alexametrics
31.4 C
Surakarta
Monday, 4 July 2022

Daging Terinfeksi PMK

MAKIN maraknya penyakit mulut dan kuku (PMK) jelang Idul Adha membuat masyarakat semakin waswas. Pertanyaan apakah daging hewan ternak yang sudah terinfeksi PMK masih aman atau tidak dikonsumsi terus dilontarkan?

PMK adalah penyakit yang bersifat nonzoonosis. Alias tidak ada transmisi dari hewan ke manusia.  Artinya, bagi manusia ini tidak masalah. Lain halnya dengan Covid-19. Penyakit itu sifatnya zoonosis, di mana ada transmisi dari hewan ke manusia. Tapi untuk PMK ini tidak ada transmisi itu. Catatannya sampai saat ini belum ada yang signifikan tentang transmisi dari hewan ke manusia.

Otomatis, daging yang didapatkan dari hewan yang terinfeksi PMK sebenarnya aman dikonsumsi. Tapi tidak semua bagian daging bisa dikonsumsi secara aman dari hewan ternak yang sudah terkena virus PMK. Bagian dagingnya, masih boleh dikonsumsi. Tapi hindari bagian mulut atau cungur, bagian kaki atau kikil, bagian jerohan seperti babat, limpa, hati, dan lain sebagainya.

Bagian-bagian itu perlu dihindari karena ada kemungkinan virus PMK beredar ke organ tersebut. Berkembang di situ. Sehingga sebisa mungkin tidak dikonsumsi bagian itu. Orang Indonesia kan kebiasaannya mengonsumsi jerohan. Beda dengan orang luar negeri, jerohan memang dibuang sebagai limbah dari hewan ternak. Jadi bagi masyarakat Indonesia, sementara hindari dulu bagian-bagian itu tadi,” bebernya.

Apakah daging yang terpapar PMK dengan daging sehat bisa dibedakan? Memang yang menjadi sumber kebingungan bagi masyarakat selama ini adalah cara membedakan kondisi daging. Sebab daging yang terinfeksi PMK tidak menimbulkan bau yang berbeda dengan daging sehat. Warnanya juga tidak berbeda.

Jadi tidak bisa kita bedakan. Karena mungkin tidak sampai ke dagingnya. Kan virus ini banyak beredar ke sumsum tulang atau ke limpa. Sehingga di dagingnya tidak ada perbedaan warna atau bau.

Lalu bagaimana mengonsumsi daging hewan jika tidak bisa dibedakan? Sebenarnya di Indonesia mengacu pada konsep menyiapkan daging untuk dikonsumsi. Di tanah air sudah ada istilah daging ASUH (aman, sehat, utuh, dan halal). Artinya, daging yang beredar di Indonesia adalah daging yang memenuhi kriteria tersebut. Disembelih dari hewan yang sehat.

Aturannya, daging yang terinfeksi PMK ini hewannya lebih baik dimusnahkan. Kalau di New Zealand sebagai negara yang terkenal penghasil sapi terbesar di dunia. Mereka biasa memusnahkan hewan yang terkena PMK. Sehingga daging yang dijual dari sana memang betul-betul daging yang berkriteria sehat.

Namun jika kebijakan itu diterapkan di Indonesia, peternak bakal mengalami kerugian besar. Jadi sebisa mungkin tetap bisa dijual dagingnya. Meskipun di beberapa bagian yang memang sebaiknya jangan dikonsumsi, tidak bisa dijual. Kalau memang terpaksa ingin dikonsumsi juga, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Untuk menghindari segala sesuatu yang bersifat membahayakan bagi manusia. Baik itu patogen, virus PMK, atau bakteri lainnya. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septina Fadia Putri dengan Muhammad Zukhrufuz Zaman, Ahli Food Safety UNS)

MAKIN maraknya penyakit mulut dan kuku (PMK) jelang Idul Adha membuat masyarakat semakin waswas. Pertanyaan apakah daging hewan ternak yang sudah terinfeksi PMK masih aman atau tidak dikonsumsi terus dilontarkan?

PMK adalah penyakit yang bersifat nonzoonosis. Alias tidak ada transmisi dari hewan ke manusia.  Artinya, bagi manusia ini tidak masalah. Lain halnya dengan Covid-19. Penyakit itu sifatnya zoonosis, di mana ada transmisi dari hewan ke manusia. Tapi untuk PMK ini tidak ada transmisi itu. Catatannya sampai saat ini belum ada yang signifikan tentang transmisi dari hewan ke manusia.

Otomatis, daging yang didapatkan dari hewan yang terinfeksi PMK sebenarnya aman dikonsumsi. Tapi tidak semua bagian daging bisa dikonsumsi secara aman dari hewan ternak yang sudah terkena virus PMK. Bagian dagingnya, masih boleh dikonsumsi. Tapi hindari bagian mulut atau cungur, bagian kaki atau kikil, bagian jerohan seperti babat, limpa, hati, dan lain sebagainya.

Bagian-bagian itu perlu dihindari karena ada kemungkinan virus PMK beredar ke organ tersebut. Berkembang di situ. Sehingga sebisa mungkin tidak dikonsumsi bagian itu. Orang Indonesia kan kebiasaannya mengonsumsi jerohan. Beda dengan orang luar negeri, jerohan memang dibuang sebagai limbah dari hewan ternak. Jadi bagi masyarakat Indonesia, sementara hindari dulu bagian-bagian itu tadi,” bebernya.

Apakah daging yang terpapar PMK dengan daging sehat bisa dibedakan? Memang yang menjadi sumber kebingungan bagi masyarakat selama ini adalah cara membedakan kondisi daging. Sebab daging yang terinfeksi PMK tidak menimbulkan bau yang berbeda dengan daging sehat. Warnanya juga tidak berbeda.

Jadi tidak bisa kita bedakan. Karena mungkin tidak sampai ke dagingnya. Kan virus ini banyak beredar ke sumsum tulang atau ke limpa. Sehingga di dagingnya tidak ada perbedaan warna atau bau.

Lalu bagaimana mengonsumsi daging hewan jika tidak bisa dibedakan? Sebenarnya di Indonesia mengacu pada konsep menyiapkan daging untuk dikonsumsi. Di tanah air sudah ada istilah daging ASUH (aman, sehat, utuh, dan halal). Artinya, daging yang beredar di Indonesia adalah daging yang memenuhi kriteria tersebut. Disembelih dari hewan yang sehat.

Aturannya, daging yang terinfeksi PMK ini hewannya lebih baik dimusnahkan. Kalau di New Zealand sebagai negara yang terkenal penghasil sapi terbesar di dunia. Mereka biasa memusnahkan hewan yang terkena PMK. Sehingga daging yang dijual dari sana memang betul-betul daging yang berkriteria sehat.

Namun jika kebijakan itu diterapkan di Indonesia, peternak bakal mengalami kerugian besar. Jadi sebisa mungkin tetap bisa dijual dagingnya. Meskipun di beberapa bagian yang memang sebaiknya jangan dikonsumsi, tidak bisa dijual. Kalau memang terpaksa ingin dikonsumsi juga, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Untuk menghindari segala sesuatu yang bersifat membahayakan bagi manusia. Baik itu patogen, virus PMK, atau bakteri lainnya. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septina Fadia Putri dengan Muhammad Zukhrufuz Zaman, Ahli Food Safety UNS)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/