Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Ibu dan Guru, Penopang Literasi Nasional: Dari Madrasah Pertama hingga Kebijakan Wajib Membaca dan Menulis Resensi untuk Masa Depan Bangsa

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 17 Desember 2025 | 13:00 WIB
Dwi Haryanti, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dwi Haryanti, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Oleh: Dwi Haryanti*)

RADARSOLO.COM - Tidak ada fondasi peradaban yang lebih kokoh daripada kemampuan membaca dan menulis.

Namun, sebelum sekolah memainkan perannya, seorang anak terlebih dahulu belajar mengenali dunia lewat suara, cerita, dan sentuhan ibunya.

Di pangkuan ibu itulah seorang manusia kecil mendapatkan pelajaran pertamanya tentang bahasa, imajinasi, rasa ingin tahu, dan kelak—ketika tumbuh menjadi pelajar—kemampuan memahami dunia.

Karena itu, ketika pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menguatkan kebijakan wajib membaca buku dan menulis resensi, panggung sesungguhnya tidak hanya berada di ruang kelas.

Ia dimulai dari ruang keluarga, dari madrasah pertama bernama rumah, dan guru pertamanya bernama ibu.

Kebijakan literasi tidak akan pernah benar-benar berhasil jika hanya mengandalkan instruksi administratif.

Ia membutuhkan ekosistem: keteladanan, dukungan emosional, dan kebiasaan yang dibangun secara konsisten.

Di sinilah ibu dan guru menjadi dua soko guru literasi yang saling menguatkan. Ibu membangun pondasinya, guru menyusun bangunannya, dan negara menyediakan atap pelindungnya melalui kebijakan.

Ketika ketiganya berjalan beriringan, kita akan memiliki generasi muda yang bukan hanya mampu membaca dan menulis, tetapi mampu memahami, mengkritisi, dan melahirkan ide-ide baru.

Inilah yang Indonesia butuhkan untuk masa depan.

Ibu sebagai Madrasah Pertama: Menanamkan Benih Literasi Sejak Dini

Baca Juga: Di Balik Viral Penolakan: Seberapa Besar Potensi Geotermal di Gunung Lawu?

Sebelum seorang anak mengenal huruf di sekolah, ia belajar mengenal makna di rumah.

Ibu yang membacakan cerita menjelang tidur, mengajak anak berdialog dengan kalimat penuh ekspresi, atau membiasakan anak membuka buku cerita, sesungguhnya sedang menanamkan benih literasi yang sangat berharga.

Penelitian global menyebutkan bahwa early literacy exposure—paparan literasi sejak usia dini—berkaitan erat dengan perkembangan kosakata, kecerdasan bahasa, kemampuan berpikir kritis, serta prestasi akademik pada usia sekolah.

Kegiatan kecil di rumah seperti menanyakan, “Cerita tadi tentang apa?” atau “Menurutmu tokoh itu baik atau tidak?” dan “Mengapa dikatakan baik atau tidak baik?” sebenarnya adalah latihan literasi tingkat tinggi: memahami teks, menilai karakter, hingga menyusun argumen.

Tidak heran, anak yang tumbuh dengan budaya membaca di rumah cenderung mampu mengikuti program membaca dan menulis resensi di sekolah dengan lebih baik.

Mereka tidak hanya membaca untuk menyelesaikan kewajiban, tetapi membaca karena terbiasa menikmati cerita dan memaknai pesan.

Di sinilah kekuatan ibu sebagai madrasah pertama. Mereka tidak hanya mengajarkan alfabet, tetapi membentuk kecintaan terhadap ilmu, cinta terhadap cerita, dan rasa percaya diri dalam berbahasa. Inilah modal utama untuk menjadi pembaca sepanjang hayat.

Guru sebagai Soko Guru Literasi: Mengubah Kebiasaan Menjadi Kemampuan

Jika ibu membangun fondasinya, maka guru-lah yang memperkuat struktur literasi. Di sekolah, anak belajar membaca bukan hanya sebagai aktivitas, tetapi sebagai kompetensi akademik: memahami struktur teks, mengidentifikasi ide pokok, menghubungkan satu paragraf dengan paragraf lain, dan menyusun resensi yang baik.

Dalam kebijakan wajib membaca dan menulis resensi, guru berperan sebagai fasilitator yang memastikan bahwa membaca bukan sekadar menyelesaikan jumlah buku.

Tetapi memahami isi buku dan ini dapat membaca buku apa saja termasuk semua pelajaran yang diberikan di sekolah.

Guru mengajak siswa berdiskusi tentang isi, tema, pesan moral, alur, dan karakter.

Ketika guru membimbing menyusun resensi—mulai dari ringkasan, ulasan kritis, hingga rekomendasi buku—anak sebenarnya sedang mengembangkan kemampuan analisis, sintesis, hingga evaluasi.

Ini adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi yang sangat dibutuhkan di abad ke-21.

Guru juga berperan penting dalam mengubah kewajiban menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Melalui metode seperti reading corner, book talk, atau peer review, anak belajar bahwa membaca tidak selalu identik dengan tugas, melainkan petualangan dan dialog.

Dengan demikian, literasi menjadi budaya, bukan sekadar aktivitas rutin.

Belajar dari Negara Lain: Kolaborasi Rumah dan Sekolah adalah Kunci

Banyak negara dengan tingkat literasi tinggi menunjukkan pola keberhasilan yang sama: sinergi antara orang tua, guru, dan kebijakan pendidikan.

Negara yang menduduki tiga peringkat dari tujuh 7 negara dengan literasi membaca tingkat tinggi didunia.

Finlandia, misalnya—negara yang hampir selalu berada di peringkat teratas literasi dunia—menempatkan budaya membaca keluarga sebagai fondasi pendidikan nasional.

Pemerintah menyediakan buku murah, perpustakaan ramah anak, dan mendorong kegiatan family reading hours. Guru kemudian memperkuatnya dengan pembelajaran membaca yang berbasis pemahaman, bukan berbasis tes.

Norwegia menempati posisi kedua dalam daftar negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia.

Negeri ini dikenal memiliki kualitas pendidikan yang sangat unggul.

Salah satu faktor pendukungnya ialah adanya program pemerintah bernama Strategi Nasional Norwegia, yang menekankan dua hal penting: pengembangan kompetensi profesional bagi guru yang sedang bertugas (in-service training) serta peningkatan kualifikasi pendidik secara berkelanjutan.

Aspek literasi—khususnya budaya membaca masyarakat—masuk ke dalam program pengembangan profesional tersebut. Pada tahun 2003, pemerintah meluncurkan kebijakan untuk menyediakan ruang baca di seluruh sekolah sebagai bagian dari upaya menumbuhkan minat baca sejak dini.

Islandia tercatat berada di urutan ketiga dalam daftar negara dengan tingkat literasi tertinggi menurut World’s Most Literate Nations (WMLN).

Tradisi membaca di negara ini telah berakar kuat sejak masa awal kemerdekaannya.

Salah satu bukti historisnya tampak dalam karya abad ke-13 berjudul The Icelandic Sagas, yang menggambarkan perjuangan masyarakat menuju kemerdekaan dan menunjukkan bahwa kegiatan membaca sudah menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

Akibatnya, aktivitas membaca tidak hanya dianggap menarik, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang mendalam.

Sejak tahun 2010, pemerintah turut memperkuat budaya ini dengan memberikan subsidi sebesar 25 persen kepada industri penerbitan, sehingga biaya produksi buku menjadi lebih rendah dan harga jualnya semakin terjangkau bagi masyarakat.

Kebijakan tersebut terbukti efektif: minat baca terus meningkat, dan buku bahkan menjadi pilihan hadiah yang paling populer di kalangan warga Islandia. https://ntb.idntimes.com/life/inspiration/7-negara-dengan-tingkat-literasi-tertinggi-di-dunia-00-74scm-1czdj0

Tiga contoh tersebut menunjukkan satu hal penting: kebijakan literasi tidak berjalan di ruang hampa. Ia membutuhkan keluarga yang terlibat, guru yang berkomitmen, dan budaya membaca yang hidup. Indonesia sedang bergerak ke arah itu—dan membutuhkan penguatan di tataran ekosistem.

Sinergi Ibu–Guru untuk Kesuksesan Literasi Nasional

Sering kali sebuah program pendidikan gagal bukan karena kebijakan buruk, tetapi karena ekosistemnya tidak hidup. Literasi tidak akan tumbuh bila hanya diserahkan pada sekolah.

Ia membutuhkan dukungan rumah dan relasi emosional antara ibu, anak, dan kegiatan membaca.

Pertama, ibu dan didukung bapak dapat menjadi pendorong utama kebiasaan membaca dengan memberikan contoh dan mengajak belanja ke toko buku agar anak dapat memilih buku yang disenanginya.

Apakah semua orang tua melakukan ini? Jadwal membaca bersama, menyediakan sudut baca kecil, atau memberi apresiasi sederhana ketika anak menyelesaikan buku adalah bentuk dukungan yang sangat besar dampaknya.

Kedua, guru perlu memberikan panduan praktis agar orang tua mudah berpartisipasi.

Daftar buku ramah anak, contoh resensi sederhana, hingga komunikasi rutin tentang perkembangan membaca dapat mengurangi jarak antara keluarga dan sekolah.

Ketiga, komunikasi dua arah antara ibu atau oarng tua dan guru harus diperkuat. Guru dapat menginformasikan minat anak dan perkembangan kemampuan literasinya.

Sementara ibu yang didukung bapak dapat menyampaikan bagaimana anak membaca di rumah. Sinergi ini menciptakan lingkaran motivasi yang terus menguat.

Dampak Jangka Panjang bagi Generasi dan Masa Depan Bangsa

Generasi yang tumbuh dengan budaya membaca dan kebiasaan menulis resensi memiliki kualitas berpikir yang lebih baik.

Mereka mampu memahami informasi secara kritis, memilah hoaks, menyusun argumen, dan mengomunikasikan ide dengan jelas.

Dalam jangka panjang, ini akan memengaruhi kualitas demokrasi, produktivitas ekonomi, dan daya saing bangsa.

Membangun generasi pembaca hari ini berarti membangun masa depan Indonesia.

Hari Ibu sebagai Momentum Literasi Keluarga

Peringatan Hari Ibu 22 Desember menjadi momen penting untuk mengingatkan kembali bahwa pendidikan pertama seorang anak tidak terjadi di kelas, tetapi di rumah.

Ketika ibu dan guru berjalan bersama, kebijakan literasi tidak hanya menjadi aturan, tetapi menjadi gerakan nasional. Dan gerakan itulah yang akan menentukan kualitas generasi mendatang.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi, tetapi oleh kesediaan ibu dan guru untuk terus menjadi penopang literasi—dua soko guru bangsa yang kekuatannya tidak tergantikan. (*)

*) Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMS, Ketua PRA Ngadirejo, Kartasura, dan Ketua Majelis Pembinaan Kader PCA Kartasura

Editor : Tri wahyu Cahyono
#ibu #literasi nasional #dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta #Dwi Haryanti #madrasah pertama #guru #menulis resensi