alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Mendag Dorong Kerja Sama Ekonomi Digital ASEAN-AS demi Pemberdayaan UMKM

WASHINGTON DC– Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mendorong kerja sama ekonomi digital ASEAN-Amerika Serikat (AS), khususnya dalam pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pembahasan ini dilakukan ketika pertemuan bilateral dengan Duta Besar United States Trade Representative (USTR) Katherine Tai di Washington DC, AS pada Rabu (11/5) lalu.

Pertemuan dilakukan di sela rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus ASEAN-Amerika
Serikat pada 11—13 Mei 2022.

Mendag Lutfi menyampaikan, elemen ekonomi digital menjadi isu yang sangat signifikan dalam
menavigasi pemulihan arus perdagangan di kawasan. Namun, platform lintas batas ini memiliki
tantangan tersendiri yang dapat memberikan tekanan cukup kuat bagi para pelaku usaha mikro,
kecil, dan menengah (UMKM).

Hal ini mengingat dinamika perdagangan internasional yang
kontraproduktif dengan pertumbuhan ekonomi dalam dua tahun terakhir. Misalnya, pandemi
Covid-19, distorsi terhadap rantai pasok global dan regional, eskalasi konflik Rusia dan Ukraina,
hingga melemahnya kepercayaan dunia terhadap sistem perdagangan multilateral.

“Untuk itu, perlu kerja sama seluruh negara dalam menghentikan upaya-upaya kapitalisme modern
yang saat ini berkembang di platform digital,” tegas Mendag Lutfi.

Pada pertemuan tersebut, Mendag Lutfi juga menyampaikan rencana pelaksanaan Pertemuan
Khusus ASEAN Economic Ministers (AEM) pada 18 Mei 2022 di Bali.

Sementera Duta Besar Katherine Tai menyampaikan, program Amerika Serikat dalam pembangunan
ekonomi di kawasan Indo-Pasifik dan Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki
pengaruh cukup signifikan di kawasan Asia Tenggara.

Menurutnya, agenda Pemerintah Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik adalah melalui perwujudan Indo-Pacific Economic Framework (IPEF)
yang memiliki fleksibilitas dan terdiri atas empat pilar utama yang saling terkait. Keempat pilar
tersebut yaitu Fair and Resilient Trade, Supply Chain Resilience, Infrastructure, Clean Energy dan
Decarbonization; dan Tax and Anti-Corruption.

Lebih lanjut, Duta Besar Katherine Tai menitikberatkan penjelasan IPEF pada pilar Fair and Resilient
Trade yang mencakup penyusunan prinsip-prinsip, aturan, standar, kolaborasi terkait ekonomi
digital yang dewasa ini menimbulkan tantangan serta oportunitas tersendiri.

Duta Besar Katherine Tai menegaskan, Pemerintah AS berupaya membangun suatu keterikatan
yang didukung oleh sektor bisnis di kawasan melalui pembangunan ekonomi yang semakin tangguh,
berkelanjutan, memberikan lebih banyak insentif bagi dunia usaha, dan meningkatkan inklusifitas
namun bukan sesuatu yang dipandang sebagai kebijakan anti Tiongkok.

“IPEF bukan kerangka kerja sama perdagangan tradisional dan memerlukan keterikatan yang lebih
erat dalam menciptakan inovasi kerja sama perdagangan baru dengan negara atau ekonomi baru.
Amerika Serikat sangat terbuka dalam mengembangkan sesuatu yang inovatif dan berbeda yang
mungkin akan memiliki elemen-elemen perjanjian perdagangan sebagai platform untuk
melanjutkan kolaborasi,” jelas Duta Besar Tai.

Pada pertemuan dibahas juga beberapa isu yang menjadi perhatian Indonesia dan Amerika Serikat.
Isu tersebut di antaranya tentang rokok keretek, WTO, dan beberapa isu bilateral seperti
Generalized System of Preferences (GSP), Intellectual Property Right (IPR), serta komitmen dalam
kesepakatan Indonesia-Amerika Serikat. Pada pertemuan, kedua perwakilan akan mengupayakan
pertemuan bilateral lanjutan di sela Pertemuan Asia Pacific Economic Cooperation Ministers
Responsible for Trade APEC-MRT atau Pertemuan the Twelfth WTO Ministerial Conference (MC-12)
mendatang. (*/WA)

WASHINGTON DC– Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mendorong kerja sama ekonomi digital ASEAN-Amerika Serikat (AS), khususnya dalam pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pembahasan ini dilakukan ketika pertemuan bilateral dengan Duta Besar United States Trade Representative (USTR) Katherine Tai di Washington DC, AS pada Rabu (11/5) lalu.

Pertemuan dilakukan di sela rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus ASEAN-Amerika
Serikat pada 11—13 Mei 2022.

Mendag Lutfi menyampaikan, elemen ekonomi digital menjadi isu yang sangat signifikan dalam
menavigasi pemulihan arus perdagangan di kawasan. Namun, platform lintas batas ini memiliki
tantangan tersendiri yang dapat memberikan tekanan cukup kuat bagi para pelaku usaha mikro,
kecil, dan menengah (UMKM).

Hal ini mengingat dinamika perdagangan internasional yang
kontraproduktif dengan pertumbuhan ekonomi dalam dua tahun terakhir. Misalnya, pandemi
Covid-19, distorsi terhadap rantai pasok global dan regional, eskalasi konflik Rusia dan Ukraina,
hingga melemahnya kepercayaan dunia terhadap sistem perdagangan multilateral.

“Untuk itu, perlu kerja sama seluruh negara dalam menghentikan upaya-upaya kapitalisme modern
yang saat ini berkembang di platform digital,” tegas Mendag Lutfi.

Pada pertemuan tersebut, Mendag Lutfi juga menyampaikan rencana pelaksanaan Pertemuan
Khusus ASEAN Economic Ministers (AEM) pada 18 Mei 2022 di Bali.

Sementera Duta Besar Katherine Tai menyampaikan, program Amerika Serikat dalam pembangunan
ekonomi di kawasan Indo-Pasifik dan Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki
pengaruh cukup signifikan di kawasan Asia Tenggara.

Menurutnya, agenda Pemerintah Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik adalah melalui perwujudan Indo-Pacific Economic Framework (IPEF)
yang memiliki fleksibilitas dan terdiri atas empat pilar utama yang saling terkait. Keempat pilar
tersebut yaitu Fair and Resilient Trade, Supply Chain Resilience, Infrastructure, Clean Energy dan
Decarbonization; dan Tax and Anti-Corruption.

Lebih lanjut, Duta Besar Katherine Tai menitikberatkan penjelasan IPEF pada pilar Fair and Resilient
Trade yang mencakup penyusunan prinsip-prinsip, aturan, standar, kolaborasi terkait ekonomi
digital yang dewasa ini menimbulkan tantangan serta oportunitas tersendiri.

Duta Besar Katherine Tai menegaskan, Pemerintah AS berupaya membangun suatu keterikatan
yang didukung oleh sektor bisnis di kawasan melalui pembangunan ekonomi yang semakin tangguh,
berkelanjutan, memberikan lebih banyak insentif bagi dunia usaha, dan meningkatkan inklusifitas
namun bukan sesuatu yang dipandang sebagai kebijakan anti Tiongkok.

“IPEF bukan kerangka kerja sama perdagangan tradisional dan memerlukan keterikatan yang lebih
erat dalam menciptakan inovasi kerja sama perdagangan baru dengan negara atau ekonomi baru.
Amerika Serikat sangat terbuka dalam mengembangkan sesuatu yang inovatif dan berbeda yang
mungkin akan memiliki elemen-elemen perjanjian perdagangan sebagai platform untuk
melanjutkan kolaborasi,” jelas Duta Besar Tai.

Pada pertemuan dibahas juga beberapa isu yang menjadi perhatian Indonesia dan Amerika Serikat.
Isu tersebut di antaranya tentang rokok keretek, WTO, dan beberapa isu bilateral seperti
Generalized System of Preferences (GSP), Intellectual Property Right (IPR), serta komitmen dalam
kesepakatan Indonesia-Amerika Serikat. Pada pertemuan, kedua perwakilan akan mengupayakan
pertemuan bilateral lanjutan di sela Pertemuan Asia Pacific Economic Cooperation Ministers
Responsible for Trade APEC-MRT atau Pertemuan the Twelfth WTO Ministerial Conference (MC-12)
mendatang. (*/WA)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/