alexametrics
23.3 C
Surakarta
Wednesday, 17 August 2022

Pendidikan Pengetahuan Tentang Gizi, Kesehatan Gigi, dan Mulut

ANAK dapat tumbuh menjadi sehat dan cerdas, melalui proses pertumbuhan dan perkembangan. Merupakan proses dalam kehidupan yang dialami oleh individu, sejak dilahirkan hingga lanjut usia. Terjadi secara bersamaan, saling berkaitan, satu kesatuan, dan berkesinambungan (Potter & Perry, 2006).

Namun, pertumbuhan dan perkembangan memiliki ruang lingkup berbeda. Pendidikan kesehatan merupakan upaya membantu individu, kelompok, atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan untuk mencapai kesehatan yang optimal (Notoatmodjo, 2007).

Pendidikan kesehatan memiliki dampak terhadap peningkatan pengetahuan, sekaligus memengaruhi sikap. Sikap merupakan perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap suatu objek. Dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang, sehingga akan membawa seseorang untuk bereaksi sesuai stimulus yang diperolehnya (Azwar, 2010).

Anak prasekolah (usia 3-6 tahun), biasanya mulai mengikuti program presschool (Dewi et al. 2015). Pada masa ini, anak menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Sehingga butuh stimulasi yang intensif dari orang di sekelilingnya. Agar mempunyai kepribadian berkualitas di masa mendatang (Muscari, 2005).

Anak prasekolah memiliki masa keemasan (the golden age). Dalam perkembanganya disertai pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis. Siap merespons berbagai aktivitas yang terjadi di lingkunganya. Merupakan waktu yang tepat untuk mengembangkan berbagai pontensi dan kemampuan. Antara lain motorik halus dan kasar, sosial, emosi, serta kognitifnya (Mulyasa, 2012).

Gardner dalam buku Yus Anita (2012), masa anak prasekolah merupakan masa di mana terjadi peningkatan kecerdasan, dari 50 persen menjadi 80 persen. Peningkatan dapat tercapai secara maksimal, jika lingkungan sekitar memberi rangsangan dan stimulasi yang tepat. Sebaliknya, jika tidak tepat, maka otak anak tidak mampu berkembang dan berfungsi secara maksimal.

Anak usia prasekolah butuh gizi mencukupi. Sesuai angka kecukupan gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan RI, rata-rata kebutuhan energi harian anak usia 4-6 tahun yakni 1.600 kalori. Nutrisi mungkin satu-satunya pengaruh paling penting pada pertumbuhan. Selama masa bayi dan kanak-kanak, kebutuan kalori relatif besar. Dibuktikan peningkatan tinggi dan berat badan. Nutrisi juga memengaruhi perkembangan kognitif dan IQ anak.

Selain itu, pemeliharaan kesehatan gigi juga menjadi perhatian, sesuai UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pasal 93 ayat 1 menyatakan, pelayanan kesehatan gigi dan mulut ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi, dan pemulihan kesehatan gigi oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan atau masyarakat yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan.

Pemeliharan kesehatan anak juga menjadi perhatian, sesuai Permenkes No. 89 Tahun 2015 tentang Pada pasal 9 ayat 2, upaya Kesehatan Gigi dan Mulut. Fokus utamanya dengan pendekatan promotif, tanpa mengesampingkan usaha kuratif dan rehabilitatif.

Masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak, umumnya karena kurangnya pemeliharaan dan menjaga kebersihan. Norfai (2017) dalam penelitiannya menyebutkan, ada hubungan bermakna antara kebiasaan anak menggosok gigi dengan kejadian karies gigi.

Maka pengetahuan orang tua sangat penting demi kebersihan gigi dan mulut anak. Orang tua dengan pengetahuan mencukupi, akan mampu untuk memberikan edukasi tentang kesehatan gigi dana mulut anak-anaknya. Di antaranya rajin menggosok gigi yang baik dan benar. Kapan waktu yang tepat, dan berapa kali sehari.

TK Aisyiyah Joyosuran, Surakarta, berada di kawasan perkotaan yang cenderung masyarakatnya berlatar belakang pendidikan serta pengetahuan tentang gizi dan kesehatan gigi dan mulut beragam. Memiliki siswa didik sebanyak 84 anak dan diasuh 10 guru.

Tujuan Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas maret (UNS) di TK Aisyiyah Joyosuran, yakni memberikan pendidikan pengetahuan mengenai gizi dan kesehatan gigi dan mulut kepada orang tua murid dan para guru. Diharapkan para orang tua memberikan nutrisi, sesuai angka kecukupan gizi dari Kemenkes RI. Serta edukasi tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang baik, demi mencegah penyakit, terutama karies pada anak usia prasekolah.

Pengabdian dilaksanakan dengan protokol kesehatan (prokes) ketat pada 4 Juni 2022. Melalui metode ceramah, demonstrasi, stimulasi, dan pendampingan praktik. Dilanjutkan evaluasi pelaksanaan dan keberlanjutan program. Melalui metode kuantitatif dan kualitatif.

Harapan dari program pengabdian ini, orang tua murid TK Aisyiyah Joyosuran dapat memberikan pendidikan serta pengetahuan tentang gizi dan kesehatan gigi dan mulut kepada buah hatinya. Termasuk memilih makanan yang bergizi, sesuai AKG Kemenkes. Selain itu, diharapkan orang tua murid dapat menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut anak mereka. (*)

Widia Susanti, Risya Cilmiaty A.R., Betty Saptiwi, Adi Prayitno, Alfiyah Pujiyati, Meirina Mulia Wardani, Filumena T.R., Norma Mukti Bimacahya, Satria Wardana, dan Afrizal Tri Heryadi *)

*) Tim Pengabdian Kepada Masyarakat, Dosen Fakultas Kedokteran UNS

ANAK dapat tumbuh menjadi sehat dan cerdas, melalui proses pertumbuhan dan perkembangan. Merupakan proses dalam kehidupan yang dialami oleh individu, sejak dilahirkan hingga lanjut usia. Terjadi secara bersamaan, saling berkaitan, satu kesatuan, dan berkesinambungan (Potter & Perry, 2006).

Namun, pertumbuhan dan perkembangan memiliki ruang lingkup berbeda. Pendidikan kesehatan merupakan upaya membantu individu, kelompok, atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan untuk mencapai kesehatan yang optimal (Notoatmodjo, 2007).

Pendidikan kesehatan memiliki dampak terhadap peningkatan pengetahuan, sekaligus memengaruhi sikap. Sikap merupakan perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap suatu objek. Dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang, sehingga akan membawa seseorang untuk bereaksi sesuai stimulus yang diperolehnya (Azwar, 2010).

Anak prasekolah (usia 3-6 tahun), biasanya mulai mengikuti program presschool (Dewi et al. 2015). Pada masa ini, anak menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Sehingga butuh stimulasi yang intensif dari orang di sekelilingnya. Agar mempunyai kepribadian berkualitas di masa mendatang (Muscari, 2005).

Anak prasekolah memiliki masa keemasan (the golden age). Dalam perkembanganya disertai pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis. Siap merespons berbagai aktivitas yang terjadi di lingkunganya. Merupakan waktu yang tepat untuk mengembangkan berbagai pontensi dan kemampuan. Antara lain motorik halus dan kasar, sosial, emosi, serta kognitifnya (Mulyasa, 2012).

Gardner dalam buku Yus Anita (2012), masa anak prasekolah merupakan masa di mana terjadi peningkatan kecerdasan, dari 50 persen menjadi 80 persen. Peningkatan dapat tercapai secara maksimal, jika lingkungan sekitar memberi rangsangan dan stimulasi yang tepat. Sebaliknya, jika tidak tepat, maka otak anak tidak mampu berkembang dan berfungsi secara maksimal.

Anak usia prasekolah butuh gizi mencukupi. Sesuai angka kecukupan gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan RI, rata-rata kebutuhan energi harian anak usia 4-6 tahun yakni 1.600 kalori. Nutrisi mungkin satu-satunya pengaruh paling penting pada pertumbuhan. Selama masa bayi dan kanak-kanak, kebutuan kalori relatif besar. Dibuktikan peningkatan tinggi dan berat badan. Nutrisi juga memengaruhi perkembangan kognitif dan IQ anak.

Selain itu, pemeliharaan kesehatan gigi juga menjadi perhatian, sesuai UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pasal 93 ayat 1 menyatakan, pelayanan kesehatan gigi dan mulut ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi, dan pemulihan kesehatan gigi oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan atau masyarakat yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan.

Pemeliharan kesehatan anak juga menjadi perhatian, sesuai Permenkes No. 89 Tahun 2015 tentang Pada pasal 9 ayat 2, upaya Kesehatan Gigi dan Mulut. Fokus utamanya dengan pendekatan promotif, tanpa mengesampingkan usaha kuratif dan rehabilitatif.

Masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak, umumnya karena kurangnya pemeliharaan dan menjaga kebersihan. Norfai (2017) dalam penelitiannya menyebutkan, ada hubungan bermakna antara kebiasaan anak menggosok gigi dengan kejadian karies gigi.

Maka pengetahuan orang tua sangat penting demi kebersihan gigi dan mulut anak. Orang tua dengan pengetahuan mencukupi, akan mampu untuk memberikan edukasi tentang kesehatan gigi dana mulut anak-anaknya. Di antaranya rajin menggosok gigi yang baik dan benar. Kapan waktu yang tepat, dan berapa kali sehari.

TK Aisyiyah Joyosuran, Surakarta, berada di kawasan perkotaan yang cenderung masyarakatnya berlatar belakang pendidikan serta pengetahuan tentang gizi dan kesehatan gigi dan mulut beragam. Memiliki siswa didik sebanyak 84 anak dan diasuh 10 guru.

Tujuan Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas maret (UNS) di TK Aisyiyah Joyosuran, yakni memberikan pendidikan pengetahuan mengenai gizi dan kesehatan gigi dan mulut kepada orang tua murid dan para guru. Diharapkan para orang tua memberikan nutrisi, sesuai angka kecukupan gizi dari Kemenkes RI. Serta edukasi tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang baik, demi mencegah penyakit, terutama karies pada anak usia prasekolah.

Pengabdian dilaksanakan dengan protokol kesehatan (prokes) ketat pada 4 Juni 2022. Melalui metode ceramah, demonstrasi, stimulasi, dan pendampingan praktik. Dilanjutkan evaluasi pelaksanaan dan keberlanjutan program. Melalui metode kuantitatif dan kualitatif.

Harapan dari program pengabdian ini, orang tua murid TK Aisyiyah Joyosuran dapat memberikan pendidikan serta pengetahuan tentang gizi dan kesehatan gigi dan mulut kepada buah hatinya. Termasuk memilih makanan yang bergizi, sesuai AKG Kemenkes. Selain itu, diharapkan orang tua murid dapat menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut anak mereka. (*)

Widia Susanti, Risya Cilmiaty A.R., Betty Saptiwi, Adi Prayitno, Alfiyah Pujiyati, Meirina Mulia Wardani, Filumena T.R., Norma Mukti Bimacahya, Satria Wardana, dan Afrizal Tri Heryadi *)

*) Tim Pengabdian Kepada Masyarakat, Dosen Fakultas Kedokteran UNS

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/