alexametrics
23.4 C
Surakarta
Thursday, 7 July 2022

Pasar Kliwon dan Laweyan Jadi Prioritas

Rencana Bangun SMA Negeri di Area Blank Spot Segera Terealisasi

SOLO – Wacana pembangunan sekolah menengah atas (SMA) di area blank spot sebentar lagi akan terealisasi. Selama ini Kecamatan Pasar Kliwon, Solo belum memiliki SMA. Akibatnya, siswa dari wilayah ini sering terpental dari zonasi sekolah.

Pemkot Surakarta telah menyetujui rencana pembangunan ini oleh pemprov. Dukungan ini diberikan dengan menyerahkan 3.000 hektare tanah untuk lokasi pembangunan sekolah baru tersebut.

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka mengakui, jumlah sekolah jenjang SMA/SMK negeri di Kota Solo masih kurang untuk menampung seluruh lulusan SMP. Solusi yang diberikan yakni menambah jumlah sekolah.

“Kami sudah koordinasikan dengan Disdikbud Jateng. Solusinya memang menambah SMA negeri. Kami juga sudah menyetujui penambahan SMA negeri di area blank spot,” ujarnya Rabu (22/6).

Gibran menyebut pemprov akan membangun cabang SMAN 2 Surakarta di Pasar Kliwon. Pembangunan cabang sekolah ini dipilih, guna memudahkan proses administrasi dan efektivitas waktu. Sekaligus melihat kesiapan dari sekolah.

“Tidak dipindah. SMAN 2 tetap di lokasi semula. Rencananya ada dua cabang, biar administrasinya cepat. Saya penginnya memang yang cepat-cepat saja, karena memang sudah ready juga,” ujarnya.

Diakui Gibran, jumlah sekolah di Kota Solo memang masih sangat kurang. Hal ini membuat permasalahan baru muncul di bidang pendidikan. Daerah lain yang menjadi prioritas penambahan sekolah yakni di Kecamatan Laweyan.

“Memang masih kurang. Saya sudah mengajukan ke gubernur untuk ditambah SMA negeri. Laweyan juga masih kurang. Secepatnya akan dibangun dan diselesaikan,” ucapnya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wilayah VII Jawa Tengah Suratno membenarkan, pemkot akan menambah SMA negeri di Pasar Kliwon. Persiapan awal sudah mulai dilakukan. Dari sisi proses, sudah ada penyerahan 3.000 meter tanah di Pasar Kliwon untuk dibangun sekolah.

“Sudah mulai koordinasi. Ketentuannya memang dari Kemendikbud kalau mau bangun minimal harus ada 7.500 meter tanahnya. Karena dari sisi luasan belum memenuhi, rencana akan dibangun kampus dua dari SMAN 2 Surakarta,” jelas Suratno.

Pembangunan sekolah baru juga akan disesuaikan dengan kondisi lahan. Pada tahap berikutnya, penyerahan tanah akan diurus sampai pada tahap final di tingkat provinsi. Dari sisi provinsi, Suratno menyebut, jumlah sekolah untuk SMA/SMK negeri belum merata di semua kecamatan di Jawa Tengah.

“Di Kota Solo masih mending, tidak ada SMA negeri tapi ada SMK negerinya. Di daerah lain itu ada yang sama sekali tidak ada SMA/SMK negerinya dalam satu kecamatan. Karena memang kondisi Kota Solo sangat padat penduduknya. Wali kota sudah menyerahkan tanah untuk dibangun kampus dua SMAN 2 Surakarta” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Suyanta sebelumnya juga mengatakan, saat ini disdikbud juga tengah berupaya untuk menambah sekolah di daerah blank spot di Jawa Tengah. Upaya ini dilakukan untuk pemerataan pendidikan di masyarakat.

“Saat ini sudah banyak bupati dan wali kota yang menyerahkan tanahnya dari kabupaten ke provinsi untuk didirikan SMA/SMK negeri. Itu membuktikan bahwa wali kota atau bupati sudah peduli pada pendidikan rakyatnya,” tuturnya. (ian/bun/dam) 

SOLO – Wacana pembangunan sekolah menengah atas (SMA) di area blank spot sebentar lagi akan terealisasi. Selama ini Kecamatan Pasar Kliwon, Solo belum memiliki SMA. Akibatnya, siswa dari wilayah ini sering terpental dari zonasi sekolah.

Pemkot Surakarta telah menyetujui rencana pembangunan ini oleh pemprov. Dukungan ini diberikan dengan menyerahkan 3.000 hektare tanah untuk lokasi pembangunan sekolah baru tersebut.

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka mengakui, jumlah sekolah jenjang SMA/SMK negeri di Kota Solo masih kurang untuk menampung seluruh lulusan SMP. Solusi yang diberikan yakni menambah jumlah sekolah.

“Kami sudah koordinasikan dengan Disdikbud Jateng. Solusinya memang menambah SMA negeri. Kami juga sudah menyetujui penambahan SMA negeri di area blank spot,” ujarnya Rabu (22/6).

Gibran menyebut pemprov akan membangun cabang SMAN 2 Surakarta di Pasar Kliwon. Pembangunan cabang sekolah ini dipilih, guna memudahkan proses administrasi dan efektivitas waktu. Sekaligus melihat kesiapan dari sekolah.

“Tidak dipindah. SMAN 2 tetap di lokasi semula. Rencananya ada dua cabang, biar administrasinya cepat. Saya penginnya memang yang cepat-cepat saja, karena memang sudah ready juga,” ujarnya.

Diakui Gibran, jumlah sekolah di Kota Solo memang masih sangat kurang. Hal ini membuat permasalahan baru muncul di bidang pendidikan. Daerah lain yang menjadi prioritas penambahan sekolah yakni di Kecamatan Laweyan.

“Memang masih kurang. Saya sudah mengajukan ke gubernur untuk ditambah SMA negeri. Laweyan juga masih kurang. Secepatnya akan dibangun dan diselesaikan,” ucapnya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wilayah VII Jawa Tengah Suratno membenarkan, pemkot akan menambah SMA negeri di Pasar Kliwon. Persiapan awal sudah mulai dilakukan. Dari sisi proses, sudah ada penyerahan 3.000 meter tanah di Pasar Kliwon untuk dibangun sekolah.

“Sudah mulai koordinasi. Ketentuannya memang dari Kemendikbud kalau mau bangun minimal harus ada 7.500 meter tanahnya. Karena dari sisi luasan belum memenuhi, rencana akan dibangun kampus dua dari SMAN 2 Surakarta,” jelas Suratno.

Pembangunan sekolah baru juga akan disesuaikan dengan kondisi lahan. Pada tahap berikutnya, penyerahan tanah akan diurus sampai pada tahap final di tingkat provinsi. Dari sisi provinsi, Suratno menyebut, jumlah sekolah untuk SMA/SMK negeri belum merata di semua kecamatan di Jawa Tengah.

“Di Kota Solo masih mending, tidak ada SMA negeri tapi ada SMK negerinya. Di daerah lain itu ada yang sama sekali tidak ada SMA/SMK negerinya dalam satu kecamatan. Karena memang kondisi Kota Solo sangat padat penduduknya. Wali kota sudah menyerahkan tanah untuk dibangun kampus dua SMAN 2 Surakarta” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Suyanta sebelumnya juga mengatakan, saat ini disdikbud juga tengah berupaya untuk menambah sekolah di daerah blank spot di Jawa Tengah. Upaya ini dilakukan untuk pemerataan pendidikan di masyarakat.

“Saat ini sudah banyak bupati dan wali kota yang menyerahkan tanahnya dari kabupaten ke provinsi untuk didirikan SMA/SMK negeri. Itu membuktikan bahwa wali kota atau bupati sudah peduli pada pendidikan rakyatnya,” tuturnya. (ian/bun/dam) 

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/