Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Jangan Sampai Puasa Jadi Petaka! Ini Strategi Berkendara Aman Versi Instruktur Safety Riding di Jawa Tengah

Laila Zakiya • Jumat, 27 Februari 2026 | 08:25 WIB

 

Ilustrasi - Berkendara di bulan puasa.
Ilustrasi - Berkendara di bulan puasa.

RADARSOLO.COM - Memasuki bulan Ramadhan, kondisi lalu lintas di Jawa Tengah mengalami perubahan signifikan.

Jalanan yang biasanya lengang bisa mendadak padat, terutama di jam-jam tertentu.

Di sisi lain, pengendara sepeda motor juga harus beradaptasi dengan kondisi tubuh yang menahan lapar dan dahaga sepanjang hari.

Perubahan pola makan, jam tidur, hingga penurunan energi menjadi tantangan nyata saat berkendara.

Jika tidak disikapi dengan tepat, risiko kecelakaan bisa meningkat, terutama ketika konsentrasi dan refleks tubuh tidak berada pada kondisi optimal.

Tubuh Saat Puasa Ibarat Ponsel Low Power Mode

Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto, menjelaskan kondisi tubuh saat puasa dengan analogi yang mudah dipahami.

"Low Power Mode"

Menurutnya, sama seperti ponsel dengan baterai menipis, tubuh manusia saat berpuasa tetap bisa berfungsi, tetapi performanya menurun.

Kadar gula darah yang lebih rendah membuat otak memproses informasi lebih lambat.

Dalam situasi darurat, seperti kendaraan mengerem mendadak di jalur lingkar Demak atau Pati, keterlambatan reaksi sepersekian detik bisa menjadi pembeda antara selamat dan celaka.

Dua Waktu Paling Rawan di Jalan Raya

Bagi pengendara di Jawa Tengah, ada dua periode yang dinilai paling berisiko selama Ramadhan.

Sore hari menjelang berbuka (ngabuburit) menjadi waktu paling berbahaya.

Kondisi fisik berada di titik terendah, sementara volume kendaraan meningkat tajam.

Banyak pengendara diliputi rasa “kesusu” atau terburu-buru, sehingga rawan melanggar rambu dan marka jalan.

Aktivitas penjual takjil di pinggir jalan juga menambah kepadatan lalu lintas.

Sementara itu, pagi hari setelah sahur tak kalah berisiko.

Rasa kantuk akibat perubahan jam tidur dapat memicu micro-sleep, terutama di jalur lurus seperti arah Rembang atau Blora.

Dalam kondisi ini, motor bisa melaju puluhan meter tanpa kendali hanya dalam hitungan detik, sebuah situasi yang sangat berbahaya.

Strategi Aman Agar Tetap Selamat Selama Puasa

Agar ibadah puasa tetap berjalan lancar tanpa mengorbankan keselamatan, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, pahami kapasitas diri. Jika mata terasa berat atau fokus mulai buyar, segeralah menepi di masjid atau rest area terdekat. Istirahat singkat 10–15 menit jauh lebih aman dibanding memaksakan diri.

Kedua, jaga jarak ekstra dengan kendaraan di depan.

Karena waktu reaksi melambat saat puasa, jarak aman sebaiknya ditambah agar otak memiliki cukup waktu untuk merespons situasi darurat.

Ketiga, hindari manuver agresif. Gerakan mendadak hanya menguras energi dan memicu emosi yang justru berbahaya di jalan raya.

Selain itu, pemilihan asupan saat sahur juga berperan penting. Konsumsi makanan berkarbohidrat kompleks yang melepaskan energi secara bertahap, perbanyak air putih, dan hindari jaket terlalu tebal di siang hari untuk mencegah dehidrasi.

“Jangan korbankan keselamatan demi mengejar waktu berbuka yang hanya selisih beberapa menit. Berkendaralah dengan sabar, karena kesabaran adalah inti dari puasa itu sendiri. Teko panggonan kanthi slamet, ibadah lancar, ati ayem,” kata Oke.

Berkendara saat puasa bukan tentang adu kuat menahan lapar dan haus, melainkan tentang kedewasaan mengelola energi dan emosi. Dengan sikap yang lebih sabar dan waspada, perjalanan tetap aman, ibadah pun terasa lebih tenang. (**)

Editor : Laila Zakiya
#cari aman #honda jateng #Astra Motor Jateng #Tips berkendara #safety riding