RADARSOLO.COM- Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto mendorong Pemprov untuk menjadikan pembangunan sektor pertanian sebagai prioritas utama dalam APBD 2026.
Prioritas ini sejalan dengan visi misi Gubernur, yaitu menjadikan wilayah Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.
Sumanto menegaskan bahwa sektor pangan adalah penopang utama kehidupan masyarakat, sebagaimana pesan bersejarah dari Presiden Soekarno yang menyatakan, "Pangan adalah soal hidup matinya suatu bangsa."
"Meski ada pemangkasan dana transfer daerah dari pemerintah pusat dan akan berakibat ada sektor yang anggarannya belum maksimal, kami berharap sektor pertanian dan peternakan yang menjadi penyokong visi-misi lumbung pangan nasional bisa tetap maksimal," katanya, belum lama ini.
Persoalan Mendasar dan Tiga Komponen Strategis
Mantan ketua DPRD Karanganyar tersebut mengungkapkan, berbagai program pertanian pemerintah belum berjalan optimal karena masih adanya sejumlah persoalan mendasar di lapangan.
Masalah-masalah yang disoroti antara lain:
- Distribusi: Penyediaan bibit unggul dan pupuk bersubsidi yang belum merata.
- Teknologi: Pemanfaatan teknologi tepat guna dan inovasi pertanian belum maksimal, serta minimnya pendampingan teknologi.
- Biaya & Harga: Biaya operasional yang membebani petani dan harga jual komoditas pertanian yang belum stabil.
Politisi PDI Perjuangan ini menyebutkan tiga komponen strategis yang harus diperkuat pemerintah dalam pembangunan sektor pertanian.
Yakni petani, penyuluh pertanian, dan lembaga ekonomi pedesaan (seperti koperasi dan lembaga keuangan mikro).
Tantangan Alih Fungsi Lahan dan Krisis Regenerasi
Sumanto juga menyoroti dua masalah klasik yang masih dihadapi: maraknya alih fungsi lahan pertanian dan krisis regenerasi petani.
Meskipun alih fungsi lahan dianggap sebagai bagian dari perkembangan zaman, Sumanto berpesan agar para petani tidak mudah tergiur dengan iming-iming harga tinggi.
"Kalau dapat warisan sawah jangan dijual meskipun ada iming-iming harga miliaran. Kalau dijual, warisannya akan habis. Dibelikan mobil baru, semakin lama nilainya menyusut," paparnya.
Tantangan regenerasi petani juga sangat berat. Dalam program Temu Tani, Sumanto menemukan bahwa petani yang paling muda rata-rata berusia 50 tahun.
Ia menegaskan, hal ini harus dicarikan solusi agar bertani menjadi pekerjaan yang menguntungkan sehingga anak muda tertarik. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono