alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

Ekonomi Indonesia Kuartal II Tumbuh Impresif, Ini Kata Menko Perekonomian

JAKARTA – Perekonomian Indonesia tumbuh impresif sebesar 5,44 persen (yoy) pada triwulan II 2022. Sementara secara triwulanan, ekonomi nasional tumbuh 3,73 persen (qoq).

Bahkan PDB harga konstan jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi, yakni sebesar Rp 2.924 triliun. Capaian ini menandakan tren pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut dan semakin menguat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2022, Jumat (5/8), mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibanding negara lain.

Dua engine pertumbuhan ekonomi dunia, yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat sedang dalam situasi stasioner. Pemerintah berharap hal tersebut dalam jangka panjang tidak berdampak pada ekonomi di ASEAN.

Pengeluaran konsumsi dan ekspor menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini. Kebijakan pemerintah yang mengizinkan masyarakat untuk melaksanakan mudik pada Hari Raya Idul Fitri di Mei lalu, telah mendorong konsumsi masyarakat dengan sangat kuat dan menghasilkan perputaran ekonomi di seluruh wilayah Indonesia.

Sumbangan pertumbuhan yang siginifikan juga berasal dari kinerja impresif ekspor Indonesia. Selain karena faktor peningkatan harga komoditas, menguatnya kapasitas output di berbagai sektor juga turut mendorong peningkatan ekspor Indonesia.

“Konsumsi rumah tangga pertumbuhannya 5,51 persen. Artinya engine pertumbuhan dari segi rumah tangga yang selama Covid-19 berdampak, ini sudah kembali pada kondisi asal,” ujar Menko Airlangga.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah masih tumbuh positif. Ketimpangan ekonomi antarwilayah juga semakin berkurang. Ekonomi luar Jawa, terutama Maluku dan Papua tumbuh tinggi 13,01 persen. Bahkan Bali Nusra mulai tumbuh dan mencapai 3,94 persen.

“Ekonomi di Jawa pulih. Dan, yang menarik tentu Bali Nusra yang biasanya pertumbuhannya rendah, ini sudah naik di 3,4 persen. Jadi pembukaan di sektor pariwisata, kebijakan dari penanganan Covid-19 yang sudah membuka terhadap turis ini sangat membantu di Bali dan Nusa Tenggara,” jelas Airlangga.

Pertumbuhan ekonomi dari sisi demand tercermin juga dari pertumbuhan sisi sektoral. Industri pengolahan sebagai driver terbesar pertumbuhan masih tumbuh positif sebesar 4,01 persen (yoy).

Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan serta akomodasi dan makan minum tumbuh tinggi, masing-masing 21,27 persen dan 9,76 persen. Didorong oleh pelonggaran syarat perjalanan dan momen Hari Raya Idul Fitri. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah masih tumbuh positif dan ketimpangan ekonomi antarwilayah semakin berkurang.

Pertumbuhan diperkirakan masih akan berlanjut tercermin dari kinerja positif berbagai leading indicator ekonomi. Indeks kepercayaan konsumen di angka baik, yaitu 128,2 dan penjualan ritel terus tumbuh yaitu 15,42.

Sementara itu, prospek permintaan yang terus meningkat menjadi insentif bagi industri untuk meningkatkan produksi, tercermin dari purchasing manager index (PMI) yang terus tercatat mengalami ekspansi di level yang semakin kuat.

Di tengah ketidakpastian global, indikator sektor eksternal Indonesia relatif baik dan terkendali. Tercermin dari transaksi berjalan yang masih surplus, neraca perdagangan yang surplus selama 26 bulan berturut-turut, cadangan devisa tetap tinggi per Juli 2022 untuk membiayai 6,2 bulan impor, dan rasio utang masih berada pada level yang aman.

“Ekspor yang selalu menjadi andalan kita pada masa pandemi Covid-19. Ekspor ini terus tumbuh,” kata Airlangga.

Pemulihan dunia usaha juga semakin terlihat dengan pertumbuhan kredit yang terus meningkat mencapai 10,7 persen (yoy) per Juni 2022 dengan tingkat NPL terjaga di bawah 3 persen. Kredit modal kerja meningkat seiring peningkatan utilitas, serta kredit investasi mulai terakselerasi.

Sejalan dengan pertumbuhan kredit, realisasi KUR per Juli mencapai Rp 209,05 triliun (56,02 persen dari target 2022 sebesar Rp 373,17 triliun). Diberikan kepada 4,40 juta debitur. Sedangkan total outstanding per 31 Juli 2022 sebesar Rp 530 triliun. Dari segi kesejahteraan, tingkat kemiskinan dan pengangguran juga menurun.

Memerhatikan perkembangan ekonomi sampai triwulan II 2022 dan prospek ke depan yang masih kuat, Airlangga menegaskan, pemerintah optimistis target ekonomi Indonesia secara keseluruhan sebesar 5,2 persen dapat tercapai. Agar pencapaian target pertumbuhan ekonomi dapat terwujud, pemerintah konsisten menjalankan berbagai strategi dan kebijakan utama untuk mendorong akselerasi pemulihan dan meningkatkan resiliensi ekonomi.

Strategi dan kebijakan utama tersebut antara lain pelonggaran mobilitas masyarakat dan mempersiapkan strategi transisi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat dari era pandemi menuju era new-normal. Mendorong daya beli masyarakat untuk kelompok 40 persen terbawah. Di antaranya melalui program PEN pada klaster perlindungan sosial yang dianggarkan sebesar R p63,7 triliun untuk bantuan PKH, BLT Minyak goreng, BLT Desa, BTPKLWN, dan Kartu Prakerja.

Selain itu, pemerintah juga menyusun langkah-langkah responsif untuk menahan kenaikan harga pangan dan energi dengan penambahan subsidi. Program Kartu Prakerja juga terus didorong meningkatkan kompetensi, produktivitas, dan daya saing angkatan kerja.

Pemerintah juga mendorong pengembangan UMKM. Di antaranya melalui peningkatan plafon KUR sebesar Rp 373,17 triliun pada 2022 dan menyukseskan program Bangga Buatan Indonesia (BBI), serta melanjutkan program Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk pembangunan infrastruktur yang dapat memberikan efek pengganda besar.

Berbagai langkah kebijakan dan reformasi struktural tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas.

“Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan sebesar 5,2 persen pada tahun 2022 dapat tercapai,” pungkas Menko Airlangga. (ltg/fsr/hls)

JAKARTA – Perekonomian Indonesia tumbuh impresif sebesar 5,44 persen (yoy) pada triwulan II 2022. Sementara secara triwulanan, ekonomi nasional tumbuh 3,73 persen (qoq).

Bahkan PDB harga konstan jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi, yakni sebesar Rp 2.924 triliun. Capaian ini menandakan tren pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut dan semakin menguat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2022, Jumat (5/8), mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibanding negara lain.

Dua engine pertumbuhan ekonomi dunia, yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat sedang dalam situasi stasioner. Pemerintah berharap hal tersebut dalam jangka panjang tidak berdampak pada ekonomi di ASEAN.

Pengeluaran konsumsi dan ekspor menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini. Kebijakan pemerintah yang mengizinkan masyarakat untuk melaksanakan mudik pada Hari Raya Idul Fitri di Mei lalu, telah mendorong konsumsi masyarakat dengan sangat kuat dan menghasilkan perputaran ekonomi di seluruh wilayah Indonesia.

Sumbangan pertumbuhan yang siginifikan juga berasal dari kinerja impresif ekspor Indonesia. Selain karena faktor peningkatan harga komoditas, menguatnya kapasitas output di berbagai sektor juga turut mendorong peningkatan ekspor Indonesia.

“Konsumsi rumah tangga pertumbuhannya 5,51 persen. Artinya engine pertumbuhan dari segi rumah tangga yang selama Covid-19 berdampak, ini sudah kembali pada kondisi asal,” ujar Menko Airlangga.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah masih tumbuh positif. Ketimpangan ekonomi antarwilayah juga semakin berkurang. Ekonomi luar Jawa, terutama Maluku dan Papua tumbuh tinggi 13,01 persen. Bahkan Bali Nusra mulai tumbuh dan mencapai 3,94 persen.

“Ekonomi di Jawa pulih. Dan, yang menarik tentu Bali Nusra yang biasanya pertumbuhannya rendah, ini sudah naik di 3,4 persen. Jadi pembukaan di sektor pariwisata, kebijakan dari penanganan Covid-19 yang sudah membuka terhadap turis ini sangat membantu di Bali dan Nusa Tenggara,” jelas Airlangga.

Pertumbuhan ekonomi dari sisi demand tercermin juga dari pertumbuhan sisi sektoral. Industri pengolahan sebagai driver terbesar pertumbuhan masih tumbuh positif sebesar 4,01 persen (yoy).

Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan serta akomodasi dan makan minum tumbuh tinggi, masing-masing 21,27 persen dan 9,76 persen. Didorong oleh pelonggaran syarat perjalanan dan momen Hari Raya Idul Fitri. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah masih tumbuh positif dan ketimpangan ekonomi antarwilayah semakin berkurang.

Pertumbuhan diperkirakan masih akan berlanjut tercermin dari kinerja positif berbagai leading indicator ekonomi. Indeks kepercayaan konsumen di angka baik, yaitu 128,2 dan penjualan ritel terus tumbuh yaitu 15,42.

Sementara itu, prospek permintaan yang terus meningkat menjadi insentif bagi industri untuk meningkatkan produksi, tercermin dari purchasing manager index (PMI) yang terus tercatat mengalami ekspansi di level yang semakin kuat.

Di tengah ketidakpastian global, indikator sektor eksternal Indonesia relatif baik dan terkendali. Tercermin dari transaksi berjalan yang masih surplus, neraca perdagangan yang surplus selama 26 bulan berturut-turut, cadangan devisa tetap tinggi per Juli 2022 untuk membiayai 6,2 bulan impor, dan rasio utang masih berada pada level yang aman.

“Ekspor yang selalu menjadi andalan kita pada masa pandemi Covid-19. Ekspor ini terus tumbuh,” kata Airlangga.

Pemulihan dunia usaha juga semakin terlihat dengan pertumbuhan kredit yang terus meningkat mencapai 10,7 persen (yoy) per Juni 2022 dengan tingkat NPL terjaga di bawah 3 persen. Kredit modal kerja meningkat seiring peningkatan utilitas, serta kredit investasi mulai terakselerasi.

Sejalan dengan pertumbuhan kredit, realisasi KUR per Juli mencapai Rp 209,05 triliun (56,02 persen dari target 2022 sebesar Rp 373,17 triliun). Diberikan kepada 4,40 juta debitur. Sedangkan total outstanding per 31 Juli 2022 sebesar Rp 530 triliun. Dari segi kesejahteraan, tingkat kemiskinan dan pengangguran juga menurun.

Memerhatikan perkembangan ekonomi sampai triwulan II 2022 dan prospek ke depan yang masih kuat, Airlangga menegaskan, pemerintah optimistis target ekonomi Indonesia secara keseluruhan sebesar 5,2 persen dapat tercapai. Agar pencapaian target pertumbuhan ekonomi dapat terwujud, pemerintah konsisten menjalankan berbagai strategi dan kebijakan utama untuk mendorong akselerasi pemulihan dan meningkatkan resiliensi ekonomi.

Strategi dan kebijakan utama tersebut antara lain pelonggaran mobilitas masyarakat dan mempersiapkan strategi transisi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat dari era pandemi menuju era new-normal. Mendorong daya beli masyarakat untuk kelompok 40 persen terbawah. Di antaranya melalui program PEN pada klaster perlindungan sosial yang dianggarkan sebesar R p63,7 triliun untuk bantuan PKH, BLT Minyak goreng, BLT Desa, BTPKLWN, dan Kartu Prakerja.

Selain itu, pemerintah juga menyusun langkah-langkah responsif untuk menahan kenaikan harga pangan dan energi dengan penambahan subsidi. Program Kartu Prakerja juga terus didorong meningkatkan kompetensi, produktivitas, dan daya saing angkatan kerja.

Pemerintah juga mendorong pengembangan UMKM. Di antaranya melalui peningkatan plafon KUR sebesar Rp 373,17 triliun pada 2022 dan menyukseskan program Bangga Buatan Indonesia (BBI), serta melanjutkan program Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk pembangunan infrastruktur yang dapat memberikan efek pengganda besar.

Berbagai langkah kebijakan dan reformasi struktural tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas.

“Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan sebesar 5,2 persen pada tahun 2022 dapat tercapai,” pungkas Menko Airlangga. (ltg/fsr/hls)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/