Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Ketika Tugas Sekolah Dikerjakan AI

Niko auglandy • Rabu, 25 Februari 2026 | 05:13 WIB

Aris Rakhmadi, Dosen UMS
Aris Rakhmadi, Dosen UMS

BEBERAPA bulan terakhir, banyak guru dan dosen merasakan gejala yang sama. Tugas rangkuman siswa tampak rapi, jawaban esai mengalir logis. Namun saat diajak berdiskusi lebih jauh, tidak sedikit siswa yang kesulitan menjelaskan kembali apa yang mereka tulis. Jawabannya benar, tetapi pemahamannya tipis.

Kita sedang memasuki era baru pendidikan: ketika tugas sekolah dapat dikerjakan oleh kecerdasan buatan.

Dulu, belajar sains adalah perjalanan panjang. Siswa harus mencari sumber, membaca banyak referensi, membandingkan informasi, lalu menyusun kesimpulan sendiri. Prosesnya lambat, kadang membingungkan, bahkan melelahkan. Tetapi justru di situlah kemampuan berpikir terbentuk. Sains tidak lahir dari jawaban instan, melainkan dari proses bertanya, mencoba, salah, memperbaiki, lalu mencoba lagi.

Hari ini, pola itu berubah drastis. Siswa cukup mengetik pertanyaan, menekan tombol, dan dalam hitungan detik memperoleh jawaban yang tampak lengkap dan meyakinkan. Kita bergerak dari era kelimpahan informasi menuju era kelimpahan jawaban.

Perubahan ini tentu membawa manfaat besar. Akses pengetahuan menjadi lebih merata. Siswa dapat belajar lebih cepat, menemukan referensi lebih luas, dan memperoleh bantuan kapan saja. Teknologi membuka pintu belajar bagi siapa pun. Namun di balik kemudahan itu muncul pertanyaan penting: apakah kemudahan memperoleh jawaban membuat proses berpikir menjadi semakin dangkal?

Di ruang kelas, fenomenanya mulai nyata. Tugas rangkuman yang dulu menuntut membaca banyak sumber kini bisa selesai dalam hitungan detik. Bahkan jawaban esai dapat dibuat runtut tanpa proses berpikir panjang.

Masalahnya bukan pada teknologinya. Teknologi selalu menjadi bagian dari evolusi pendidikan. Kalkulator tidak mematikan matematika. Internet tidak mematikan perpustakaan. Demikian pula AI tidak akan mematikan pendidikan. Tantangan sesungguhnya adalah perubahan cara belajar yang terjadi.

Hal yang paling berharga sebenarnya bukanlah jawaban, melainkan proses menuju jawaban. Sains dibangun melalui siklus: mengamati, bertanya, merumuskan hipotesis, melakukan eksperimen, menganalisis data, lalu menyimpulkan. Proses ini tidak selalu mulus. Ada kebingungan, kesalahan, percobaan gagal, dan revisi berulang. Namun justru pengalaman “berjuang secara intelektual” itulah yang membentuk kemampuan berpikir kritis.

Ketika jawaban bisa diperoleh secara instan, pengalaman berjuang itu berisiko hilang. Muncul fenomena shortcut learning: mengetahui jawaban tanpa mengalami proses pencarian pengetahuan. Dampaknya adalah ilusi seolah-olah sudah mengerti hanya karena mampu menyalin jawaban yang tampak benar. Dalam jangka panjang, siswa terbiasa menerima keluaran teknologi tanpa mempertanyakan kebenaran atau keterbatasannya.

Di sinilah peran guru menjadi krusial. Pendidikan tidak boleh terjebak pada perang melawan teknologi. Melarang AI bukan solusi realistis. Yang diperlukan adalah perubahan strategi pembelajaran.

Pertama, kita perlu mulai menilai proses, bukan hanya hasil akhir. Jurnal eksperimen, logbook, refleksi belajar, diskusi kelas, dan presentasi menjadi semakin penting. Dengan cara ini, siswa tidak bisa sekadar menyerahkan hasil tanpa menunjukkan perjalanan berpikirnya.

Kedua, transparansi penggunaan AI perlu menjadi bagian dari etika akademik. Menggunakan AI tidak salah, tetapi menyembunyikan penggunaannya adalah masalah integritas.

Ketiga, AI harus diposisikan sebagai mitra berpikir, bukan pengganti berpikir. Teknologi dapat digunakan untuk mencari ide, membandingkan teori, atau melakukan simulasi sebelum praktikum. Namun pengalaman eksperimen nyata tetap tidak tergantikan.

Guru bahkan dapat menjadikan AI sebagai bahan pembelajaran kritis: membandingkan jawaban AI dengan hasil eksperimen siswa, menganalisis kesalahan jawaban AI, atau memverifikasi fakta ilmiah yang dihasilkan teknologi. Aktivitas semacam ini mengajarkan satu hal penting: jawaban yang tampak meyakinkan tetap harus diuji.

Kita perlu mengingat bahwa AI bekerja berdasarkan probabilitas, bukan kebenaran absolut. Ia dapat menghasilkan bias dan kesalahan. Karena itu manusia tetap harus menjadi pengambil keputusan akhir dalam proses belajar.

Tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar. Tujuan utamanya adalah membentuk cara berpikir yang kritis, reflektif, dan bertanggung jawab.

Teknologi boleh semakin canggih. Jawaban boleh semakin cepat. Tetapi proses berpikir tidak boleh semakin singkat. (*) 

*) Aris Rakhmadi, Dosen UMS

Editor : Niko auglandy