alexametrics
26.3 C
Surakarta
Thursday, 9 December 2021

Cegah Learning Loss, Stimulasi Anak Usia Dini Tetap Berjalan

SOLO Sejatinya sudah disiapkan delapan satuan pendidikan anak usia dini (PAUD), yang hendak menggelar pembelajaran tatap muka (PTM). Namun, pandemi Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ini membuat rencana tersebut tertunda. Karena orientasi saat ini, fokus keselamatan anak didik, pendidik, orang tua, dan lainnya.

Kepala Bidang PAUD dan Dikmas, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Galuh Murya Widawati menjelaskan, pendidikan usia dini sejatinya tidak ada kata libur. Stimulasi terhadap anak usia dini harus tetap dilakukan. Meskipun di tengah pandemi Covid-19.

Jika anak usia dini alami learning loss, mereka juga loss stimulating. Jadi ada tahapan yang tidak terpenuhi. Ini yang jadi pijakan pada perkembangan selanjutnya.

“Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di bawah bimbingan guru PAUD ke orang tua, dilakukan daring atau online. Sehingga anaknya tetap mendapat stimulasi yang bermakna. Orang tua dan keluarga perannya 60 persen dalam menididik anak. Sementara, lingkungan dan sekolah masing-masing 20 persen,” ungkap Galuh kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (4/8).

Galuh berharap, lewat PJJ, sinergitas kemitraan antara orang tua dan sekolah kian erat. Karena tujuannya sama. Mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Membentuk generasi unggul, berkualitas, dan berkarakter bagus.

“Sebenarnya materi di PAUD itu lebih pada pembentukan karakter. Serta pembiasaan perilaku positif. Bukan bagaimana anak diberikan materi akademis. Nah, sebelum pandemi, guru sudah lakukan pembiasaan itu di sekolah. Sehari paling tiga jam. Kemudian dilanjutkan orang tua,” imbuhnya.

Selain itu, guru dan orang tua dituntut mampu ciptakan pembelajaran bermakna. Bukan sekadar gemar belajar. “Supaya anak tahu apa yang dipelajari,” tuturnya.

Orang tua, lanjut Galuh, harus tahu golden time anak usia dini. Yakni antara pukul 07.00-10.00 dan 15.00-17.00. inilah saat yang tepat untuk membentuk karakter dan perilaku.

“Kalau anak tidak terdidik hal bermakna di masa golden time, ya rusak. Semisal dibiarkan tidur di jam itu. Mungkin saat ini belum ada dampaknya. Tapi akan dirasakan saat dewasa nanti,” bebernya. (nis/fer/dam)

SOLO Sejatinya sudah disiapkan delapan satuan pendidikan anak usia dini (PAUD), yang hendak menggelar pembelajaran tatap muka (PTM). Namun, pandemi Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ini membuat rencana tersebut tertunda. Karena orientasi saat ini, fokus keselamatan anak didik, pendidik, orang tua, dan lainnya.

Kepala Bidang PAUD dan Dikmas, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Galuh Murya Widawati menjelaskan, pendidikan usia dini sejatinya tidak ada kata libur. Stimulasi terhadap anak usia dini harus tetap dilakukan. Meskipun di tengah pandemi Covid-19.

Jika anak usia dini alami learning loss, mereka juga loss stimulating. Jadi ada tahapan yang tidak terpenuhi. Ini yang jadi pijakan pada perkembangan selanjutnya.

“Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di bawah bimbingan guru PAUD ke orang tua, dilakukan daring atau online. Sehingga anaknya tetap mendapat stimulasi yang bermakna. Orang tua dan keluarga perannya 60 persen dalam menididik anak. Sementara, lingkungan dan sekolah masing-masing 20 persen,” ungkap Galuh kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (4/8).

Galuh berharap, lewat PJJ, sinergitas kemitraan antara orang tua dan sekolah kian erat. Karena tujuannya sama. Mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Membentuk generasi unggul, berkualitas, dan berkarakter bagus.

“Sebenarnya materi di PAUD itu lebih pada pembentukan karakter. Serta pembiasaan perilaku positif. Bukan bagaimana anak diberikan materi akademis. Nah, sebelum pandemi, guru sudah lakukan pembiasaan itu di sekolah. Sehari paling tiga jam. Kemudian dilanjutkan orang tua,” imbuhnya.

Selain itu, guru dan orang tua dituntut mampu ciptakan pembelajaran bermakna. Bukan sekadar gemar belajar. “Supaya anak tahu apa yang dipelajari,” tuturnya.

Orang tua, lanjut Galuh, harus tahu golden time anak usia dini. Yakni antara pukul 07.00-10.00 dan 15.00-17.00. inilah saat yang tepat untuk membentuk karakter dan perilaku.

“Kalau anak tidak terdidik hal bermakna di masa golden time, ya rusak. Semisal dibiarkan tidur di jam itu. Mungkin saat ini belum ada dampaknya. Tapi akan dirasakan saat dewasa nanti,” bebernya. (nis/fer/dam)

Populer

Berita Terbaru