alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Hepatitis Akut Misterius

Oleh: dr Tonang Dwi Ardyanto Sp PK PhD, Pakar Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UNS

BELUM benar-benar kelar menghadapi pandemi Covid-19, kita kembali diteror munculnya hepatitis akut misterius. Masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada dan berhati-hati serta mengenali gejalanya.

Sebenarnya hepatitis bukan penyakit baru. Penyakit ini memang paling banyak disebabkan oleh virus. Tapi ada juga penyebab lain seperti konsumsi alkohol jangka panjang. Juga ada hepatitis akibat racun, bisa dari berbagai zat kimia, racun, obat tanpa kendali, dan lain sebagainya. Ada lagi hepatitis karena autoimun. Artinya, terjadi reaksi tubuh terhadap zat dari dirinya sendiri.

Pertanyaannya, hepatitis yang sedang heboh ini disebabkan oleh apa? Hepatitis ini akibat virus. Selama ini, hepatitis yang dikenal karena adalah hepatitis A, B, C, D, dan E. Yang paling sering didengar, ditemui, dan dihadapi adalah hepatitis A, B dan C. Nah, hepatitis kali ini punya gejala dan tanda yang mirip sekali dengan hepatitis A. Namun, saat di tes di laboratorium, tidak ditemukan parameter-parameter terkait virus hepatitis A.

Bahkan juga untuk virus hepatitis B, C, D dan E. Maka diduga penyebabnya adalah hepatitis akibat virus baru. Sebenarnya bukan misterius dalam arti luar biasa. Hanya saja dalam pemeriksaan laboraturiumnya tidak cocok dengan hepatitis yang A, B, C, D dan E. Tapi secara gejala memang benar mirip hepatitis A.

Meski hepatitis A sudah lama dikenal masyarakat, namun bukan berarti bisa meremehkan hepatitis baru ini. Selama ini masyarakat menganggap hepatitis A seolah tidak bahaya. Sebab, biasanya masyarakat hanya terpaku pada hepatitis B dan C. Padahal hepatitis A justru sifatnya kronis, jangka panjang.

Sedangkan hepatitis A sifatnya akut dan bisa berbahaya. Ada yang disebut hepatitis fulminan. Artinya akut, mendadak, berat dan bisa berisiko fatal. Apalagi pada anak-anak. Jadi walau mirip hepatitis A, tetap saja kita harus hati-hati karena memang berbahaya.

Pencegahan hepatitis baru ini sebenarnya juga sebelas dua belas dengan hepatitis A. Umumnya menular dari saluran cerna. Maka diberi peringatan kehati-hatian, sering cuci tangan, makan di tempat yang bersih, dan minum air yang sudah direbus. Kemudian menjaga sanitasi, terutama di tempat-tempat umum. Sebenarnya ini sudah lama. Hanya saja kita selama ini cenderung tidak peduli.

Kalau saluran cerna, kenapa ada saran pakai masker dan jaga jarak segala? Itu karena data yang ada sejauh ini, penyebabnya adalah adenovirus. Virus ini selain menyebar dari saluran cerna, juga lewat bersin dan batuk. Artinya lewat napas juga. Adenovirus itu sudah lama kita kenal, jauh sebelum ada era Covid.

Infeksi adenovirus cukup sering dialami oleh anak-anak, khususnya di bawah 5 tahun. Sifatnya dapat menular dengan cepat. Infeksi adenovirus dapat menyebabkan infeksi pada mata, usus, paru, dan saluran napas. Ada sekitar 40 jenis adenovirus yang telah dikenali dan dapat menular dengan mudah, terutama pada anak-anak. Biasanya hanya sakit ringan. Tapi sebagian kasus juga bisa menimbulkan masalah kesehatan serius jika tidak diobati. Hanya selama ini kita kurang memperhatikannya.

Sejauh ini, dugaan kuat disebabkan oleh adenovirus tipe 41F. Maka itu tadi, ada saran kehati-hatiannya. Di sebagian besar kasus, ketemu adenovirus 41 F tersebut. Di sebagian kasus, ketemu virus-virus lain juga, yakni virus yang sudah banyak kita kenal, bukan virus baru. Maka memang dikedepankan kehati-hatian.

Saat ini sedang terjadi pandemi Covid. Di sebagian yang terinfeksi hepatitis baru, ditemukan virus Covid. Wajar saja karena sedang pandemi. Tapi di sebagian pasien lain, tidak ditemukan virus Covid. Maka faktornya bukan Covid. Bisa saja terjadi karena covid, kondisi drop, kemudian kena hepatitis baru.

Sebagian dari yang terinfeksi Covid, ada yang mengalami penurunan kondisi. Bahkan bisa berkepanjangan yang disebut gejala sisa atau long Covid. Jadi posisi Covid adalah menurunkan daya tahan. Pada posisi itu, bisa saja tubuh terinfeksi oleh banyak hal, karena daya tahannya turun. Penyebab hepatitis barunya tentu bukan Covid secara langsung.

Apakah ada hubungan dengan protokol kesehatan selama Covid ini? Memang kita menghadapi Covid kemarin dengan banyak hati-hati. Anak-anak terutama, kita jaga benar, lebih banyak di dalam rumah. Ada yang berpendapat bahwa karena itu kurang banyak terpapar Adenovirus selama pandemi covid seperti anak-anak sebelum era pandemi covid. Sekarang setelah mulai aktif lagi, baru ketemu virus adenovirus ini.

Di antara yang terinfeksi hepatitis baru, ada yang sudah pernah mendapat vaksinasi Covid. Sebagian lagi, seperti anak-anak di UK dan US, belum pernah divaksinasi. Dari tiga kasus di Indonesia, ada yang belum pernah divaksinasi Covid, ada yang baru satu kali, ada yang sudah dua kali. Jadi faktornya juga bukan karena vaksinasi Covid. Lebih kepada masing-masing orangnya.

Vaksin Covid jenis Sinovac dan Sinopharm, tidak menggunakan vektor adenovirus. Vaksin produk Pfizer dan Moderna, juga tidak menggunakannya. Yang menggunakan vector adenovirus adalah produk AstraZeneca (AZ), Sinopharm, JJ atau Cansino.

Adenovirus pada vaksin produk AZ adalah adenovirus simpanze tipe 26. Saat digunakan sebagai vektor atau kendaraan untuk vaksin Covid, sudah direkayasa sehingga DNA-nya adalah kombinasi dengan DNA dari virus Covid. Maka ketika disuntikkan, sudah bukan lagi seperti adenovirus utuh atau murni yang menginfeksi. Apalagi itu adalah adenovirus dari simpanze.

Sampai Desember 2021 saja, sebanyak hampir 10 miliar dosis vaksin Covid telah disuntikkan. Proporsi produk AZ adalah hampir 25 persen atau sekitar 2,5 miliar di antaranya. Kalau ditambah produk lain yang juga menggunakan vector adenovirus dari Putnik dan J&J total mencapai 30 persen atau 3 milliar. Saat ini, jumlah dosis vaksin yang telah disuntikkan sekitar 11,6 milar. Bila dipegang proporsi 30 persennya, berarti untuk vaksin dengan adenovirus sebagai vektor, mencapai sekitar 3,4 milliar. Sejauh ini, laporan kasus hepatitis baru itu mencapai 228 kasus di 20 negara dengan status probabel.

Lalu sebaiknya bagaimana? Kalau dalam bahasa yang mudah, masih untung sejauh ini dugaan kuat itu adalah hepatitis akibat virus, dengan gejala tanda yang kurang lebih sama dengan hepatitis akibat virus lainnya khususnya hepatitis A. Jadi kita sudah banyak mengenalnya secara klinis. Sudah banyak mengenal juga cara menanganinya.

Cara pencegahannya juga mirip-mirip dengan hepatitis A. Jadi juga sudah banyak kita kenal, walau selama ini kita cenderung mengabaikannya.

Soal menemukan virus penyebabnya, kita berharap segera dapat dipastikan. Terpenting saat ini, adalah kehati-hatian. Tidak perlu panik, tidak perlu paranoid. Kita telah belajar banyak selama pandemi Covid. Kita baru saja mengetahui adanya hepatitis baru. Pasti nanti juga akhirnya kita jadi tahu banyak. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septina Fadia Putri)

Oleh: dr Tonang Dwi Ardyanto Sp PK PhD, Pakar Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UNS

BELUM benar-benar kelar menghadapi pandemi Covid-19, kita kembali diteror munculnya hepatitis akut misterius. Masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada dan berhati-hati serta mengenali gejalanya.

Sebenarnya hepatitis bukan penyakit baru. Penyakit ini memang paling banyak disebabkan oleh virus. Tapi ada juga penyebab lain seperti konsumsi alkohol jangka panjang. Juga ada hepatitis akibat racun, bisa dari berbagai zat kimia, racun, obat tanpa kendali, dan lain sebagainya. Ada lagi hepatitis karena autoimun. Artinya, terjadi reaksi tubuh terhadap zat dari dirinya sendiri.

Pertanyaannya, hepatitis yang sedang heboh ini disebabkan oleh apa? Hepatitis ini akibat virus. Selama ini, hepatitis yang dikenal karena adalah hepatitis A, B, C, D, dan E. Yang paling sering didengar, ditemui, dan dihadapi adalah hepatitis A, B dan C. Nah, hepatitis kali ini punya gejala dan tanda yang mirip sekali dengan hepatitis A. Namun, saat di tes di laboratorium, tidak ditemukan parameter-parameter terkait virus hepatitis A.

Bahkan juga untuk virus hepatitis B, C, D dan E. Maka diduga penyebabnya adalah hepatitis akibat virus baru. Sebenarnya bukan misterius dalam arti luar biasa. Hanya saja dalam pemeriksaan laboraturiumnya tidak cocok dengan hepatitis yang A, B, C, D dan E. Tapi secara gejala memang benar mirip hepatitis A.

Meski hepatitis A sudah lama dikenal masyarakat, namun bukan berarti bisa meremehkan hepatitis baru ini. Selama ini masyarakat menganggap hepatitis A seolah tidak bahaya. Sebab, biasanya masyarakat hanya terpaku pada hepatitis B dan C. Padahal hepatitis A justru sifatnya kronis, jangka panjang.

Sedangkan hepatitis A sifatnya akut dan bisa berbahaya. Ada yang disebut hepatitis fulminan. Artinya akut, mendadak, berat dan bisa berisiko fatal. Apalagi pada anak-anak. Jadi walau mirip hepatitis A, tetap saja kita harus hati-hati karena memang berbahaya.

Pencegahan hepatitis baru ini sebenarnya juga sebelas dua belas dengan hepatitis A. Umumnya menular dari saluran cerna. Maka diberi peringatan kehati-hatian, sering cuci tangan, makan di tempat yang bersih, dan minum air yang sudah direbus. Kemudian menjaga sanitasi, terutama di tempat-tempat umum. Sebenarnya ini sudah lama. Hanya saja kita selama ini cenderung tidak peduli.

Kalau saluran cerna, kenapa ada saran pakai masker dan jaga jarak segala? Itu karena data yang ada sejauh ini, penyebabnya adalah adenovirus. Virus ini selain menyebar dari saluran cerna, juga lewat bersin dan batuk. Artinya lewat napas juga. Adenovirus itu sudah lama kita kenal, jauh sebelum ada era Covid.

Infeksi adenovirus cukup sering dialami oleh anak-anak, khususnya di bawah 5 tahun. Sifatnya dapat menular dengan cepat. Infeksi adenovirus dapat menyebabkan infeksi pada mata, usus, paru, dan saluran napas. Ada sekitar 40 jenis adenovirus yang telah dikenali dan dapat menular dengan mudah, terutama pada anak-anak. Biasanya hanya sakit ringan. Tapi sebagian kasus juga bisa menimbulkan masalah kesehatan serius jika tidak diobati. Hanya selama ini kita kurang memperhatikannya.

Sejauh ini, dugaan kuat disebabkan oleh adenovirus tipe 41F. Maka itu tadi, ada saran kehati-hatiannya. Di sebagian besar kasus, ketemu adenovirus 41 F tersebut. Di sebagian kasus, ketemu virus-virus lain juga, yakni virus yang sudah banyak kita kenal, bukan virus baru. Maka memang dikedepankan kehati-hatian.

Saat ini sedang terjadi pandemi Covid. Di sebagian yang terinfeksi hepatitis baru, ditemukan virus Covid. Wajar saja karena sedang pandemi. Tapi di sebagian pasien lain, tidak ditemukan virus Covid. Maka faktornya bukan Covid. Bisa saja terjadi karena covid, kondisi drop, kemudian kena hepatitis baru.

Sebagian dari yang terinfeksi Covid, ada yang mengalami penurunan kondisi. Bahkan bisa berkepanjangan yang disebut gejala sisa atau long Covid. Jadi posisi Covid adalah menurunkan daya tahan. Pada posisi itu, bisa saja tubuh terinfeksi oleh banyak hal, karena daya tahannya turun. Penyebab hepatitis barunya tentu bukan Covid secara langsung.

Apakah ada hubungan dengan protokol kesehatan selama Covid ini? Memang kita menghadapi Covid kemarin dengan banyak hati-hati. Anak-anak terutama, kita jaga benar, lebih banyak di dalam rumah. Ada yang berpendapat bahwa karena itu kurang banyak terpapar Adenovirus selama pandemi covid seperti anak-anak sebelum era pandemi covid. Sekarang setelah mulai aktif lagi, baru ketemu virus adenovirus ini.

Di antara yang terinfeksi hepatitis baru, ada yang sudah pernah mendapat vaksinasi Covid. Sebagian lagi, seperti anak-anak di UK dan US, belum pernah divaksinasi. Dari tiga kasus di Indonesia, ada yang belum pernah divaksinasi Covid, ada yang baru satu kali, ada yang sudah dua kali. Jadi faktornya juga bukan karena vaksinasi Covid. Lebih kepada masing-masing orangnya.

Vaksin Covid jenis Sinovac dan Sinopharm, tidak menggunakan vektor adenovirus. Vaksin produk Pfizer dan Moderna, juga tidak menggunakannya. Yang menggunakan vector adenovirus adalah produk AstraZeneca (AZ), Sinopharm, JJ atau Cansino.

Adenovirus pada vaksin produk AZ adalah adenovirus simpanze tipe 26. Saat digunakan sebagai vektor atau kendaraan untuk vaksin Covid, sudah direkayasa sehingga DNA-nya adalah kombinasi dengan DNA dari virus Covid. Maka ketika disuntikkan, sudah bukan lagi seperti adenovirus utuh atau murni yang menginfeksi. Apalagi itu adalah adenovirus dari simpanze.

Sampai Desember 2021 saja, sebanyak hampir 10 miliar dosis vaksin Covid telah disuntikkan. Proporsi produk AZ adalah hampir 25 persen atau sekitar 2,5 miliar di antaranya. Kalau ditambah produk lain yang juga menggunakan vector adenovirus dari Putnik dan J&J total mencapai 30 persen atau 3 milliar. Saat ini, jumlah dosis vaksin yang telah disuntikkan sekitar 11,6 milar. Bila dipegang proporsi 30 persennya, berarti untuk vaksin dengan adenovirus sebagai vektor, mencapai sekitar 3,4 milliar. Sejauh ini, laporan kasus hepatitis baru itu mencapai 228 kasus di 20 negara dengan status probabel.

Lalu sebaiknya bagaimana? Kalau dalam bahasa yang mudah, masih untung sejauh ini dugaan kuat itu adalah hepatitis akibat virus, dengan gejala tanda yang kurang lebih sama dengan hepatitis akibat virus lainnya khususnya hepatitis A. Jadi kita sudah banyak mengenalnya secara klinis. Sudah banyak mengenal juga cara menanganinya.

Cara pencegahannya juga mirip-mirip dengan hepatitis A. Jadi juga sudah banyak kita kenal, walau selama ini kita cenderung mengabaikannya.

Soal menemukan virus penyebabnya, kita berharap segera dapat dipastikan. Terpenting saat ini, adalah kehati-hatian. Tidak perlu panik, tidak perlu paranoid. Kita telah belajar banyak selama pandemi Covid. Kita baru saja mengetahui adanya hepatitis baru. Pasti nanti juga akhirnya kita jadi tahu banyak. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septina Fadia Putri)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/