alexametrics
23.4 C
Surakarta
Thursday, 7 July 2022

Cegah Stunting, Jaga Sanitasi dan Nutrisi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan

RADARSOLO.ID – Kunci sukses penurunan angka prevalensi stunting harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Oleh karena itu, penerapan perilaku bersih dan sehat terutama untuk generasi muda yang siap untuk menikah menjadi prioritas. Perilaku penting yang harus dilakukan adalah menjaga sanitasi dan asupan nutrisi.

Hal itu disampaikan Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Wiryanta dalam diseminasi informasi dan edukasi percepatan penurunan stunting bertajuk Kepoin Genbest: Cegah Stunting, Terapkan Nutrisi dan Sanitasi yang Cling! yang digelar di Kota Salatiga, Kamis (16/6).

Menurut Wiryanta, program pencegahan dan penurunan angka prevalensi stunting harus terus dilaksanakan untuk menyiapkan generasi unggul, memiliki kompetensi dan keterampilan yang tinggi. Termasuk punya kepribadian yang menjunjung jati diri bangsa.

“Untuk itu, kita harus selalu peduli terhadap lingkungan, termasuk budaya di tengah masyarakat yang perlu kita gugah agar bisa turut membantu cegah stunting,” jelasnya.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian penting mengingat hasil sensus penduduk pada 2020, penduduk didominasi oleh generasi Z dengan jumlah mencapai 27,9 persen dari total seluruh populasi penduduk di Indonesia. Disusul dengan generasi milenial sebesar 25,8 persen.

“Pada tahun 2030 kita ketiban bonus demografi kelompok usia produktif yang masuk ke dalam angkatan kerja. Kelompok yang tingkat produktivitasnya tinggi,” papar Wiryanta dalam.

Dengan suksesnya penurunan angka stunting, lanjut dia, harapan Indonesia menjadi negara maju dan menjadi lima besar produk domestik bruto (PDB) dunia pada 2045 mungkin terwujud.

Para narasumber diseminasi informasi dan edukasi percepatan penurunan stunting bertajuk Kepoin Genbest: Cegah Stunting, Terapkan Nutrisi dan Sanitasi yang Cling! yang digelar di Kota Salatiga, Kamis (16/6).

Sementara itu, dokter Gia Pratama, narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan, 1.000 hari pertama adalah waktu yang krusial. Di mana kehidupan dimulai dari kehamilan hingga 2 tahun setelah kelahiran.

“Diagnosis stunting hanya bisa ditegakkan saat anak berusia 2 tahun. Kita punya waktu 1.000 hari perjuangan agar pada saat anak berusia 2 tahun berat badannya cukup dan tinggi badannya cukup,” ungkap Gia.

Lebih lanjut dijelaskan dia, ada skala prioritas dalam pembangunan tubuh. Pembangunan organ dalam menjadi prioritas pertama. Kedua adalah pertumbuhan. Ketiga adalah pembangunan intelegensia atau kecerdasan. Sehingga ketika nutrisi yang masuk tidak mencukupi untuk prioritas pertumbuhan dan kecerdasan, maka akan sangat mengganggu ekonomi negara ke depannya.

“Kita akan dapat bonus demografi di tahun 2030, kalau angka stuntingnya di bawah 14 persen bahkan 0 persen. Itu akan jadi bonus demografi luar biasa buat negara. Namun jika sebaliknya, bukan bonus demografi namanya, tetapi beban demografi,” tegas Gia.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Wahyu Setianingsih mengatakan, kualitas sanitasi menjadi penting, tidak hanya dalam pencegahan stunting tapi juga untuk kesehatan secara umum.

“Kalau sanitasi kita tidak baik, tidak cling, tangan kotor, masih buang air besar sembarangan, tentu kuman akan gampang masuk ke tubuh melalui mulut. Itu akan menyebabkan diare sehingga tubuh tidak sempat lagi menyerap gizi yang kita makan,” jelas Wahyu.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini tengah memperjuangkan agar masyarakat tidak buang air besar sembarangan. Sebanyak 25 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah sudah mendeklarasikan seluruh warganya stop buang air besar sembarangan.

Sebagai informasi, Forum Kepoin GenBest yang diadakan kali ini merupakan bagian dari kampanye GenBest (Generasi Bersih dan Sehat). Merupakan inisiasi Kemenkominfo untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting. GenBest mendorong masyarakat, khususnya generasi muda agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat di kehidupan sehari-hari. Melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid, GenBest juga menyediakan berbagai informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, sanitasi, siap nikah, maupun reproduksi remaja dalam bentuk artikel, infografik, serta videografik. (*/ria)

 

RADARSOLO.ID – Kunci sukses penurunan angka prevalensi stunting harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Oleh karena itu, penerapan perilaku bersih dan sehat terutama untuk generasi muda yang siap untuk menikah menjadi prioritas. Perilaku penting yang harus dilakukan adalah menjaga sanitasi dan asupan nutrisi.

Hal itu disampaikan Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Wiryanta dalam diseminasi informasi dan edukasi percepatan penurunan stunting bertajuk Kepoin Genbest: Cegah Stunting, Terapkan Nutrisi dan Sanitasi yang Cling! yang digelar di Kota Salatiga, Kamis (16/6).

Menurut Wiryanta, program pencegahan dan penurunan angka prevalensi stunting harus terus dilaksanakan untuk menyiapkan generasi unggul, memiliki kompetensi dan keterampilan yang tinggi. Termasuk punya kepribadian yang menjunjung jati diri bangsa.

“Untuk itu, kita harus selalu peduli terhadap lingkungan, termasuk budaya di tengah masyarakat yang perlu kita gugah agar bisa turut membantu cegah stunting,” jelasnya.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian penting mengingat hasil sensus penduduk pada 2020, penduduk didominasi oleh generasi Z dengan jumlah mencapai 27,9 persen dari total seluruh populasi penduduk di Indonesia. Disusul dengan generasi milenial sebesar 25,8 persen.

“Pada tahun 2030 kita ketiban bonus demografi kelompok usia produktif yang masuk ke dalam angkatan kerja. Kelompok yang tingkat produktivitasnya tinggi,” papar Wiryanta dalam.

Dengan suksesnya penurunan angka stunting, lanjut dia, harapan Indonesia menjadi negara maju dan menjadi lima besar produk domestik bruto (PDB) dunia pada 2045 mungkin terwujud.

Para narasumber diseminasi informasi dan edukasi percepatan penurunan stunting bertajuk Kepoin Genbest: Cegah Stunting, Terapkan Nutrisi dan Sanitasi yang Cling! yang digelar di Kota Salatiga, Kamis (16/6).

Sementara itu, dokter Gia Pratama, narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan, 1.000 hari pertama adalah waktu yang krusial. Di mana kehidupan dimulai dari kehamilan hingga 2 tahun setelah kelahiran.

“Diagnosis stunting hanya bisa ditegakkan saat anak berusia 2 tahun. Kita punya waktu 1.000 hari perjuangan agar pada saat anak berusia 2 tahun berat badannya cukup dan tinggi badannya cukup,” ungkap Gia.

Lebih lanjut dijelaskan dia, ada skala prioritas dalam pembangunan tubuh. Pembangunan organ dalam menjadi prioritas pertama. Kedua adalah pertumbuhan. Ketiga adalah pembangunan intelegensia atau kecerdasan. Sehingga ketika nutrisi yang masuk tidak mencukupi untuk prioritas pertumbuhan dan kecerdasan, maka akan sangat mengganggu ekonomi negara ke depannya.

“Kita akan dapat bonus demografi di tahun 2030, kalau angka stuntingnya di bawah 14 persen bahkan 0 persen. Itu akan jadi bonus demografi luar biasa buat negara. Namun jika sebaliknya, bukan bonus demografi namanya, tetapi beban demografi,” tegas Gia.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Wahyu Setianingsih mengatakan, kualitas sanitasi menjadi penting, tidak hanya dalam pencegahan stunting tapi juga untuk kesehatan secara umum.

“Kalau sanitasi kita tidak baik, tidak cling, tangan kotor, masih buang air besar sembarangan, tentu kuman akan gampang masuk ke tubuh melalui mulut. Itu akan menyebabkan diare sehingga tubuh tidak sempat lagi menyerap gizi yang kita makan,” jelas Wahyu.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini tengah memperjuangkan agar masyarakat tidak buang air besar sembarangan. Sebanyak 25 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah sudah mendeklarasikan seluruh warganya stop buang air besar sembarangan.

Sebagai informasi, Forum Kepoin GenBest yang diadakan kali ini merupakan bagian dari kampanye GenBest (Generasi Bersih dan Sehat). Merupakan inisiasi Kemenkominfo untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting. GenBest mendorong masyarakat, khususnya generasi muda agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat di kehidupan sehari-hari. Melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid, GenBest juga menyediakan berbagai informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, sanitasi, siap nikah, maupun reproduksi remaja dalam bentuk artikel, infografik, serta videografik. (*/ria)

 

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/