alexametrics
22.1 C
Surakarta
Wednesday, 29 June 2022

HOTS, Tantangan Utama Program MBKM 

SOLO – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menelurkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Hanya saja, implementasi program baru tersebut penuh tantangan dan hambatan. Terutama pemerataan kualitas tenaga pengajar.

Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Jamal Wiwoho menjelaskan, pemerataan kualitas guru bertujuan untuk mengurangi disparitas kualitas pendidikan di satuan pendidikan. Tantangan lainnya, yakni penerapan pembelajaran dengan higher order thinking skills (HOTS).

“Bagaimana cara untuk meningkatkan kompetensi guru, dalam pengembangan materi dan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Sehingga peserta didik tidak terlalu bergantung pada guru. Termasuk peningkatan fasilitas sekolah, kaitannya fasilitas berbasis teknologi, revitalitasi pendidikan karakter, dan soft skills siswa,” ungkapnya, kemarin (21/6).

Kualitas pendidikan di suatu negara, lanjut Jamal, berkorelasi erat dengan tingkat inovasi dan menjadi salah satu tolok ukur daya saing bangsa. Daya saing bangsa yang tinggi, akan mendorong pada kemandirian. Pada akhirnya akan membawa kesejahteraan bangsa.

“Pendidikan yang berkualitas, menjadi necessary condition bagi terciptanya bangsa yang inovatif dan berdaya saing. Terobosan baru melalui sejumlah program yang dijalankan pemerintah, mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sangat pas untuk segera diimplementasikan,” imbuhnya.

Menjawab tantangan tersebut, Jamal mengaku butuh beberapa strategi. Pertama, membuat pilot project dengan menjadikan satu kampus sebagai percontohan kampus excellent selama penerapan MBKM. Kedua, membuat pilot project delapan kampus, yang masing-masing mempunyai keunggulan di salah satu indikator kinerja utama (IKU).

Ketiga, membuat dialog yang dilakukan secara intensif, terstruktur, dan terukur. Supaya MBKM menjadi sebuah explicit knowledges bagi civitas akademika. “Keempat, yang bisa segera dilakukan yakni menyosialisasikan secara intensif, terstruktur, dan terukur terkait guru penggerak atau sekolah penggerak,” terang Jamal. (ian/fer)

SOLO – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menelurkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Hanya saja, implementasi program baru tersebut penuh tantangan dan hambatan. Terutama pemerataan kualitas tenaga pengajar.

Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Jamal Wiwoho menjelaskan, pemerataan kualitas guru bertujuan untuk mengurangi disparitas kualitas pendidikan di satuan pendidikan. Tantangan lainnya, yakni penerapan pembelajaran dengan higher order thinking skills (HOTS).

“Bagaimana cara untuk meningkatkan kompetensi guru, dalam pengembangan materi dan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Sehingga peserta didik tidak terlalu bergantung pada guru. Termasuk peningkatan fasilitas sekolah, kaitannya fasilitas berbasis teknologi, revitalitasi pendidikan karakter, dan soft skills siswa,” ungkapnya, kemarin (21/6).

Kualitas pendidikan di suatu negara, lanjut Jamal, berkorelasi erat dengan tingkat inovasi dan menjadi salah satu tolok ukur daya saing bangsa. Daya saing bangsa yang tinggi, akan mendorong pada kemandirian. Pada akhirnya akan membawa kesejahteraan bangsa.

“Pendidikan yang berkualitas, menjadi necessary condition bagi terciptanya bangsa yang inovatif dan berdaya saing. Terobosan baru melalui sejumlah program yang dijalankan pemerintah, mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sangat pas untuk segera diimplementasikan,” imbuhnya.

Menjawab tantangan tersebut, Jamal mengaku butuh beberapa strategi. Pertama, membuat pilot project dengan menjadikan satu kampus sebagai percontohan kampus excellent selama penerapan MBKM. Kedua, membuat pilot project delapan kampus, yang masing-masing mempunyai keunggulan di salah satu indikator kinerja utama (IKU).

Ketiga, membuat dialog yang dilakukan secara intensif, terstruktur, dan terukur. Supaya MBKM menjadi sebuah explicit knowledges bagi civitas akademika. “Keempat, yang bisa segera dilakukan yakni menyosialisasikan secara intensif, terstruktur, dan terukur terkait guru penggerak atau sekolah penggerak,” terang Jamal. (ian/fer)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/