alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Random Swab PCR Bukan Hukuman, Tapi Pastikan Zero Klaster PTM Terbatas

SOLO Program monitoring kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di Kota Solo dilakukan dengan metode active case finding swab PCR. Ini guna mengantisipasi munculnya klaster baru penularan Covid-19 di sekolah. Sebanyak 231 sampel dari 7 SD telah diambil, Rabu (13/10).

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Etty Retnowati mengatakan, kegiatan monitoring PTM di sekolah dengan metode random sampling swab PCR akan dilakukan sebulan sekali. Menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Surakarta, random sampling swab PCR akan menyasar 16 SD dan tujuh SMP yang telah menggelar PTM terbatas.

“Setiap sekolah diambil 33 sampel. Terdiri dari 30 siswa dan tiga guru tenaga kependidikan (GTK). Khusus untuk PAUD tidak kami ajukan. Dengan alasan masih terlalu kecil untuk di- swab,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (11/10).

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Surakarta Dwi Ariyatno menambahkan, secara teknis, random testing swab PCR melibatkan tenaga medis dari beberapa puskesmas, sedangkan untuk uji labnya dilakukan di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Pabelan.

“Tim medis dari puskesmas di setiap kecamatan datang mengambil sampel ke sekolah. Sampel kemudian dibawa ke RS UNS untuk uji lab. Hasilnya nanti baru di laporkan ke dinkes. Dinkes diteruskan ke Tim Penanggulangan Satgas Covid-19 Kota Surakarta,” bebernya.

Strategi surveilans Covid-19 dengan model active case finding swab PCR dilakukan sebulan sekali dengan responden yang berbeda tiap sekolahnya. Hasil dari program tersebut akan dijadikan sebagai evaluasi dan tindakan awal tim Satgas Covid-19 Kota Surakarta untuk mengantisipasi penularan Covid-19 di kalangan pelajar.

“Misalnya bulan ini 30 siswa kelas VI, maka bulan depan tetap di sekolah yang sama, tapi dengan siswa dan guru yang berbeda” imbuhnya.

Dwi Ariyatno menekankan, kegiatan random testing dengan swab PCR bukan merupakan hukuman bagi sekolah karena melanggar protokol kesehatan. Program ini diterapkan untuk monitoring dan evaluasi kegiatan PTM terbatas. Sekaligus memastikan PTM berjalan aman dan lancar.

“Program ini juga sebagai pencegahan preventif penularan Covid-19 di sekolah, khususnya di Solo,” terang dia.

Kepala SDN Cemara Dua No. 13 Surakarta Eni Idayati mengatakan, sekolahnya ditunjuk menjadi sampel monitoring PTM di Solo. Sebelumnya telah digelar rapat koordinasi melibatkan orang tua siswa dan seluruhnya mengizinkan anaknya mengikuti swab PCR.

Alhamdulillah semua orang tua mendukung kegiatan ini. Tidak ada yang menolak. Anak-anak juga sangat semangat mengikuti swab. Bapak Ibu guru juga selalu setia mendampingi agar anak-anak tidak merasa takut. Semoga hasilnya tidak ada yang positif. Siswa dan guru-guru semoga tetap sehat. Harapan ini tidak hanya untuk SD Cemara Dua. Tapi semua sekolah di Solo,” papar Eni. (ian/wa/fer/dam)

SOLO Program monitoring kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di Kota Solo dilakukan dengan metode active case finding swab PCR. Ini guna mengantisipasi munculnya klaster baru penularan Covid-19 di sekolah. Sebanyak 231 sampel dari 7 SD telah diambil, Rabu (13/10).

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Etty Retnowati mengatakan, kegiatan monitoring PTM di sekolah dengan metode random sampling swab PCR akan dilakukan sebulan sekali. Menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Surakarta, random sampling swab PCR akan menyasar 16 SD dan tujuh SMP yang telah menggelar PTM terbatas.

“Setiap sekolah diambil 33 sampel. Terdiri dari 30 siswa dan tiga guru tenaga kependidikan (GTK). Khusus untuk PAUD tidak kami ajukan. Dengan alasan masih terlalu kecil untuk di- swab,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (11/10).

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Surakarta Dwi Ariyatno menambahkan, secara teknis, random testing swab PCR melibatkan tenaga medis dari beberapa puskesmas, sedangkan untuk uji labnya dilakukan di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Pabelan.

“Tim medis dari puskesmas di setiap kecamatan datang mengambil sampel ke sekolah. Sampel kemudian dibawa ke RS UNS untuk uji lab. Hasilnya nanti baru di laporkan ke dinkes. Dinkes diteruskan ke Tim Penanggulangan Satgas Covid-19 Kota Surakarta,” bebernya.

Strategi surveilans Covid-19 dengan model active case finding swab PCR dilakukan sebulan sekali dengan responden yang berbeda tiap sekolahnya. Hasil dari program tersebut akan dijadikan sebagai evaluasi dan tindakan awal tim Satgas Covid-19 Kota Surakarta untuk mengantisipasi penularan Covid-19 di kalangan pelajar.

“Misalnya bulan ini 30 siswa kelas VI, maka bulan depan tetap di sekolah yang sama, tapi dengan siswa dan guru yang berbeda” imbuhnya.

Dwi Ariyatno menekankan, kegiatan random testing dengan swab PCR bukan merupakan hukuman bagi sekolah karena melanggar protokol kesehatan. Program ini diterapkan untuk monitoring dan evaluasi kegiatan PTM terbatas. Sekaligus memastikan PTM berjalan aman dan lancar.

“Program ini juga sebagai pencegahan preventif penularan Covid-19 di sekolah, khususnya di Solo,” terang dia.

Kepala SDN Cemara Dua No. 13 Surakarta Eni Idayati mengatakan, sekolahnya ditunjuk menjadi sampel monitoring PTM di Solo. Sebelumnya telah digelar rapat koordinasi melibatkan orang tua siswa dan seluruhnya mengizinkan anaknya mengikuti swab PCR.

Alhamdulillah semua orang tua mendukung kegiatan ini. Tidak ada yang menolak. Anak-anak juga sangat semangat mengikuti swab. Bapak Ibu guru juga selalu setia mendampingi agar anak-anak tidak merasa takut. Semoga hasilnya tidak ada yang positif. Siswa dan guru-guru semoga tetap sehat. Harapan ini tidak hanya untuk SD Cemara Dua. Tapi semua sekolah di Solo,” papar Eni. (ian/wa/fer/dam)

Populer

Berita Terbaru