mendekati sekutu militer kunci dan mendapatkan kendali Badan Intelijen Korea Selatan untuk memimpin kudeta 12 Desember.

“Di depan organisasi paling kuat di bawah kepresidenan Park Chung-hee, itu mengejutkan saya betapa mudahnya (Chun) menguasai mereka dan betapa terampilnya dia memanfaatkan keadaan. Dalam sekejap dia tampak telah tumbuh menjadi raksasa,” kata Park Jun-kwang, bawahan Chun selama kudeta kemudian memberi tahu wartawan Cho Gab-je.

RADARSOLO.ID – Mantan Presiden Korea Selatan (Korsel) Chun Doo-hwan, yang memerintah negara tersebut setelah kudeta militer pada 1979, meninggal pada Selasa (23/11) di usia 90 tahun.

Chun menjadi presiden yang cukup kontroversial. Dia merupakan seorang mantan komandan militer yang memimpin pembantaian tentara Gwangju terhadap demonstran pro-demokrasi pada 1980. Hal tersebut membuatnya mendapat hukuman mati, yang kemudian mendapat keringanan.

Chun meninggal dunia di rumahnya di Seoul dan jasadnya kemudian dikirim ke rumah sakit untuk dimakamkan kemudian. Dia menderita penyakit muliple myeloma, salah satu jenis kanker darah yang telah memasuki masa remisi.

“Namun, kondisi kesehatannya akhir-akhir ini mengalami penurunan,” kata mantan sekretaris pers Min Chung-ki kepada wartawan.

Kantor Kepresidenan Moon Jae-in menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga Chun. Tetapi menyatakan penyesalan atas kegagalannya untuk mengungkapkan kebenaran dan memberikan permintaan maaf.

Meski demikian, tidak ada rencana untuk mengirim karangan bunga atau pejabat ke rumah dukanya, kata juru bicara Moon.

Kematian Chun terjadi sekitar sebulan setelah mantan presiden lainnya dan rekan kudetanya Roh Tae-woo, yang memainkan peran penting namun kontroversial dalam transisi negara yang bermasalah menuju demokrasi, meninggal pada usia 88 tahun.

Dalam persidangan pada pertengahan 1990-an, Chun mengatakan bahwa kudeta tersebut memang diperlukan untuk menyelamatkan bangsa dari krisis politik. Dia pun membantah mengirim pasukan ke Gwangju.

“Saya yakin saya akan mengambil tindakan yang sama, jika situasi yang sama muncul,” kata Chun di pengadilan.

Chun lahir pada 6 Maret 1931 di Yulgok-myeon, sebuah kota pertanian miskin di daerah tenggara Hapcheon selama pemerintahan Jepang atas Korea.

Dia bergabung dengan militer langsung dari sekolah menengah. Kemudian naik pangkat sampai dia diangkat menjadi komandan pada 1979.

Setelah dipercaya untuk mengambil alih penyelidikan pembunuhan Presiden Park Chung-hee tahun itu, Chun mendekati sekutu militer kunci dan mendapatkan kendali Badan Intelijen Korea Selatan untuk memimpin kudeta 12 Desember.

“Di depan organisasi paling kuat di bawah kepresidenan Park Chung-hee, itu mengejutkan saya betapa mudahnya (Chun) menguasai mereka dan betapa terampilnya dia memanfaatkan keadaan. Dalam sekejap dia tampak telah tumbuh menjadi raksasa,” kata Park Jun-kwang, bawahan Chun selama kudeta kemudian memberi tahu wartawan Cho Gab-je.

Populer

Berita Terbaru