alexametrics
29 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Kencangkan Ikat Pinggang

KETIMBANG mengkhawatirkan kenaikan tarif listrik dan perubahan iuran BPJS Kesehatan mulai bulan depan, masyarakat lebih baik menghitung lagi prioritas pengeluarannya. Alias, bersiap untuk mengencangkan ikat pinggang. Memang betul kondisi perekonomian sudah membaik dibandingkan saat awal pandemi Covid-19, namun kenaikan harga komoditas bahan pokok masih fluktuatif sampai sekarang.

Jika bicara soal tarif listrik, kenaikannya hanya untuk harga nonsubsidi. Otomatis, tarif listrik untuk keluarga miskin tidak ada kenaikan. Kemudian bicara soal perubahan iuran BPJS Kesehatan yang ditentukan berdasarkan gaji, ini juga sudah cukup adil. Maka, sebenarnya yang perlu dikhawatirkan malah justru tren kenaikan harga pangan yang semakin fluktuatif.

Pemerintah harus memperhatikan fenomena ini. Sebab sumbangan inflasi yang cukup besar berasal dari kenaikan harga pangan. Termasuk misalnya minyak goreng. Kendati harganya turun, namun masih tetap di atas harga normal sebelumnya. Kenaikan harga pangan ini bisa berimbas atau berdampak negatif terhadap proses pemulihan ekonomi. Karena kita sama-sama tahu bahwa harga pangan itu justru sangat penting. Sebab menyangkut hajat hidup manusia.

Belum lagi soal peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 secara nasional. Dikhawatirkan bakal berdampak lagi terhadap perekonomian di tanah air. Namun optimistis hal itu tidak akan terjadi di Kota Bengawan. Asal Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta responsif dengan situasi ini. Misalnya, perlu digeber lagi pelaksanaan vaksinasi booster ke masyarakat.

Perlu dicek lagi, ditingkatkan lagi, berapa persentase yang sudah vaksinasi booster. Sebab, dengan vaksinasi booster bisa mengurangi risiko penularan. Kemudian, tetap mengingatkan masyarakat pandemi belum berakhir. Tetap jaga prokes. Kalau kemungkinan ada ledakan kasus lagi, itu karena mobilitas manusia yang sekarang ini sudah dilonggarkan.

Jika vaksinasi booster telah berjalan dengan baik dia optimistis tidak akan seserius penularan yang sebelumnya. Kalau toh ada penularan tidak akan fatal dan berdampak serius terhadap perekonomian kita. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septina Fadia Putri)

KETIMBANG mengkhawatirkan kenaikan tarif listrik dan perubahan iuran BPJS Kesehatan mulai bulan depan, masyarakat lebih baik menghitung lagi prioritas pengeluarannya. Alias, bersiap untuk mengencangkan ikat pinggang. Memang betul kondisi perekonomian sudah membaik dibandingkan saat awal pandemi Covid-19, namun kenaikan harga komoditas bahan pokok masih fluktuatif sampai sekarang.

Jika bicara soal tarif listrik, kenaikannya hanya untuk harga nonsubsidi. Otomatis, tarif listrik untuk keluarga miskin tidak ada kenaikan. Kemudian bicara soal perubahan iuran BPJS Kesehatan yang ditentukan berdasarkan gaji, ini juga sudah cukup adil. Maka, sebenarnya yang perlu dikhawatirkan malah justru tren kenaikan harga pangan yang semakin fluktuatif.

Pemerintah harus memperhatikan fenomena ini. Sebab sumbangan inflasi yang cukup besar berasal dari kenaikan harga pangan. Termasuk misalnya minyak goreng. Kendati harganya turun, namun masih tetap di atas harga normal sebelumnya. Kenaikan harga pangan ini bisa berimbas atau berdampak negatif terhadap proses pemulihan ekonomi. Karena kita sama-sama tahu bahwa harga pangan itu justru sangat penting. Sebab menyangkut hajat hidup manusia.

Belum lagi soal peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 secara nasional. Dikhawatirkan bakal berdampak lagi terhadap perekonomian di tanah air. Namun optimistis hal itu tidak akan terjadi di Kota Bengawan. Asal Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta responsif dengan situasi ini. Misalnya, perlu digeber lagi pelaksanaan vaksinasi booster ke masyarakat.

Perlu dicek lagi, ditingkatkan lagi, berapa persentase yang sudah vaksinasi booster. Sebab, dengan vaksinasi booster bisa mengurangi risiko penularan. Kemudian, tetap mengingatkan masyarakat pandemi belum berakhir. Tetap jaga prokes. Kalau kemungkinan ada ledakan kasus lagi, itu karena mobilitas manusia yang sekarang ini sudah dilonggarkan.

Jika vaksinasi booster telah berjalan dengan baik dia optimistis tidak akan seserius penularan yang sebelumnya. Kalau toh ada penularan tidak akan fatal dan berdampak serius terhadap perekonomian kita. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septina Fadia Putri)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/