Oleh:
ASTRID WIDAYANI
Wakil Wali Kota Solo
MENJELANG akhir 2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mencatat capaian yang patut diapresiasi dalam penanganan stunting. Kota Bengawan bahkan masuk dalam daftar 197 kabupaten/kota berkinerja terbaik dalam pencegahan dan penanganan stunting versi Kementerian Dalam Negeri. Solo berada di peringkat ke-18 secara nasional, dengan penurunan kasus dari 1.543 pada 2024 menjadi 1.100 kasus di awal 2025.
Angka tersebut tentu menunjukkan bahwa berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah kota mulai membuahkan hasil. Program kesehatan, edukasi gizi, hingga pendampingan keluarga berjalan relatif efektif.
Namun di balik capaian tersebut, ada satu fakta yang perlu dibaca lebih hati-hati, munculnya kenaikan kasus baru sebesar 1,34 persen dibanding tahun sebelumnya. Fenomena ini mengingatkan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kesehatan. Ia adalah masalah multidimensi yang akarnya sering kali berada di luar sektor medis.
Selama ini, stunting kerap dipahami sebagai akibat kekurangan gizi. Pemahaman tersebut memang tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak cukup. Data lapangan menunjukkan bahwa stunting bisa dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Kurangnya edukasi tentang kesiapan kehamilan, pernikahan dini, kondisi rumah dan lingkungan yang kurang sehat, hingga keterbatasan ekonomi keluarga menjadi rangkaian penyebab yang sulit dipisahkan.
Di kota yang terus berkembang seperti Solo, kompleksitas itu bahkan semakin terasa. Urbanisasi, kepadatan permukiman, dan kesenjangan ekonomi berpotensi memperkuat berbagai faktor risiko tersebut. Inilah sebabnya penanganan stunting tidak bisa hanya bertumpu pada sektor kesehatan.
Baca Juga: Kota Solo Menapaki Usia Ke-281: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan yang Inklusif
Pendekatan lintas sektor menjadi kunci. Kolaborasi antar organisasi perangkat daerah perlu diperkuat agar setiap akar persoalan dapat disentuh secara bersamaan. Sektor pendidikan, misalnya, dapat mengambil peran melalui edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja.
Pengetahuan tentang kesiapan menikah dan merencanakan kehamilan menjadi penting untuk mencegah munculnya kasus stunting sejak awal. Program pendampingan bagi calon pengantin juga dapat diperkuat melalui sinergi berbagai dinas, termasuk Dinas Pendidikan serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3P2KB).
Di sisi lain, faktor lingkungan juga tidak boleh diabaikan. Permukiman padat dengan sanitasi buruk dapat memperbesar risiko stunting pada anak. Karena itu, intervensi harus melibatkan sektor penataan ruang dan lingkungan, seperti Dinas Permukiman, Kawasan Perumahan dan Pertanahan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, serta Dinas Lingkungan Hidup.
Sementara itu, persoalan ekonomi keluarga juga menjadi bagian penting yang harus disentuh. Keluarga dengan penghasilan rendah sering kali memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
Dalam konteks ini, peran Dinas Sosial dan Dinas Tenaga Kerja menjadi penting untuk menghadirkan program pemberdayaan ekonomi bagi keluarga rentan.
Pemkot Solo saat ini masih terus mengumpulkan berbagai data hasil monitoring dan evaluasi lapangan untuk merumuskan strategi yang lebih tepat. Salah satu langkah yang akan diperkuat pada 2026 adalah pendekatan berbasis wilayah.
Sedikitnya terdapat 15 kelurahan yang telah dipetakan sebagai lokasi prioritas penanganan stunting, di antaranya Mojosongo, Jebres, Gilingan, Pajang, Pucangsawit, Nusukan, Jagalan, Karangasem, Sondakan, Banjarsari, Kadipiro, Joyotakan, Semanggi, Mojo, dan Sangkrah.
Di wilayah-wilayah tersebut, intervensi kesehatan akan tetap menjadi program dasar. Pemberian makanan tambahan melalui dapur sehat, distribusi vitamin dan tablet tambah darah bagi ibu hamil, gerakan konsumsi ikan, serta penguatan layanan posyandu akan terus dilakukan dengan melibatkan kader kesehatan dan PKK.
Namun langkah itu tidak berhenti pada intervensi medis semata. Program edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja, pendampingan calon pengantin dalam merencanakan kehamilan, pendampingan ibu hamil hingga masa 1.000 hari pertama kehidupan, penataan permukiman kumuh, hingga penguatan ekonomi keluarga miskin menjadi bagian penting dari strategi yang lebih komprehensif.
Pendekatan yang melihat karakteristik tiap wilayah ini penting, terutama di kawasan perkotaan. Penyebab stunting di wilayah urban sering kali tidak tunggal. Ia dapat lahir dari pertemuan berbagai persoalan sekaligus, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan ekonomi.
Sebab itu, keberhasilan menurunkan stunting tidak hanya ditentukan oleh pemerintah. Dukungan masyarakat, dunia usaha, serta berbagai komunitas lokal juga menjadi faktor penting.
Sebab pada akhirnya, stunting bukan sekadar angka dalam laporan statistik. Ia adalah penentu kualitas generasi yang akan tumbuh dan memimpin kota ini di masa depan. Jika Kota Solo ingin menjaga reputasinya sebagai kota yang maju dan manusiawi, maka memastikan setiap anak tumbuh sehat dan optimal adalah investasi yang tidak bisa ditawar. (*)
Editor : Kabun Triyatno