ADA beberapa faktor seseorang membenci orang lain. Dia membenci seseorang, bisa karena orang itu pernah menipu. Bahkan dosen bisa dibenci oleh mahasiswa, karena memberi nilai D kepada mahasiswanya.
Termasuk beda pilihan figur dalam kancah perpolitikan. Seperti pemilihan kepala daerah (pilkada) atau pemilihan presiden (pilpres). Bisa memunculkan rasa saling membenci. Dan banyak lagi faktor lain yang menyebabkan munculnya kebencian.
Benci merupakan sifat manusia yang dapat dimaknai sangat tidak suka kepada sesama (human). Namun lain cerita jika seseorang sangat tidak suka kepada buah, misalnya durian. Maka itu bukan berarti membenci durian.
Seseorang membenci orang lain, itu merupakan sifat yang wajar. Dan itulah dinamika kehidupan. Jika diri kita dibenci orang lain, perlu disyukuri. Sebab ada yang mengingatkan. Kemungkinan perilaku atau tindak tutur kita kurang mengenakkan orang yang membencinya.
Kita sebagai orang, biasa dibenci itu lumrah. Nabi Muhammad SAW sebagai panutan pun, banyak yang membencinya. Saat beliau masih hidup, Abu Jahal dan Abu Lahab termasuk orang-orang yang paling membencinya.
Nabi Muhammad SAW dibenci oleh kedua Abu itu, termasuk orang-orang kafir Quraisy karena berbeda keyakinan. Saking bencinya kepada Nabi Muhammad SAW, maka orang-orang kafir berusaha membunuhnya. Bahkan sampai sekarang pun, Nabi Muhammad SAW banyak yang membencinya, seperti kaum Yahudi.
Intinya, sifat benci itu muncul karena dalam dirinya ada perbedaan yang mencolok dengan orang yang dibencinya. Kemunculannya bisa bersamaan dengan sifat emosi yang menyertainya. Jadi, benci dan emosi merupakan satu kesatuan tak terpisahkan.
Brigadir Yosua dibunuh, diduga karena dia dibenci oleh orang yang mengharapkannya tewas. Pelatih sepak bola di Inggris dipecat, karena dia dibenci. Tawuran terjadi, karena adanya saling membenci. Serta perang modern antara Rusia dengan Ukraina, karena adanya saling membenci antar kedua pimpinannya.
Perilaku benci-membenci itu bisa terjadi pada setiap manusia. Kadar dan durasinya bisa berbeda-beda. Sifat benci dalam kegiatan membenci itu, sangat berkaitan dengan keikhlasan dan kesabaran. Jika Anda membenci orang lain, maka termasuk orang yang tidak ikhlas dan tidak sabar.
Misalnya, jagoan Anda kalah dalam pertandingan sepak bola. Kemudian Anda membenci pemain yang mengalahkannya. Maka, Anda termasuk orang yang belum ikhlas dan tidak sabar. Beruntung sifat bencinya hanya dilontarkan dengan kata-kata, bukan dengan tindakan kekerasan.
Kebencian itu membutakan segalanya, baik dalam ucapan maupun tindakannya. Misalnya, si Fulan membenci si Anu. Maka dapat dipastikan si Fulan akan mengatakan hal-hal yang buruk. Meskipun si Anu memiliki prestasi dan tekun beribadah, namun tetap saja dia dibenci. Bahkan segala kebaikan yang dimiliki si Anu akan dibalikkan menjadi keburukan.
Maka, perbuatan dan hasil apapun yang telah dicapainya, tidak ada artinya bagi pembenci. Dia telah dibutakan mata hatinya, dan dirinya harus membenci. Secara ekstrem dapat diungkapkan dengan contoh sederhana.
Misalnya, si Anu mengatakan bahwa, Bangkok adalah ibu kota Thailand. Maka si Fulan yang sangat membenci si Anu tidak akan percaya. Hal yang logis jika ditangkap oleh pembenci, maka akan menjadi tidak logis.
Contoh dalam sejarah Islam, Abrahah sangat membenci Kabah. Sehingga dia ingin menghancurkannya. Setan sangat benci kepada orang yang suka beramal dan rajin beribadah. Sebaliknya, orang yang suka mencuri, penipu, koruptor, pezina, dan suka mabuk-mabukkan, maka setan tidak membencinya. Sebab, perilaku seperti itu sama dengan setan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa benci itu membutakan segalanya. (*) Editor : Damianus Bram