alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

HAJI MABRUR : Apa yang akan kau kerjakan berikutnya ?

JAMAAH haji regular Indonesia tahun inisebagai pahlawan perubahan dan telah mengalami penantian cukup panjang karena masa pandemik, akhirnya tahun ini bisa berangkat denganjumlah 92.668 dan mulai berangsur angsur pulang ke tanah air yang terbagi dalam 241 kloter, setelah melaksanakan prosesi haji selama 42 hari di  Mekah. Waktu yang sangat panjang mulai dari persiapan hingga prosesi haji dengan meninggalkan keluarga di rumah untuk memenuhi panggilan Allah swt menunaikan ibadah haji di tanah suci. Ibadah yang sangat berat dan penuh pengorbanan baik material maupun spiritual. Oleh karena itu Allah memberikan apresiasi yang luar biasa kepada mereka yang mendapat predikat haji mabrur, tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.  Inti haji adalah wukuf di padang Arafah, hari wukuf tersebut jatuh pada hari Jum’at sehingga haji tahun ini disebut haji akbar dan saat mereka melakukan prosesi wukuf maka pada hari yang sama umat Islam melaksanakan puasa Arafah yang bisa menghapus dosa selama setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (HR Buchari-Muslim). Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rosul bersabda : Tidaklah ada hari yang Allah membebaskan hambanya dari neraka lebih banyak dari hari Arafah (HR Muslim).

Haji adalah rukun islam yang terakhir. Sebagai muslim yang taat tentunya ingin mengerjakan semua lima rukun Islam, syahadat, sholat, zakat, puasa dan ibadah haji. Namun tidak semua orang diwajibkan untuk melakukan ibadah haji. Panggilan haji telah tiba lagi, menunaikan ibadah panggilan Baitullah, merupakan penggalan lirik dari sebuah lagu qasidah, yang bermakna betapa mulianya bagi mereka yang telah dipanggil oleh Allah untuk menunaikan rukun islam yang ke lima. Menunaikan ibadah haji tidak bisa diukur dari segi apapun, melainkan itu murni merupakan panggilan Allah SWT. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sumayya, maula Abu Bakar bin ‘Abdur Rahman dari Abu Shalih As-Samman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Umrah ke ‘umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga“. [Muttafaq ‘alaih: Shahih al-Bukhari (no. 1650), Shahiih Muslim (no. 2403), Sunan at-Tirmidzi (no. 855), Sunan Ibnu Majah (no. 2879), Sunan an-Nasa-i (no. 2582]

Haji merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan bagi orang yang sudah mampu atau telah memenuhi segala persyaratannya. Pergi haji juga bisa berarti jihad di jalan Allah; mencurahkan harta, tenaga, meninggalkan keluarga dan negara menuju ke Tanah Haram untuk memenuhi panggilan-Nya.Calon Jemaah haji harus mengantri terlebih dulu sampai bertahun-tahun karena  adanya keterbatasan kuota untuk jamaah haji dan masa pandemi sehingga butuh kesabaran ekstra. Mereka yang pergi haji jelas berharap mendapatkan haji yang mabrur karena balasan haji mabrur adalah surga.

Kota Makkah ini dijadikan Allah sebagai tempat beribadah para hambanya sepanjang masa, dari manusia pertama Adam a.s., Ibrahim a.s. sampai Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ummatnya sampai akhir zaman. Untuk itu, Allah SWT membangun “Rumah-Nya” (Baitullah, Ka’bah) di kota ini, sebuah tempat yang tidak boleh seorang pun masuk ke dalamnya kecuali dengan kerendahan hati, khusyu’, dengan kepala terbuka serta meninggalkan bentuk pakaian dan perhiasan dunia. Inilah tempat, dimana Allah SWT menjadikannya sebagai penghapus dosa-dosa masa lalu.

Predikat haji mabrur memang menjadi hak prerogative Allah, akan tetapi umumnya masyarakat bisa melihat dan memahami ciri atau tanda haji mabrur adalah ketika jamaah haji pulang ke kampung halamannya seusai menunaikan ibadah haji . Perubahan pemikiran, sikap,ucapan  perilaku   jamaah haji terebut harus menjadi lebih baik bukan sama atau malah sebaliknya. Sedangkan jamaah haji setelah manasik di tanah suci yang kedapatan di tengah kita baik tetangga, sahabat, kerabat, atau sekadar kenal, yang berperilaku kalau bukan buruk, tidak lebih baik dari sebelum haji, kita tidak boleh memvonisnya bahwa jamaah haji tersebut tidak menyandang predikat mabrur karena pemberian predikat mabrur atau tidak mabrur haji seseorang merupakan hak Allah semata, bukan hak kita sebagai manusia.

Bagaimana supaya kita bisa meraih haji mabrur? Pertama, luruskan niat beribadah. Tunaikan ibadah haji sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah agama dan memenuhi Rukun Islam kelima. Dengan meluruskan niat, kamu dapat menjaga kemurnian tujuan berhaji. Jauhkan pikiran dari hasrat untuk menaikkan status sosial atau sekadar pamer kesalehan. Kedua, memahami filosofi di balik rukun haji dan wajib haji. Selain itu, kuasai bacaan-bacaan doa dalam tahapan-tahapan ibadah haji. Ini bisa membantu kamu lebih khusyu’ ketika beribadah kelak di Tanah Suci. Ketiga, fokus pada hal yang substantif selama berhaji. Selama di Tanah Suci, fokuskan pikiran dan energi untuk melakukan rukun haji dan wajib haji secara khusyu’. Ada 6 rukun haji yaitu ihram (niat), wukuf di Arafah, thawaf ifadah, sa’i, bercukur (tahalul) dan tertib. Apabila tidak melaksanakan salah satunya, maka ibadah haji tak sah (https://blog.principal.co.id/id/memahami-makna-haji-mabrur-3-hal-yang-perlu-kamu-ketahui).

Selain itu ada juga 6 wajib haji yaitu ihram haji dari mīqāt, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melontar jumrah, menghindari perbuatan yang terlarang dalam keadaan berihram, dan thawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah. Berusahalah untuk selalu tenang dan berkepala dingin agar bisa fokus pada yang hal utama, yaitu rukun dan wajib haji.

Ibadah haji memilki dampak-dampak positif dan kemanfaatan yang banyak baik bagi individu yang melaksanakan ibadah haji maupun masyarakat pada umumnya. Bagi yang melaksanakan ibadah haji, akan terpancar kebaikan dan kesalihan dari pribadinya. diharapkan dari haji mabrur itu adalah perubahan sikap yang dilakukan oleh para haji sebagai hasil dari penggemblengan fisik dan mental melalui rangkaian rukun, wajib, dan sunnah haji.  Setelah pulang kembali ke tanah air memberikan tauladan dalam beribadah sehingga akan memacu umat muslim untuk berkeinginan dan berusaha untuk dapat menunaikan ibadah haji dengan melihat prilaku dalam kehidupan sehari-hari seperti  ibadahnya semakin rajin, sedekahnya semakin masif, dan amal ibadah lainnya semakin ditingkatkan dan akhirnya akan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar dia tinggal.

Sebagai seorang yang menyandang gelar Haji harus dapat menunjukan kepada masyarakat  bahwa setelah melaksanakan ibadah haji ibadah dan perilaku mereka menjadi lebih baik, tapi  bila perilakunya justru semakin menjengkelkan, apalagi semakin kikir, hal ini justru akan menimbulkan pikiran negatif di orang-orang sekitarnya. Mereka pasti akan berpikir, untuk apa naik haji kalau perilakunya malah tidak baik atau semakin kikir, ini tidak akan memotivasi orang lain untuk bersikap seperti kita. Maka dari itu ketika akan menunaikan ibadah haji maka yang harus dilakukan adalah Tidak ada unsur-unsur lain, seperti ingin diberi gelar haji atau meningkatkan status sosial, apalagi untuk kepentingan politik saja. Jadi, nomor satu harus betul-betul (ibadah haji) ikhlas karena Allah SWT.Jangan ada unsur-unsur, ingin dipuji, ada unsur ingin mendapatkan status, dan lain-lain. Misalnya, ketika telah pulang ke Tanah Air setelah menunaikan ibadah haji, kalau tidak dipanggil “haji”, tidak usah marah. Kalau orang lupa menuliskan namanya dengan gelar haji, juga tidak usah marah, dan ketika tengah melaksanakan ibadah haji tidak perlu mengunggah kegiatan kita ke media sosial. Misalnya, mengunggah foto ketika sedang melakukan rukun haji ini disadari ataupun tidak akan mengganggu kekhusyukkan dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah haji.

Haji mabrur atau umrah yang mabrur, menurut M.Quraish Shihab berarti orang yang harus menepati janjinya, janji kepada Allah mulai dari memenuhi panggilan haji, Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu. Jadi haji atau umrah yang mabrur tidak ditentukan sah dan tidaknya umrah/haji tetapi menepati janji yang telah diucapkan kepada Allah. Dia berjalan thawaf mengelilingi rumah Allah sampai tujuh kali berarti dia berjanji akan memasukkan kehidupannya dalam lingkungan Allah, dia berjalan dari bukit Safa sampai Marwa dan di ruas tertentu harus mempercepat jalannya artinya dia berjanji akan berusaha mencari kehidupan dengan niat yang suci dan usaha yang sungguh sungguh sampai apapun hasilnya, itu hanya Allah yang memutuskan. Ketika calon jamaah haji melempar jumrah, mereka berjanji akan memusuhi syetan karena syetan mengajak pada kesesatan.

Semoga jamaah haji kita menjadi haji mabrur dan akan membawa perubahan pada masyarakat di lingkungan mereka bermukim sehingga ada dan tidaknya mereka akan sangat berbeda. Mereka akan menjadi teladan dan kehadirannya selalu memberikan kesejukan dan manfaat nyata. (*)

(* Artikel ini ditulis oleh:

  • Drs. H. Priyono, M.Si (Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
  • Suparto, S.Pd. MM. (Guru Geografi SMA Negeri 1 Way Lima, Lampung)

JAMAAH haji regular Indonesia tahun inisebagai pahlawan perubahan dan telah mengalami penantian cukup panjang karena masa pandemik, akhirnya tahun ini bisa berangkat denganjumlah 92.668 dan mulai berangsur angsur pulang ke tanah air yang terbagi dalam 241 kloter, setelah melaksanakan prosesi haji selama 42 hari di  Mekah. Waktu yang sangat panjang mulai dari persiapan hingga prosesi haji dengan meninggalkan keluarga di rumah untuk memenuhi panggilan Allah swt menunaikan ibadah haji di tanah suci. Ibadah yang sangat berat dan penuh pengorbanan baik material maupun spiritual. Oleh karena itu Allah memberikan apresiasi yang luar biasa kepada mereka yang mendapat predikat haji mabrur, tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.  Inti haji adalah wukuf di padang Arafah, hari wukuf tersebut jatuh pada hari Jum’at sehingga haji tahun ini disebut haji akbar dan saat mereka melakukan prosesi wukuf maka pada hari yang sama umat Islam melaksanakan puasa Arafah yang bisa menghapus dosa selama setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (HR Buchari-Muslim). Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rosul bersabda : Tidaklah ada hari yang Allah membebaskan hambanya dari neraka lebih banyak dari hari Arafah (HR Muslim).

Haji adalah rukun islam yang terakhir. Sebagai muslim yang taat tentunya ingin mengerjakan semua lima rukun Islam, syahadat, sholat, zakat, puasa dan ibadah haji. Namun tidak semua orang diwajibkan untuk melakukan ibadah haji. Panggilan haji telah tiba lagi, menunaikan ibadah panggilan Baitullah, merupakan penggalan lirik dari sebuah lagu qasidah, yang bermakna betapa mulianya bagi mereka yang telah dipanggil oleh Allah untuk menunaikan rukun islam yang ke lima. Menunaikan ibadah haji tidak bisa diukur dari segi apapun, melainkan itu murni merupakan panggilan Allah SWT. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sumayya, maula Abu Bakar bin ‘Abdur Rahman dari Abu Shalih As-Samman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Umrah ke ‘umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga“. [Muttafaq ‘alaih: Shahih al-Bukhari (no. 1650), Shahiih Muslim (no. 2403), Sunan at-Tirmidzi (no. 855), Sunan Ibnu Majah (no. 2879), Sunan an-Nasa-i (no. 2582]

Haji merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan bagi orang yang sudah mampu atau telah memenuhi segala persyaratannya. Pergi haji juga bisa berarti jihad di jalan Allah; mencurahkan harta, tenaga, meninggalkan keluarga dan negara menuju ke Tanah Haram untuk memenuhi panggilan-Nya.Calon Jemaah haji harus mengantri terlebih dulu sampai bertahun-tahun karena  adanya keterbatasan kuota untuk jamaah haji dan masa pandemi sehingga butuh kesabaran ekstra. Mereka yang pergi haji jelas berharap mendapatkan haji yang mabrur karena balasan haji mabrur adalah surga.

Kota Makkah ini dijadikan Allah sebagai tempat beribadah para hambanya sepanjang masa, dari manusia pertama Adam a.s., Ibrahim a.s. sampai Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ummatnya sampai akhir zaman. Untuk itu, Allah SWT membangun “Rumah-Nya” (Baitullah, Ka’bah) di kota ini, sebuah tempat yang tidak boleh seorang pun masuk ke dalamnya kecuali dengan kerendahan hati, khusyu’, dengan kepala terbuka serta meninggalkan bentuk pakaian dan perhiasan dunia. Inilah tempat, dimana Allah SWT menjadikannya sebagai penghapus dosa-dosa masa lalu.

Predikat haji mabrur memang menjadi hak prerogative Allah, akan tetapi umumnya masyarakat bisa melihat dan memahami ciri atau tanda haji mabrur adalah ketika jamaah haji pulang ke kampung halamannya seusai menunaikan ibadah haji . Perubahan pemikiran, sikap,ucapan  perilaku   jamaah haji terebut harus menjadi lebih baik bukan sama atau malah sebaliknya. Sedangkan jamaah haji setelah manasik di tanah suci yang kedapatan di tengah kita baik tetangga, sahabat, kerabat, atau sekadar kenal, yang berperilaku kalau bukan buruk, tidak lebih baik dari sebelum haji, kita tidak boleh memvonisnya bahwa jamaah haji tersebut tidak menyandang predikat mabrur karena pemberian predikat mabrur atau tidak mabrur haji seseorang merupakan hak Allah semata, bukan hak kita sebagai manusia.

Bagaimana supaya kita bisa meraih haji mabrur? Pertama, luruskan niat beribadah. Tunaikan ibadah haji sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah agama dan memenuhi Rukun Islam kelima. Dengan meluruskan niat, kamu dapat menjaga kemurnian tujuan berhaji. Jauhkan pikiran dari hasrat untuk menaikkan status sosial atau sekadar pamer kesalehan. Kedua, memahami filosofi di balik rukun haji dan wajib haji. Selain itu, kuasai bacaan-bacaan doa dalam tahapan-tahapan ibadah haji. Ini bisa membantu kamu lebih khusyu’ ketika beribadah kelak di Tanah Suci. Ketiga, fokus pada hal yang substantif selama berhaji. Selama di Tanah Suci, fokuskan pikiran dan energi untuk melakukan rukun haji dan wajib haji secara khusyu’. Ada 6 rukun haji yaitu ihram (niat), wukuf di Arafah, thawaf ifadah, sa’i, bercukur (tahalul) dan tertib. Apabila tidak melaksanakan salah satunya, maka ibadah haji tak sah (https://blog.principal.co.id/id/memahami-makna-haji-mabrur-3-hal-yang-perlu-kamu-ketahui).

Selain itu ada juga 6 wajib haji yaitu ihram haji dari mīqāt, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melontar jumrah, menghindari perbuatan yang terlarang dalam keadaan berihram, dan thawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah. Berusahalah untuk selalu tenang dan berkepala dingin agar bisa fokus pada yang hal utama, yaitu rukun dan wajib haji.

Ibadah haji memilki dampak-dampak positif dan kemanfaatan yang banyak baik bagi individu yang melaksanakan ibadah haji maupun masyarakat pada umumnya. Bagi yang melaksanakan ibadah haji, akan terpancar kebaikan dan kesalihan dari pribadinya. diharapkan dari haji mabrur itu adalah perubahan sikap yang dilakukan oleh para haji sebagai hasil dari penggemblengan fisik dan mental melalui rangkaian rukun, wajib, dan sunnah haji.  Setelah pulang kembali ke tanah air memberikan tauladan dalam beribadah sehingga akan memacu umat muslim untuk berkeinginan dan berusaha untuk dapat menunaikan ibadah haji dengan melihat prilaku dalam kehidupan sehari-hari seperti  ibadahnya semakin rajin, sedekahnya semakin masif, dan amal ibadah lainnya semakin ditingkatkan dan akhirnya akan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar dia tinggal.

Sebagai seorang yang menyandang gelar Haji harus dapat menunjukan kepada masyarakat  bahwa setelah melaksanakan ibadah haji ibadah dan perilaku mereka menjadi lebih baik, tapi  bila perilakunya justru semakin menjengkelkan, apalagi semakin kikir, hal ini justru akan menimbulkan pikiran negatif di orang-orang sekitarnya. Mereka pasti akan berpikir, untuk apa naik haji kalau perilakunya malah tidak baik atau semakin kikir, ini tidak akan memotivasi orang lain untuk bersikap seperti kita. Maka dari itu ketika akan menunaikan ibadah haji maka yang harus dilakukan adalah Tidak ada unsur-unsur lain, seperti ingin diberi gelar haji atau meningkatkan status sosial, apalagi untuk kepentingan politik saja. Jadi, nomor satu harus betul-betul (ibadah haji) ikhlas karena Allah SWT.Jangan ada unsur-unsur, ingin dipuji, ada unsur ingin mendapatkan status, dan lain-lain. Misalnya, ketika telah pulang ke Tanah Air setelah menunaikan ibadah haji, kalau tidak dipanggil “haji”, tidak usah marah. Kalau orang lupa menuliskan namanya dengan gelar haji, juga tidak usah marah, dan ketika tengah melaksanakan ibadah haji tidak perlu mengunggah kegiatan kita ke media sosial. Misalnya, mengunggah foto ketika sedang melakukan rukun haji ini disadari ataupun tidak akan mengganggu kekhusyukkan dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah haji.

Haji mabrur atau umrah yang mabrur, menurut M.Quraish Shihab berarti orang yang harus menepati janjinya, janji kepada Allah mulai dari memenuhi panggilan haji, Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu. Jadi haji atau umrah yang mabrur tidak ditentukan sah dan tidaknya umrah/haji tetapi menepati janji yang telah diucapkan kepada Allah. Dia berjalan thawaf mengelilingi rumah Allah sampai tujuh kali berarti dia berjanji akan memasukkan kehidupannya dalam lingkungan Allah, dia berjalan dari bukit Safa sampai Marwa dan di ruas tertentu harus mempercepat jalannya artinya dia berjanji akan berusaha mencari kehidupan dengan niat yang suci dan usaha yang sungguh sungguh sampai apapun hasilnya, itu hanya Allah yang memutuskan. Ketika calon jamaah haji melempar jumrah, mereka berjanji akan memusuhi syetan karena syetan mengajak pada kesesatan.

Semoga jamaah haji kita menjadi haji mabrur dan akan membawa perubahan pada masyarakat di lingkungan mereka bermukim sehingga ada dan tidaknya mereka akan sangat berbeda. Mereka akan menjadi teladan dan kehadirannya selalu memberikan kesejukan dan manfaat nyata. (*)

(* Artikel ini ditulis oleh:

  • Drs. H. Priyono, M.Si (Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
  • Suparto, S.Pd. MM. (Guru Geografi SMA Negeri 1 Way Lima, Lampung)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/