23.7 C
Surakarta
Saturday, 28 January 2023

Disdik: 141 Anak Putus Sekolah di Solo, 90 Persen Pilih Bekerja

RADARSOLO.ID – Faktor ekonomi masih menjadi alasan utama anak putus sekolah. Dari 141 angka siswa putus sekolah di Kota Surakarta, 90 persen diantaranya lebih memilih untuk bekerja dibandingkan dengan melanjutkan sekolah.

Rata-rata anak memilih untuk bekerja dibandingkan dengan sekolah, karena dorongan ekonomi maupun kemampuan pribadinya. Kasus yang banyak ditemukan oleh Dinas Pendidikan Kota Surakarta yakni, pada awalnya anak bekerja hanya untuk membantu perekonomian orang tua. Tetapi lama kelamaan banyak anak yang terjebak sebagai pekerja permanen. Hingga akhirnya mereka menikmati hasil pendapatan dan berakibat anak lebih sering bolos sekolah dan kemudian drop out.

“Jika sebelumnya ada ribuan anak setelah kami kroscek di lapangan hanya ditemukan 141 anak putus sekolah, dengan mayoritas alasannya anak lebih memilih bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikan,” ungkap Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Surakarta Abdul Haris Alamsah, Selasa (24/1/2023).

Kasus anak putus sekolah sering ditemui pada lingkungan masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah. Faktor kemiskinan dan rendahnya pola pikir masyarakat tentang pentingnya pendidikan masih menjadi ganjalan utama. Haris menyebutkan, alasan utama anak bukan karena kesulitan biaya untuk masuk sekolah, tetapi karena keinginan anak untuk bekerja dan menghasilkan uang. Banyak anak yang mulai tergiur dengan uang hasil kerjanya, dibandingkan dengan melanjutkan sekolah.

“Jadi memang dari anak sendiri yang lebih memilih untuk bekerja, mungkin mereka banyak yang terdorong karena kondisi keluarga yang mengharuskan dia bekerja,” imbuhnya.

Haris mengatakan, selama ini pemerintah Kota Surakarta terus berupaya menangani hal itu. Salah satunya, dengan memberikan bantuan untuk siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Bantuan diberikan agar siswa bisa tetap mengenyam pendidikan dan mengejar cita-cita.

“Sehingga tidak ada alasan anak putus sekolah karena tidak ada biaya, bantuan sudah kami siapkan, apalagi sekolah negeri semuanya gratis. Jadi memang masih jadi PR kami, untuk bagaimana menarik kembali anak-anak itu untuk kembali tertarik ke sekolah,” pungkasnya.  (ian/nik/dam)

RADARSOLO.ID – Faktor ekonomi masih menjadi alasan utama anak putus sekolah. Dari 141 angka siswa putus sekolah di Kota Surakarta, 90 persen diantaranya lebih memilih untuk bekerja dibandingkan dengan melanjutkan sekolah.

Rata-rata anak memilih untuk bekerja dibandingkan dengan sekolah, karena dorongan ekonomi maupun kemampuan pribadinya. Kasus yang banyak ditemukan oleh Dinas Pendidikan Kota Surakarta yakni, pada awalnya anak bekerja hanya untuk membantu perekonomian orang tua. Tetapi lama kelamaan banyak anak yang terjebak sebagai pekerja permanen. Hingga akhirnya mereka menikmati hasil pendapatan dan berakibat anak lebih sering bolos sekolah dan kemudian drop out.

“Jika sebelumnya ada ribuan anak setelah kami kroscek di lapangan hanya ditemukan 141 anak putus sekolah, dengan mayoritas alasannya anak lebih memilih bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikan,” ungkap Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Surakarta Abdul Haris Alamsah, Selasa (24/1/2023).

Kasus anak putus sekolah sering ditemui pada lingkungan masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah. Faktor kemiskinan dan rendahnya pola pikir masyarakat tentang pentingnya pendidikan masih menjadi ganjalan utama. Haris menyebutkan, alasan utama anak bukan karena kesulitan biaya untuk masuk sekolah, tetapi karena keinginan anak untuk bekerja dan menghasilkan uang. Banyak anak yang mulai tergiur dengan uang hasil kerjanya, dibandingkan dengan melanjutkan sekolah.

“Jadi memang dari anak sendiri yang lebih memilih untuk bekerja, mungkin mereka banyak yang terdorong karena kondisi keluarga yang mengharuskan dia bekerja,” imbuhnya.

Haris mengatakan, selama ini pemerintah Kota Surakarta terus berupaya menangani hal itu. Salah satunya, dengan memberikan bantuan untuk siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Bantuan diberikan agar siswa bisa tetap mengenyam pendidikan dan mengejar cita-cita.

“Sehingga tidak ada alasan anak putus sekolah karena tidak ada biaya, bantuan sudah kami siapkan, apalagi sekolah negeri semuanya gratis. Jadi memang masih jadi PR kami, untuk bagaimana menarik kembali anak-anak itu untuk kembali tertarik ke sekolah,” pungkasnya.  (ian/nik/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img