RADARSOLO.COM – Unggahan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) soal potensi gempa megathrust kembali jadi bahan perbincangan panas di media sosial.
Melalui akun resmi @infoBMKG di platform X (Twitter), lembaga tersebut membahas istilah “megathrust tinggal menunggu waktu” pada Senin (10/11/2025).
Postingan itu langsung diserbu komentar bernada kritik dan pertanyaan tajam dari netizen.
Dalam unggahannya, BMKG menuliskan tentang pertanyaan yang banyak muncul belakangan ini terkait "megathrust tinggal menunggu waktu."
"Megathrust tinggal menunggu waktu??? apa sebenarnya artinya? Dan bener gak sih Indonesia rawan gempa besar?" tulis BMKG.
BMKG kemudian menjelaskan bahwa Indonesia memang berada di zona megathrust, yakni kawasan pertemuan antar lempeng tektonik yang menyimpan energi besar di bawah permukaan bumi.
Jika energi ini dilepaskan, gempa besar hingga tsunami bisa saja terjadi.
“Kalau energi ini lepas, bisa timbul gempa besar, bahkan tsunami. Tapi apakah bisa diprediksi kapan terjadinya?” tulis BMKG.
Menurut penjelasan lembaga tersebut, megathrust adalah hasil dari proses dua lempeng tektonik yang bertumbukan, di mana satu lempeng menyusup ke bawah lempeng lain.
Penumpukan energi yang terjadi selama puluhan hingga ratusan tahun inilah yang bisa memicu gempa raksasa ketika dilepaskan, bahkan tsunami.
BMKG juga menyinggung sejarah aktivitas megathrust di Indonesia.
Segmen megathrust Selat Sunda terakhir kali melepaskan energi besar pada tahun 1757, sedangkan segmen Mentawai-Siberut belum menunjukkan aktivitas besar sejak 1797.
Apa Arti Megathrust Tinggal Tunggu Waktu?
Mengetahui banyaknya salah tafsir di masyarakat, BMKG menegaskan bahwa istilah “tinggal menunggu waktu” bukan berarti bencana besar akan segera datang, melainkan bentuk peringatan ilmiah berbasis sejarah dan geologi.
“Istilah ilmiah ini digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi, bukan untuk menimbulkan kepanikan,” terang BMKG.
Lembaga yang kini dipimpin Teuku Faisal Fathani itu juga mengimbau masyarakat agar lebih siap secara struktural dan mental.
Di antaranya dengan memastikan rumah dibangun menggunakan material tahan gempa, serta memahami langkah evakuasi ketika guncangan terjadi.
Unggahan Digeruduk Netizen
Tak lama setelah unggahan tersebut tayang, kolom komentar @infoBMKG langsung dibanjiri ribuan reaksi netizen.
Banyak netizen mengaku masih bingung dengan istilah megathrust dan menuntut penjelasan yang lebih sederhana dan solutif, bukan sekadar imbauan.
Beberapa bahkan menyampaikan kekhawatiran, menilai BMKG seharusnya tidak hanya mengingatkan, tapi juga menunjukkan kesiapan pemerintah dalam mitigasi bencana.
Termasuk menyinggung edukasi panduan keselamatan kepada masyarakat yang dinilai masih minim.
"Prediksi ada, peringatan² ada, edukasi ada, tapi pemerintah ada gak sih upayanya buat menghadapi hal ini? Misal bunker, atau apalah gitu. Jangan cuma buat plang "jalur evakuasi" aja. Tapi abis dari situ ke mana lagi dan gimana lagi ga tau," komen @myu*****.
"Min, instruksinya terlalu sederhana utk potensi bencana sebesar itu. Perlu lbh detail lagi apa persiapan warga. Dan apa yg sudah pemerintah lakukan sbg upaya mitigasi. Kl cuma gembar gembor doang percuma," tulis @Nar*****.
"Harusnya diposting juga mitigasi bencananya untuk warga seperti apa, apa yg harus dilakukan warga jika itu terjadi, pelatihan2 di sekolah, di masyarakat untuk kesiapsiagaan bencana megathrust. Dari dulu dicekokin megathrust tapi gak pernah sosialisasi kesiapsiagaan masyarakat," kata @ren*****. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria