alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Angkat Potensi Desa Tunggul, KKN UNS 332 Usung Proker Food Garden

SRAGEN – Tunggul merupakan desa yang berada di Kabupaten Sragen sisi paling timur dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Desa Tunggul Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan demi kesejahteraan masyarakatnya, khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 saat ini.

Potensi Desa Tunggul yang paling besar yaitu bidang pertanian padi. Sistem budidaya padi di desa ini bahkan telah beberapa mendapat juara dan apresiasi dari pemerintah. Kondisi air yang melimpah disertai sistem pengairan yang baik, membuat Desa Tunggul menjadi subur dan sangat berpotensi untuk dioptimalkan.

Pada masa pandemi ini, mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) UNS kelompok 332 mengusung tema “Peningkatan Resiliensi Masyarakat Desa Tunggul dalam Menghadapi Era Pandemi Covid-19”.

Pentingnya resiliensi ini mengajarkan masyarakat untuk tetap survive dan bisa hidup berdampingan dengan bahaya atau ancaman yang sewaktu-waktu bisa menghampiri mereka. Maka dari itu, masyarakat diberikan penyuluhan bagaimana tetap bisa bertahan di masa pandemi.

Kelompok 332 beranggotakan Irawan Dwiyatna Putra (FKOR) sebagai koordinator, Muhammad Faishal Hafizh (FT), Niken Ayu Anggoroningtyas (FP), Rico Wahyu Gerhana (FH), Rizky Agung Budi Pratama (FEB), Rizky Herjananto Putro (FKIP), Safira An Najma (FP), dan Welcome Immanuel Pakpahan (FH). Dengan dosen pembimbing lapangan (DPL) Dr Singgih Hendarto, SPd, MPd.

“Kami memiliki program kerja (proker) food garden, dengan tujuan mengoptimalkan fungsi dari pekarangan rumah. Selain itu, masyarakat juga diberikan edukasi mengenai bagaimana pentingnya sebuah lingkungan yang menunjang keberlanjutan kehidupan mereka,” tutur Irawan Dwiyatna Putra.

Pembuatan food garden ini untuk mengoptimalkan fungsi dari pekarangan rumah. Food garden merupakan taman yang terdiri dari tanaman sayur, tanaman hias, tanaman obat keluarga atau yang biasa disebut Toga, serta hewan ternak. Proker ini berlangsung pada Minggu (22/8).

“Salah satu tujuan dari pembuatan food garden ini adalah untuk tercapainya kemandirian pangan keluarga,” ujar Irawan.

Lokasi berlangsungnya kegiatan ini adalah di kebun Kelompok (Tani Wanita KTW) Tani Utomo Tunggul yang terletak tidak jauh dari kantor kepala Desa Tunggul. Kegiatan ini mengikutsertakan ibu-ibu anggota KTW Desa Tunggul.

Kegiatan diawali dengan mengolah media tanam dengan kandungan tanah, sekam, dan pupuk. Dilanjutkan dengan penanaman tanaman obat keluarga (Toga) berupa serai, jahe emprit, kunyit, dan temugadung.

Proses Penanaman food garden KKN UNS 332 bersama ibu-ibu KTW Desa Tunggul.

Kegiatan dilanjutkan menanam tanaman-tanaman hias yang telah disediakan yaitu asoka merah, asoka kuning, pucuk merah, lili paris, serta krokot. Tanaman tersebut ditanam di dalam polybag kemudian ditata dengan apik di pekarangan. Hewan ternak yang diaplikasikan pada food garden kali ini adalah lele yang dibudidayakan dalam ember bersamaan dengan tanaman sayur kangkung. Sistem ini biasa disebut sebagai budikdamber (budidaya ikan dalam ember) yang menerapkan simbiosis mutualisme antara lele dan kangkung.

“Kangkung berperan sebagai penyuplai oksigen bagi lele dan biofilter. Sedangkan kotoran lele bermanfaat sebagai sumber nutrisi yang dapat menyuburkan pertumbuhan dan perkembangan kangkung. Selain itu, sistem ini juga menjadi salah satu solusi budidaya ikan di lahan yang sempit,” terang Irawan.

“Kegiatan ini sangat baik dan sesuai dengan pengembangan potensi Desa Tunggul. Dengan sistem pertanian dan pengairannya yang baik, sehingga menciptakan inovasi bagi warga dalam bercocok tanam,” ungkap Agus Sriyanto, ketua RT desa setempat.

Selain itu, apresiasi juga diberikan oleh Kepala Desa Tunggul Suntoro. “Karena program ini memanfaatkan lahan warga menjadi mandiri dan baik diterapkan masyarakat, khususnya di masa pandemi saat ini,” ucap Suntoro.

Pemanfaatan pekarangan dengan food garden ini diharapkan bisa ditularkan kepada warga lainnya. Sehingga potensi Desa Tunggul yang hanya bergerak di bidang pertanian padi dapat berkembang optimal dan menciptakan resiliensi atau ketahanan pangan di masa pandemi. Program KKN UNS 332 Sragen ini juga diharapkan menciptakan Desa Tunggul yang unggul dan menjadi percontohan yang baik bagi desa sekitarnya. (*/ria)

SRAGEN – Tunggul merupakan desa yang berada di Kabupaten Sragen sisi paling timur dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Desa Tunggul Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan demi kesejahteraan masyarakatnya, khususnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 saat ini.

Potensi Desa Tunggul yang paling besar yaitu bidang pertanian padi. Sistem budidaya padi di desa ini bahkan telah beberapa mendapat juara dan apresiasi dari pemerintah. Kondisi air yang melimpah disertai sistem pengairan yang baik, membuat Desa Tunggul menjadi subur dan sangat berpotensi untuk dioptimalkan.

Pada masa pandemi ini, mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) UNS kelompok 332 mengusung tema “Peningkatan Resiliensi Masyarakat Desa Tunggul dalam Menghadapi Era Pandemi Covid-19”.

Pentingnya resiliensi ini mengajarkan masyarakat untuk tetap survive dan bisa hidup berdampingan dengan bahaya atau ancaman yang sewaktu-waktu bisa menghampiri mereka. Maka dari itu, masyarakat diberikan penyuluhan bagaimana tetap bisa bertahan di masa pandemi.

Kelompok 332 beranggotakan Irawan Dwiyatna Putra (FKOR) sebagai koordinator, Muhammad Faishal Hafizh (FT), Niken Ayu Anggoroningtyas (FP), Rico Wahyu Gerhana (FH), Rizky Agung Budi Pratama (FEB), Rizky Herjananto Putro (FKIP), Safira An Najma (FP), dan Welcome Immanuel Pakpahan (FH). Dengan dosen pembimbing lapangan (DPL) Dr Singgih Hendarto, SPd, MPd.

“Kami memiliki program kerja (proker) food garden, dengan tujuan mengoptimalkan fungsi dari pekarangan rumah. Selain itu, masyarakat juga diberikan edukasi mengenai bagaimana pentingnya sebuah lingkungan yang menunjang keberlanjutan kehidupan mereka,” tutur Irawan Dwiyatna Putra.

Pembuatan food garden ini untuk mengoptimalkan fungsi dari pekarangan rumah. Food garden merupakan taman yang terdiri dari tanaman sayur, tanaman hias, tanaman obat keluarga atau yang biasa disebut Toga, serta hewan ternak. Proker ini berlangsung pada Minggu (22/8).

“Salah satu tujuan dari pembuatan food garden ini adalah untuk tercapainya kemandirian pangan keluarga,” ujar Irawan.

Lokasi berlangsungnya kegiatan ini adalah di kebun Kelompok (Tani Wanita KTW) Tani Utomo Tunggul yang terletak tidak jauh dari kantor kepala Desa Tunggul. Kegiatan ini mengikutsertakan ibu-ibu anggota KTW Desa Tunggul.

Kegiatan diawali dengan mengolah media tanam dengan kandungan tanah, sekam, dan pupuk. Dilanjutkan dengan penanaman tanaman obat keluarga (Toga) berupa serai, jahe emprit, kunyit, dan temugadung.

Proses Penanaman food garden KKN UNS 332 bersama ibu-ibu KTW Desa Tunggul.

Kegiatan dilanjutkan menanam tanaman-tanaman hias yang telah disediakan yaitu asoka merah, asoka kuning, pucuk merah, lili paris, serta krokot. Tanaman tersebut ditanam di dalam polybag kemudian ditata dengan apik di pekarangan. Hewan ternak yang diaplikasikan pada food garden kali ini adalah lele yang dibudidayakan dalam ember bersamaan dengan tanaman sayur kangkung. Sistem ini biasa disebut sebagai budikdamber (budidaya ikan dalam ember) yang menerapkan simbiosis mutualisme antara lele dan kangkung.

“Kangkung berperan sebagai penyuplai oksigen bagi lele dan biofilter. Sedangkan kotoran lele bermanfaat sebagai sumber nutrisi yang dapat menyuburkan pertumbuhan dan perkembangan kangkung. Selain itu, sistem ini juga menjadi salah satu solusi budidaya ikan di lahan yang sempit,” terang Irawan.

“Kegiatan ini sangat baik dan sesuai dengan pengembangan potensi Desa Tunggul. Dengan sistem pertanian dan pengairannya yang baik, sehingga menciptakan inovasi bagi warga dalam bercocok tanam,” ungkap Agus Sriyanto, ketua RT desa setempat.

Selain itu, apresiasi juga diberikan oleh Kepala Desa Tunggul Suntoro. “Karena program ini memanfaatkan lahan warga menjadi mandiri dan baik diterapkan masyarakat, khususnya di masa pandemi saat ini,” ucap Suntoro.

Pemanfaatan pekarangan dengan food garden ini diharapkan bisa ditularkan kepada warga lainnya. Sehingga potensi Desa Tunggul yang hanya bergerak di bidang pertanian padi dapat berkembang optimal dan menciptakan resiliensi atau ketahanan pangan di masa pandemi. Program KKN UNS 332 Sragen ini juga diharapkan menciptakan Desa Tunggul yang unggul dan menjadi percontohan yang baik bagi desa sekitarnya. (*/ria)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/