RESTORASI Yamaha Byson keluaran 2010 ini dipercayakan pada Danang Suryadi. Builder pemilik Independent Garasi di Jalan Tamtaman IV, Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo. Perombakan motor yang oleh empunya dinamai Bysoneser ini hampir menyeluruh.
Supaya kesan Scrambler melekat, fokus ubahan ada pada rangka, desain knalpot, suspensi termasuk kaki-kaki. Biar nyaman digeber di jalanan bertekstur tanah maupun aspal. Artinya enak di segala medan.
Inilah alasan Danang gunakan ban tipe knobbly atau sering disebut ban tahu. Ciri khas lainnya, yakni knalpot. Dibuat melengkung ke atas dan sejajar dengan bagian bawah jok. Mereduksi kebisingan, knalpot dijejali desibel (dB) killer.
“Rangka belakang pakai plat besi 0,2 mm. Knalpot juga bikinan sendiri di bengkel,” ungkap Danang.
Umumnya, Scrambler di bagian kaki-kaki memanfaatkan velg jari-jari. Lebih lentur ketika melahap medan tanah dan jalan berbatu. Velg orisinal dan suspensi depan bawaan Byson tetap dipertahankan. Hanya saja, shock belakang diubah dari mono jadi dual.
“Ban pakai Swallow SB. Ban depan ukuran 110, belakang 130. Cat saya pilih model Ducati,” imbuh Danang.
Aliran yang dianut Bysoneser menyasar Scrambler modern. Terlihat dari penggunaan stoplamp besutan Agrass. Sedangkan headlamp pakai Daymaker 16 LED. Termasuk pemasangan spion Rizoma bulat model Jokowi.
“Saya usul ke Aji yang punya motor, headlamp diberi cover kotak-kotak. Biar kesannya beda dengan yang lain. Eh, dianya mau,” koar Danang.
Pengerjaan Bysoneser bergaya Scrambler ini butuh waktu sekitar tiga bulan. Aji harus merogoh kocek sekitar Rp 8,5 juta. “Puas. Warnanya oke dan simpel. Saya tidak tahu kalau warnanya mirip motor Ducati,” sambung Aji. (ryn/fer) Editor : Perdana Bayu Saputra