alexametrics
31.8 C
Surakarta
Sunday, 25 September 2022

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia: Kunjungan Presiden Jokowi Jadi Sinyal Positif

SOLO – Belum lama ini, tepatnya 1 Juli 2022, Presiden Joko Widodo melawat ke Moskow, Rusia bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin. Kunjungan tersebut bertujuan menjembatani antara Rusia dan Ukraina demi terciptanya perdamaian dunia. Pemerintah Ukraina mengapresiasi langkah Presiden Jokowi tersebut. Kendati sampai saat ini belum ada perkembangan positif pasca kunjungan itu.

“Semua orang tahu, semua orang membicarakan soal kunjungan Presiden Jokowi (ke Ukraina dan Rusia beberapa waktu lalu). Kunjungan itu dilakukan di saat yang tepat. Saat situasi dunia sedang gonjang-ganjing. Jadi kami benar-benar butuh dukungan masyarakat dunia. Kunjungan Presiden Jokowi jadi sinyal positif dari masyarakat dunia,” ungkap Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin saat press conference sebelum Ambassadorial Lecture di FISIP UNS, Jumat (23/9) sore.

Menurutnya, kunjungan Presiden Jokowi membawa dua isu penting dalam situasi perang antara Rusia-Ukraina. Yakni tentang perdamaian dan keamanan dunia. Vasyl menyebut Presiden Jokowi jadi pemimpin Asia pertama yang peduli terhadap krisis perang dunia.

“Tidak ada pemimpin lain yang seperti Presiden Jokowi. Jadi kami sangat mengapresiasi langkah itu. Tapi saya tidak bicara hasil kunjungan itu. Bukan karena Presiden Jokowi, bukan karena Presiden Zelenskyy, tapi karena Vladimir Putin. Mereka (Rusia) susah diajak berdialog,” sambungnya.

Sebelum kunjungan Presiden Jokowi ke Rusia, Vasyl mengaku intens berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia. Masyarakat Ukraina diminta untuk menurunkan ekspektasi dengan agenda lawatan Presiden Jokowi ini. Sebab jelas Rusia tetap teguh dengan pendiriannya.

“Sudah banyak negara yang menelpon langsung Vladimir Putin, termasuk Presiden Jokowi mengunjunginya langsung. Tapi tetap saja, mereka tidak mendengarkan siapapun,” imbuhnya.

Sementara itu, Kaprodi Hubungan Internasional FISIP UNS, Ignatius Agung Setyawan mengatakan kegiatan Ambassadorial Lecture ini menjadi bagian dari kunjungan kerja Duta Besar Ukraina ke beberapa kampus di Jawa Tengah. Tujuannya, membagikan informasi mengenai situasi terkini di Ukraina.

“Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan pemahaman yang komprehensif terkait dengan konflik yang terjadi di Ukraina kepada mahasiswa FISIP, utamanya mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional. Selain itu, mahasiswa juga dapat memahami praktik diplomasi yang sedang dijalankan oleh Duta Besar Ukraina untuk Indonesia,” pungkasnya. (aya/dam)

SOLO – Belum lama ini, tepatnya 1 Juli 2022, Presiden Joko Widodo melawat ke Moskow, Rusia bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin. Kunjungan tersebut bertujuan menjembatani antara Rusia dan Ukraina demi terciptanya perdamaian dunia. Pemerintah Ukraina mengapresiasi langkah Presiden Jokowi tersebut. Kendati sampai saat ini belum ada perkembangan positif pasca kunjungan itu.

“Semua orang tahu, semua orang membicarakan soal kunjungan Presiden Jokowi (ke Ukraina dan Rusia beberapa waktu lalu). Kunjungan itu dilakukan di saat yang tepat. Saat situasi dunia sedang gonjang-ganjing. Jadi kami benar-benar butuh dukungan masyarakat dunia. Kunjungan Presiden Jokowi jadi sinyal positif dari masyarakat dunia,” ungkap Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin saat press conference sebelum Ambassadorial Lecture di FISIP UNS, Jumat (23/9) sore.

Menurutnya, kunjungan Presiden Jokowi membawa dua isu penting dalam situasi perang antara Rusia-Ukraina. Yakni tentang perdamaian dan keamanan dunia. Vasyl menyebut Presiden Jokowi jadi pemimpin Asia pertama yang peduli terhadap krisis perang dunia.

“Tidak ada pemimpin lain yang seperti Presiden Jokowi. Jadi kami sangat mengapresiasi langkah itu. Tapi saya tidak bicara hasil kunjungan itu. Bukan karena Presiden Jokowi, bukan karena Presiden Zelenskyy, tapi karena Vladimir Putin. Mereka (Rusia) susah diajak berdialog,” sambungnya.

Sebelum kunjungan Presiden Jokowi ke Rusia, Vasyl mengaku intens berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia. Masyarakat Ukraina diminta untuk menurunkan ekspektasi dengan agenda lawatan Presiden Jokowi ini. Sebab jelas Rusia tetap teguh dengan pendiriannya.

“Sudah banyak negara yang menelpon langsung Vladimir Putin, termasuk Presiden Jokowi mengunjunginya langsung. Tapi tetap saja, mereka tidak mendengarkan siapapun,” imbuhnya.

Sementara itu, Kaprodi Hubungan Internasional FISIP UNS, Ignatius Agung Setyawan mengatakan kegiatan Ambassadorial Lecture ini menjadi bagian dari kunjungan kerja Duta Besar Ukraina ke beberapa kampus di Jawa Tengah. Tujuannya, membagikan informasi mengenai situasi terkini di Ukraina.

“Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan pemahaman yang komprehensif terkait dengan konflik yang terjadi di Ukraina kepada mahasiswa FISIP, utamanya mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional. Selain itu, mahasiswa juga dapat memahami praktik diplomasi yang sedang dijalankan oleh Duta Besar Ukraina untuk Indonesia,” pungkasnya. (aya/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/