SAYA pernah bertanya kepada orang Amerika Serikat, yang menguasai beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia tentang bahasa paling mudah. Dia menjawab bahwa, bahasa Indonesia itu paling mudah dipelajari. Dibandingkan bahasa Jerman, Prancis, Cina, dan Arab. Jawaban itu logis, karena dia mempelajari berbagai bahasa sebagai alat komunikasi.
Di satu sisi, bahasa Indonesia dikatakan mudah jika ditinjau berdasarkan fungsinya, yaitu untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, banyak anak Indonesia usia 5 tahun, bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Di era digital seperti sekarang ini, banyak orang tua di daerah-daerah berkomunikasi dengan anaknya yang masih balita, selalu menggunakan bahasa Indonesia. Dampaknya, bahwa anak yang lahir dan dibesarkan di Jawa, kebanyakan sulit berbahasa Jawa “kromo inggil”.
Mereka lebih suka berbahasa Indonesia, jika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Kenyataannya memang bahasa Indonesia lebih mudah dibandingkan bahasa Jawa. Khususnya “kromo inggil”.
Orang pribumi yang mempelajari bahasa asing, pernah menyatakan bahwa bahasa Indonesia itu sulit. Di sisi kedua, bahwa bahasa Indonesia itu ternyata sulit. Hal itu dinyatakan sendiri oleh orang asli Indonesia tersebut.
Pernyataan seperti itu logis, karena bahasa Indonesia dikatakan sulit jika ditinjau berdasarkan kaidah keilmuan. Artinya, bahasa Indonesia dikatakan sulit sebagai ilmu. Kaidah ilmu bahasa Indonesia itu berkaitan dengan benar-salah, efektif-tidak efektif, dan baku-tidak baku.
Seorang mengatakan kata sorga, respon, dan apotik. Maka kata-kata itu sepertinya sudah baku atau benar. Padahal ketiga kata tersebut tidak baku. Bakunya adalah surga, respons, dan apotek. Jika Anda menulis frase di kantor dan di bulan Desember, maka tulisan itu salah. Frase yang benar adalah di kantor dan pada bulan Desember.
Selanjutnya jika ada guru menulis kalimat: Dalam masyarakat Jawa mengenal Sadranan. Maka kalimat tersebut salah atau tidak efektif. Kalimat yang benar adalah: Dalam masyarakat Jawa dikenal Sadranan.
Saat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, terpenting adalah mitratutur memahami isi tuturannya. Dia tidak peduli bahasanya salah atau benar, serta efektif atau tidak efektif. Namun, bahasa Indonesia sebagai ilmu pengetahuan akan ditelaah aspek kebahasaannya. Kaidahnya benar apa salah?
Oleh karena itu, muncul pertanyaan mengapa salah dan mengapa tidak efektif? Jawabannya dilakukan dengan kegiatan menelaah, atau menganalisis yang merupakan ciri pembahasan ilmu pengetahuan.
Dua sisi lain, bahasa Indonesia selalu menarik untuk disandingkan dan didiskusikan. Penggunaan bahasa Indonesia dalam komunikasi, selalu dipraktikkan agar penggunanya lebih lancar. Hal itu masuk ranah keterampilan berbahasa.
Bahasa Indonesia sebagai ilmu, selalu dipelajari. Agar orang yang mempelajari lebih memahami. Hal itu masuk ranah kemampuan bahasa atau linguistik. (*) Editor : Damianus Bram