RADARSOLO.COM – Nama Nurul Akmal selama ini dikenal sebagai salah satu lifter terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Atlet angkat besi asal Aceh itu berkali-kali mengharumkan nama bangsa di ajang nasional hingga internasional.
Namun, di balik deretan prestasi gemilangnya, nasib karier kepegawaiannya justru menuai sorotan.
Nurul Akmal tercatat sebagai salah satu dari 5.486 tenaga kontrak Pemerintah Aceh yang menerima Surat Keputusan (SK) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.
Penyerahan SK dilakukan langsung oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Kamis (29/1/2026) sore.
Bersyukur, Namun Menyimpan Kekecewaan
Meski menerima SK tersebut, Nurul Akmal tidak menutupi rasa kecewanya.
Ia mengaku bersyukur tetap mendapat pengangkatan.
Sejak lama dia sebenarnya berharap status bisa menjadi ASN penuh atau pegawai tetap, mengingat kontribusi dan prestasinya bagi Indonesia maupun Provinsi Aceh.
“Keinginan itu pasti ada. Tapi kembali lagi ke Pemerintah Aceh. Sudah beberapa kali disuarakan, tapi belum ada hasil,” ujar Nurul, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Nurul, upaya mempertanyakan kepastian status kepegawaiannya sudah dilakukan sejak jauh hari.
Namun hingga kini, belum ada keputusan yang sesuai harapannya.
“Cuma kecewa saja. Kok bisa begini. Sudah sering mempertanyakan, tapi seperti tidak ada jalan. Padahal ini untuk saya pribadi, bukan untuk banyak orang,” ungkapnya.
Merasa Tak Seimbang dengan Prestasi
Nurul Akmal menilai perlakuan yang diterimanya belum sebanding dengan pencapaiannya di dunia olahraga.
Ia menegaskan telah mempersembahkan prestasi besar, termasuk medali emas angkat besi untuk Aceh di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Kayak enggak adil saja sih. Cuma mau bagaimana lagi. Takutnya nanti enggak dapat apa-apa kalau banyak kali protes dan menuntut," kata Nurul.
"Banyak juga yang tidak menerima status PPPK paruh waktu, apalagi saya," imbuh dia.
Ia mengaku telah berharap Pemerintah Aceh bisa memperjuangkan statusnya ke pemerintah pusat melalui kementerian terkait.
Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
“Saya benar-benar membawa nama Aceh. Tapi ya mau tidak mau belajar menerima, daripada tidak dapat apa-apa sama sekali,” tutur Nurul.
Profil Singkat Nurul Akmal
Nurul Akmal lahir pada 12 Februari 1993.
Ia merupakan atlet angkat besi putri kelas berat yang konsisten tampil di level elite.
Namanya mulai dikenal luas sejak tampil di berbagai kejuaraan internasional.
Pada Pesta Olahraga Solidaritas Islam 2017 di Baku, Azerbaijan, Nurul meraih medali perak kelas +90 kg putri.
Di tahun yang sama, ia finis di peringkat keenam Universiade Musim Panas 2017 di Taipei, Taiwan.
Nurul kemudian mewakili Indonesia di Asian Games 2018 Jakarta–Palembang, turun di kelas +75 kg putri dan kembali menempati peringkat keenam.
Deretan Prestasi Nasional dan Internasional
Karier Nurul Akmal terus menanjak. Pada Qatar Cup 2019 di Doha, ia sukses menyabet medali perunggu kelas +87 kg.
Puncaknya terjadi di PON Papua 2021, saat Nurul mempersembahkan medali emas untuk Aceh sekaligus memecahkan rekor nasional.
Di PON Papua, Nurul mencatat total angkatan 258 kg, dengan rincian 116 kg snatch dan 142 kg clean and jerk.
Angkatan snatch tersebut memecahkan rekor nasional, melampaui catatan sebelumnya sebesar 113 kg.
Keberhasilan ini melengkapi raihan emas sebelumnya di PON Jawa Barat 2016, menjadikan Nurul sebagai salah satu lifter paling konsisten di level nasional.
Selain itu, Nurul juga tampil di Olimpiade Tokyo, memperkuat statusnya sebagai atlet elite Indonesia.
Daftar Prestasi Nurul Akmal
Beberapa pencapaian penting Nurul Akmal antara lain:
Medali Perunggu Kejurnas 2010 Yogyakarta
Medali Perak Solidaritas Islam 2017, Baku
Peringkat 6 Universiade 2017, Taipei
Peringkat 6 Asian Games 2018, Jakarta–Palembang
Medali Perunggu Solidaritas Islam 2021, Konya
Tiga Medali Emas Kejurnas 2018 Bandung
Medali Perunggu Qatar Cup 2019, Doha
Medali Emas PON Papua 2021
Atas dedikasi dan konsistensinya, Nurul Akmal juga menerima penghargaan Tokoh Inspirasi dari Guardian Indonesia. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria