Mengenal Divisi Pemanjat Greenpeace, Ujung Tombak Aksi yang Punya Risiko Tinggi

RADARSOLO.COM - Aksi aktivis Greenpeace Indonesia yang memanjat Monumen Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta, pada Selasa (20/10/2026) menarik perhatian publik.
Di balik aksi membentangkan spanduk di ketinggian, ada kemampuan teknis, persiapan keselamatan, dan komitmen terhadap aksi tanpa kekerasan.
Pengalaman seorang mantan relawan Greenpeace yang dibagikan melalui media sosial Threads turut membuka sisi lain dari aksi tersebut. Ia menyebut Greenpeace memiliki divisi pemanjat yang menjadi ujung tombak dalam sejumlah aksi langsung.
Baca Juga: Demo Hari Ini di Jakarta, Aksi 2 Tahun Prabowo-Gibran Berpotensi Picu Macet, Ini Rute Alternatif
Menurut kesaksiannya, anggota divisi tersebut memahami teknik rope access atau akses menggunakan tali untuk menjangkau lokasi tinggi. Mereka juga memperhatikan perlengkapan keselamatan, seperti helm dan life jacket.
Bukan Sekadar Berani Memanjat
Memanjat bangunan atau struktur tinggi untuk membentangkan spanduk bukan pekerjaan yang hanya mengandalkan keberanian. Aktivitas tersebut membutuhkan kemampuan teknis, perencanaan, dan pertimbangan risiko.
Dalam aksi di Bundaran HI, enam aktivis Greenpeace memanjat Monumen Selamat Datang untuk membentangkan spanduk berisi kritik terhadap penanganan krisis iklim. Polisi menyatakan para aktivis berhasil dievakuasi dengan selamat melalui bantuan petugas gabungan dan tim pemadam kebakaran.
Baca Juga: Demo Ricuh Meluas di Prancis dan Italia, Bagaimana Kondisi WNI di Sana? Ini Update Terbaru Kemlu
Teknik yang digunakan dalam aksi tersebut berkaitan dengan Single Rope Technique (SRT), yaitu metode bergerak naik atau turun menggunakan tali pada medan vertikal.
Meski demikian, pengalaman seorang mantan relawan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh anggota atau tim Greenpeace di berbagai negara memiliki pelatihan dan prosedur yang sama.
Keselamatan Jadi Bagian Penting Aksi
Aksi di ketinggian memiliki risiko, sehingga persiapan keselamatan menjadi hal penting. Perlengkapan seperti helm dan alat pengaman yang sesuai digunakan untuk mengurangi risiko cedera. Penggunaan perlengkapan tertentu juga bergantung pada karakteristik lokasi dan kebutuhan aksi.



