alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Budaya Pengingat untuk Berhati-Hati 

Oleh Prof Bani Sudardi, Guru Besar Filologi UNS

TRADISI menghitung hari sudah berlaku turun-temurun sejak abad ke 6 masehi. Budaya menghitung sang’ad sudah ada sejak zaman Jawa kuna. Hal tersebut bisa dilihat dari prasasti -prasasti yang telah menyebut mengenai hari, pasaran, tanggal dan lainnya. Bukan sebagai ramalan, penanggalan Jawa ini menjadi pengingat untuk berhati-hati dalam bertingkah laku.

Penanggalan Jawa Kuna ini juga memuat Wuku, perhitungan putaran waktu yang terdiri dari 210 hari. Dalam satu wuku terdapat 30 wuku dengan tiap putaran waktu selama satu minggu.

Bisa dilihat di dalam prasasti-prasasti sudah disebutkan hari pasaran, tanggal dan lainnya. Yang masih menjadi fosil tanggalan Jawa seperti pasaran. Yakni Pon, Wage, Kliwon, Pahing dan Legi. Lalu ada juga wuku atau semacam perhitungan putaran waktu menurut tradisi Jawa yang terdiri dari 210 hari. Di dalam wuku ada 30 wuku yang lama tiap putaran wuku lamanya satu minggu.

Pada masa tersebut, sudah ada perhitungan posisi bintang, waktu dan sebagainya. Perhitungan waktu dalam penangalan Jawa kuna ini terus berlanjut hingga kini. Ada tiga suku besar yang masih menggunakan tradisi ini, yakni Bali, Jawa dan Sunda. Ada juga buku Almanak Mahadewa. Berupa kumpulan tanggal-tanggal yang komplit dan tertulis. Memudahkan mencari jatuhnya hari, tanggal dan pasarannya.

Penghitungan waktu ini bukan semacam ramalan, namun, lebih pada kepercayaan. Dalam tradisi Jawa ada satu kepercayaan terhadap hari. Satu kepercayaan terhadap pribadi, yakni hubungan dengan keluarga. Misalnya, hari kematian orang tua, saudara ataupun keluarga. Menjadi hari duka cita dan tidak baik melakukan kegiatan.

Kemudian ada juga kepercayaan yang bersifat umum. Berupa hari-hari pakem uang dipercaya yang tidak membawa keberuntungan dan harus dihindari. Dalam penanggalan Jawa, ada empat hari yang dianggap buruk. Pertama, hari Tali Wangke atau hari tali bangkai. Hari yang membawa kematian. Salah satunya dalam Wuku Wari Galit jatuh pada Kamis Pon.

Kedua, hari Sampar Wangke yang tingkatnya lebih berat. Artinya menemukan bangkai atau apesing dalmo atau nahasnya manusia. Contohnya pada Senin Pahing dalam Wuku Wangkir. Ketika melakukan kegiatan dihari itu, sama saja menemukan bangkai. Hasilnya tidak akan baik. Lalu ada juga sangaring dino/sangaring tahun dan hari nahas. Hari-hari nahas tersebut bukan menjadi ramalan yang harus ditakuti. Namun, lebih pada kepercayaan untuk mawas diri.

Di sisi lain, ada juga hari baik. Yakni dengan hitungan berdasarkan pasaran, hari, maupun keduanya. Ada pakem-pakem tertentu dalam hitungan gabungan dari hari dan pasaran yang disebut neptu. Seperti Ahad nilainya 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6 dan Sabtu 9. Pasaran Kliwon 8, Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4.

Misalnya hari ini, 18 April itu hari Senin Pon. Senin nilainya 4 dan Pon 7, maka ketemu 11. Maka hitungan 11, misalnýa mau menikah hari itu masuk dino kagungane ratu (hari kepunyaan raja, Red) maka itu harus dihindari. Karena biasanya kalau digunakan untuk kegiatan diganggi dengan demit. Maksud dan tujuannya akan tidak tercapai.

Lantas, masih relevankah dengan masa sekarang? Penggunaan perhitungan hari itu berlaku pada zamannya. Karena masyarakat zaman dulu termasuk masyarakat agraris dengan perencanaan waktu sangat longgar. Saat menggelar hajatan akan digantungkan pada saat mau panen. Kalaupun mundur juga tidak masalah.

Namun, berbeda dengan masyarakat modern saat ini. Perhitungan hari baik justru akan menghambat pelaksanaan program-program. Kalau menunggu hari baik bisa sudah dan kondisinya berbeda. Tetapi kalau ada masyarakat yang mau menggelar hajatan besar, seperti sunat, menikah maupun bangun rumah tidak di larang.

Perhitungan ini termasuk data empiris yang sudah diwariskan nenek moyang. Meskipun tidak ada deskripsi. Tapi ada penelitian dalam tradisi Jawa, pria dan wanita menikah dengan pasaran Wage dan Pahing atau Gehing. Ternyata hasil penelitian, pasangan tersebut banyak bertengkar. Sering juga digunakan untuk menentukan karakter seseorang.

Perhitungan ini juga menjadi pengingat. Misal ada orang yang lahir dengan hitungan 11, dikurangi 9 menjadi nilainya 3. Hari dari perhitungan 3 merupakan hari jaglur atau macan. Itu disebut gede cilakane dan sugih satru artinya banyak celakanya dan banyak musuh. Hal seperti ini sebenarnya menjadi pengingat, untuk banyak hati-hati termasuk pergaulan. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Ragil Listiyo)

Oleh Prof Bani Sudardi, Guru Besar Filologi UNS

TRADISI menghitung hari sudah berlaku turun-temurun sejak abad ke 6 masehi. Budaya menghitung sang’ad sudah ada sejak zaman Jawa kuna. Hal tersebut bisa dilihat dari prasasti -prasasti yang telah menyebut mengenai hari, pasaran, tanggal dan lainnya. Bukan sebagai ramalan, penanggalan Jawa ini menjadi pengingat untuk berhati-hati dalam bertingkah laku.

Penanggalan Jawa Kuna ini juga memuat Wuku, perhitungan putaran waktu yang terdiri dari 210 hari. Dalam satu wuku terdapat 30 wuku dengan tiap putaran waktu selama satu minggu.

Bisa dilihat di dalam prasasti-prasasti sudah disebutkan hari pasaran, tanggal dan lainnya. Yang masih menjadi fosil tanggalan Jawa seperti pasaran. Yakni Pon, Wage, Kliwon, Pahing dan Legi. Lalu ada juga wuku atau semacam perhitungan putaran waktu menurut tradisi Jawa yang terdiri dari 210 hari. Di dalam wuku ada 30 wuku yang lama tiap putaran wuku lamanya satu minggu.

Pada masa tersebut, sudah ada perhitungan posisi bintang, waktu dan sebagainya. Perhitungan waktu dalam penangalan Jawa kuna ini terus berlanjut hingga kini. Ada tiga suku besar yang masih menggunakan tradisi ini, yakni Bali, Jawa dan Sunda. Ada juga buku Almanak Mahadewa. Berupa kumpulan tanggal-tanggal yang komplit dan tertulis. Memudahkan mencari jatuhnya hari, tanggal dan pasarannya.

Penghitungan waktu ini bukan semacam ramalan, namun, lebih pada kepercayaan. Dalam tradisi Jawa ada satu kepercayaan terhadap hari. Satu kepercayaan terhadap pribadi, yakni hubungan dengan keluarga. Misalnya, hari kematian orang tua, saudara ataupun keluarga. Menjadi hari duka cita dan tidak baik melakukan kegiatan.

Kemudian ada juga kepercayaan yang bersifat umum. Berupa hari-hari pakem uang dipercaya yang tidak membawa keberuntungan dan harus dihindari. Dalam penanggalan Jawa, ada empat hari yang dianggap buruk. Pertama, hari Tali Wangke atau hari tali bangkai. Hari yang membawa kematian. Salah satunya dalam Wuku Wari Galit jatuh pada Kamis Pon.

Kedua, hari Sampar Wangke yang tingkatnya lebih berat. Artinya menemukan bangkai atau apesing dalmo atau nahasnya manusia. Contohnya pada Senin Pahing dalam Wuku Wangkir. Ketika melakukan kegiatan dihari itu, sama saja menemukan bangkai. Hasilnya tidak akan baik. Lalu ada juga sangaring dino/sangaring tahun dan hari nahas. Hari-hari nahas tersebut bukan menjadi ramalan yang harus ditakuti. Namun, lebih pada kepercayaan untuk mawas diri.

Di sisi lain, ada juga hari baik. Yakni dengan hitungan berdasarkan pasaran, hari, maupun keduanya. Ada pakem-pakem tertentu dalam hitungan gabungan dari hari dan pasaran yang disebut neptu. Seperti Ahad nilainya 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6 dan Sabtu 9. Pasaran Kliwon 8, Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4.

Misalnya hari ini, 18 April itu hari Senin Pon. Senin nilainya 4 dan Pon 7, maka ketemu 11. Maka hitungan 11, misalnýa mau menikah hari itu masuk dino kagungane ratu (hari kepunyaan raja, Red) maka itu harus dihindari. Karena biasanya kalau digunakan untuk kegiatan diganggi dengan demit. Maksud dan tujuannya akan tidak tercapai.

Lantas, masih relevankah dengan masa sekarang? Penggunaan perhitungan hari itu berlaku pada zamannya. Karena masyarakat zaman dulu termasuk masyarakat agraris dengan perencanaan waktu sangat longgar. Saat menggelar hajatan akan digantungkan pada saat mau panen. Kalaupun mundur juga tidak masalah.

Namun, berbeda dengan masyarakat modern saat ini. Perhitungan hari baik justru akan menghambat pelaksanaan program-program. Kalau menunggu hari baik bisa sudah dan kondisinya berbeda. Tetapi kalau ada masyarakat yang mau menggelar hajatan besar, seperti sunat, menikah maupun bangun rumah tidak di larang.

Perhitungan ini termasuk data empiris yang sudah diwariskan nenek moyang. Meskipun tidak ada deskripsi. Tapi ada penelitian dalam tradisi Jawa, pria dan wanita menikah dengan pasaran Wage dan Pahing atau Gehing. Ternyata hasil penelitian, pasangan tersebut banyak bertengkar. Sering juga digunakan untuk menentukan karakter seseorang.

Perhitungan ini juga menjadi pengingat. Misal ada orang yang lahir dengan hitungan 11, dikurangi 9 menjadi nilainya 3. Hari dari perhitungan 3 merupakan hari jaglur atau macan. Itu disebut gede cilakane dan sugih satru artinya banyak celakanya dan banyak musuh. Hal seperti ini sebenarnya menjadi pengingat, untuk banyak hati-hati termasuk pergaulan. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Ragil Listiyo)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/