Kelompok Kontak Tani Andalan (KTNA) Surakarta.
Masyarakat mulai memberdayakan lingkungan rumah untuk pemberdayaan pertanian, perikanan, dan peternakan. Bahkan, ke depan ini bisa dikemas menjadi wisata pertanian di tengah kota.
Seperti dilakukan Kelompok Kontak Tani Andalan (KTNA) Surakarta ini. Kemarin, mereka memberi bimbingan bagaimana merawat sayuran dengan sistem mini minaponik kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Dahlia 9 di Kelurahan Pucangsawit, Jebres.
Ketua KTNA Surakarta Felik Angga Rustam Rinjaya mengatakan, mina berasal dari kata ikan dan ponik berasal dari kata budidaya. Dengan sistem ini, ketahanan keluarga bisa dipenuhi dengan skala minim tempat yang juga praktis. Pertanian ini cukup menggunakan pengairan sistem sumbu yang membuat petani tak perlu susah payah menyiram tanaman.
“Modelnya kita siapkan kolam bioflog mini sebagai wadah bertani. Kemudian media tanah dimasukkan ke dalam gelas plastik sebagai wadah. Sisipkan sumbu kain flanel agar bisa meresapkan air ke dalam media tanah, dan siapkan 100 bibit lele ke dalam kolam bioflog,” katanya, Senin (10/8).
Ditambahkan, mini bioflog yang digunakan tinggi 50 centimeter dan lebar 60 centimeter dengan kapasitas 100 liter air. “Kenapa harus ikan lele? Lele kerap diberi makan pelet yang banyak mengandung protein. Kotorannya berfungsi karena mengandung unsur nitrogen yang bagus untuk mineral tanaman. Waktu panen sayuran bisa sepekan hingga 25 hari. Harapannya, kita bisa panen lele dalam 2,5 bulan dengan muatan sepuluh kilogram,” ungkapnya.
Perawatan diharuskan secara rutin. Untuk mendapatkan air berkualitas baik, setiap hari volume air di dalam bioflog harus dikurangi 30 persennya kemudian disiramkan ke tanaman yang bukan hidroponik. Jika sudah, air yang tadinya berkurang ditambah 30 persen kembali.
“Kita butuh penyiraman setiap hari. Sudah pasti diganti lagi airnya 30 persen. Dengan pergantian rutin, maka kualitas air terjaga baik,” paparnya.
Menurut Angga, instalasi mini minaponik merupakan kreativitas dalam menanggulangi risiko kekurangan pangan keluarga. Dengan ini, Ia berharap masyarakat bisa berpikir kreatif dan tidak menyalahkan keadaan.
“Kami tidak perlu berpikir bahwa kondisi ini merupakan hukuman dari Tuhan, optimis saja, kita manusia yang cukup tangguh dan bisa beradaptasi dengan lingkungan. Maka, dengan apa yang kita miliki, mari berpikir kreatif dan inovatif pasti ada jalan keluar,” harap Angga.
Sementara itu, Ketua KWT Dahlia 9 Pucangsawit RT 1 RW 9 Haryatmi mengaku senang kelompoknya dibantu menanam dan mengolah hasil pertanian meski minim lahan. Bahkan, dia bercita-cita menjadikan kampung miliknya menjadi kampung wisata pertanian di tengah kota.
“Sangat senang, kami dibantu dispertan sehingga bisa menciptakan keinginan kami menjadikan kampung ini sebagai kampung wisata. Selain menanam dan mengolah, kami juga bisa memasarkan hasil tani dari dispertan,” tandasnya. (ryn/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra