25 C
Surakarta
Sunday, 4 December 2022

Guru Hadapi Tantangan Besar Era Melek Digital, Dituntut Serbabisa dan Serbacepat     

RADARSOLO.ID – Di era serba digital, guru dituntut cepat beradaptasi menyesuaikan perkembangan zaman. Sistem belajar mengajar kini mulai memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Namun faktanya, masih banyak guru gagap teknologi (gaptek). Mereka kesulitan dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Solo Abdul Haris Alamsah mengatakan, ada empat tantangan besar yang harus dihadapi para guru di era digital ini. Ketersediaan sumber daya manusia berkualitas menjadi tantangan utama. Pada dunia pendidikan guru sebagai salah satu sumber daya memiliki peran penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Terpenuhinya sumber daya manusia (SDM) guru di setiap sekolah menjadi hal wajib untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang berkualitas.

“Pemenuhan SDM guru di Solo masih sangat minim. Hal ini bisa dilihat dari jumlah kebutuhan guru yang masih sangat kurang dari jumlah formasi yang seharusnya. Maka tak jarang beberapa guru di sekolah harus rela merangkap mengajar, jadi memang harus serba bisa,” ujar Abdul Haris Alamsah.

Kebutuhan guru dan tenaga kependidikan di Kota Solo pada jenjang SD mencapai 300 orang. Guru agama menjadi penyumbang paling banyak kekosongan guru. Rata-rata kekurangan 156 guru. Sedangkan sisanya adalah guru kelas.

“Ambil contoh guru agama Kristen itu formasinya 152 baru terisi 89, agama Katolik 152 baru terisi 73. Sedangkan kalau untuk guru kelas itu hanya kurang 39 guru, dari total formasi 1.161 guru,” ungkapnya.

Pada jenjang SMP juga mengalami kekurangan guru pada beberapa mapel. Dari 1.759 formasi guru dan tenaga kependidikan, baru terisi 1.421. Sehingga pada jenjang SMP masih kekurangan sekitar 338 guru dan tenaga kependidikan. Paling banyak kekosongan juga terjadi pada formasi guru mata pelajaran agama.

“Maka memang di Kota Solo masih banyak membutuhkan SDM guru yang berkualitas, baik dari segi kuantitas maupun kualitas,” imbuhnya.

Tantangan kedua, yakni perubahan kurikulum. Setiap guru dituntut secara cepat dapat menyesuaikan dengan perubahan kurikulum. Di mana saat ini pemerintah telah mengarahkan untuk menggunakan kurikulum merdeka yang lebih memusatkan pembelajaran pada siswa. Namun, kenyataanya masih banyak guru yang memiliki pola pikir yang salah.

“Jadi masih banyak guru itu yang pola pikirnya apapun makannya, minumnya tetap sama. Apapun bentuk kurikulumnya mengajarnya tetapi sama dengan ceramah. Padahal itu sudah tidak efektif, mindset seperti itu yang masih menjadi tantangan dunia pendidikan,” jelasnya.

Tantangan ketiga, guru dihadapkan pada proses perencanaan berbasis data. Saat ini, masih banyak guru yang merencanakan proses pendidikan berdasarkan asumsi dan perkiraan tanpa menggunakan data yang valid. Maka saat ini adanya raport pendidikan yang dapat digunakan sebagai evaluasi tentang pelaksanaan pendidikan.

“Jadi tidak boleh lagi guru merencanakan berdasarkan angan-angan saja. Guru harus merencanakan segala keperluan pendidikan berdasarkan data yang ada,” tegasnya.

Tantangan lain dalam era digitalisasi, tidak semua guru menguasai skill atau kemampuan teknologi. Guru dituntut bersikap profesional untuk terus belajar, harus serbabisa guna menciptakan lulusan terbaik yang mempunyai skill digital yang sangat dibutuhkan saat ini.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Solo Wahyono membenarkan, tantangan terbesar para guru di wilayah Solo mayoritas adalah penguasaan digital. Masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran dengan memanfaatkan media digital. Hal ini bisa berdampak pada interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses belajar mengajar.

“Paling penting saat ini memang harus adanya peningkatan penguasaan IT bagi para guru. Memang bagi guru yang usianya sudah tidak muda lagi sedikit kesulitan menyesuaikan. Kami banyak mendapat laporan dari teman-teman guru itu yang masih kesulitan memanfaatkan digitalisasi,” ungkapnya.

Penekanan pelatihan bimbingan teknologi juga difokuskan untuk para guru-guru PAUD dan SD yang dinilai masih sangat kurang. Para guru tersebut dinilai sangat membutuhkan pelatihan dan penguasaan IT untuk memudahkan proses pembelajaran. Guru PAUD dan SD sebagai fondasi awal pendidikan menjadi sangat krusial dalam hal menguasai kemajuan teknologi.

“Mereka yang akan mengenalkan teknologi kepada para siswa di awal. Jadi penguasaan digital ini memang sangat perlu. Guru harus cepat menyesuaikan dengan perubahan zaman dan teknologi,” imbuhnya.

Diakui, sebenarnya guru adalah ujung tombak untuk melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pendidikan. Karena itu perannya harus diperkuat, diberdayakan, dan diberikan otonomi. Jangan sampai kalau ada persoalan pendidikan, seolah-olah guru menanggung beban itu sendirian.

“Ini tentu bukan hanya tanggung jawab guru, tapi juga tanggung jawab masyarakat yang lainnya. Karena kemajuan pendidikan adalah tanggung jawab seluruh masyarakat,” tandasnya.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo Sri Sayekti mengatakan, pembelajaran untuk generasi milenial berbeda dengan zaman dahulu. Para generasi saat ini jauh lebih kompeten dalam hal pemanfaatan IT. Pola pikir dan cara pandang generasi milenial juga jauh berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Di era yang serba digital dn cepat, penanaman karakter menjadi fondasi awal untuk siswa untuk dapat berkembang lebih jauh lagi.

“Kami selalu menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter yang Islami pada jiwa anak-anak. Hal tersebut melihat saat ini pendidikan karakter menjadi fokus dan fondasi awal untuk melahirkan generasi yang unggul dan bisa bermanfaat bagi masyarakat dan negara,” ucap Sayekti.

Bila zaman dulu, guru menjadi sumber utama belajar karena buku-buku pada zaman itu merupakan barang mahal dan tidak semua siswa memiliki kemudahan mengaksesnya. Namun saat ini sumber belajar sangat melimpah dan bisa diakses oleh siapapun.

“Jika dulu guru satu-satu sumber informasi, maka kemudian penghormatan pada guru itu sangat luar biasa. Kalau sekarang guru sebagai partner dan fasilitator, dan anak bisa mencari sumber informasi dari mana pun, itu juga sedikit mengubah pola pikir,” ujar Kepala SMA IT Nur Hidayah Sukoharjo Muhammad Ihsan Fauzi.

Perubahan zaman juga membuat guru tak lagi bisa menasihati anak secara keras. Jika dulu guru dapat secara leluasa mengingatkan anak dengan cara mencubit atau sedikit dengan suara keras dianggap hal wajar. Namun, jika hal tersebut dilakukan saat ini bisa masuk kategori pelanggaran hak asasi manusia.

“Kalau dulu guru bisa marah-marah kalau anak salah, sekarang sudah tidak bisa. Para generasi milenial lebih rapuh dan ketika dimarahi guru itu, mereka merasa seperti di-bully dan mentalnya down. Mereka ini memang generasi yang tidak bisa dibanding-bandingkan,” ungkapnya.

Namun, di luar itu semua para generasi saat ini dinilai jauh lebih unggul dalam hal penguasaan kompetensi terutama IT. Para generasi tersebut dinilai jauh lebih cepat untuk menyerap materi dan mengembangkan kompetensinya dengan bantuan IT.

“Secara mental memang jauh lebih rapuh, tapi secara penguasaan IT jauh lebih unggul mereka. Maka kami guru dituntut harus lebih cepat untuk mengejar para generasi milenial ini. Harus tangguh, adaptif, dan tetap survive,” imbuhnya. (ian/mg19/bun/ria)

Peta Kebutuhan Guru SD-SMP di Kota Solo

  • Jenjang SD

Kebutuhan guru kelas: 1.161 guru

Kekurangan guru kelas: 39 guru

Kebutuhan guru agama Kristen: 152 guru

Kekurangan guru agama Kristen: 63 guru

Kebutuhan guru agama Katolik: 152 guru

Kekurangan guru agama Katolik: 79 guru

  • Jenjang SMP

Kebutuhan guru dan tenaga kependidikan: 1.759 guru

Kekurangan guru dan tenaga kependidikan: 338 guru

 

 

 

 

 






Reporter: Septian Refvinda Argiandini

RADARSOLO.ID – Di era serba digital, guru dituntut cepat beradaptasi menyesuaikan perkembangan zaman. Sistem belajar mengajar kini mulai memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Namun faktanya, masih banyak guru gagap teknologi (gaptek). Mereka kesulitan dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Solo Abdul Haris Alamsah mengatakan, ada empat tantangan besar yang harus dihadapi para guru di era digital ini. Ketersediaan sumber daya manusia berkualitas menjadi tantangan utama. Pada dunia pendidikan guru sebagai salah satu sumber daya memiliki peran penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Terpenuhinya sumber daya manusia (SDM) guru di setiap sekolah menjadi hal wajib untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang berkualitas.

“Pemenuhan SDM guru di Solo masih sangat minim. Hal ini bisa dilihat dari jumlah kebutuhan guru yang masih sangat kurang dari jumlah formasi yang seharusnya. Maka tak jarang beberapa guru di sekolah harus rela merangkap mengajar, jadi memang harus serba bisa,” ujar Abdul Haris Alamsah.

Kebutuhan guru dan tenaga kependidikan di Kota Solo pada jenjang SD mencapai 300 orang. Guru agama menjadi penyumbang paling banyak kekosongan guru. Rata-rata kekurangan 156 guru. Sedangkan sisanya adalah guru kelas.

“Ambil contoh guru agama Kristen itu formasinya 152 baru terisi 89, agama Katolik 152 baru terisi 73. Sedangkan kalau untuk guru kelas itu hanya kurang 39 guru, dari total formasi 1.161 guru,” ungkapnya.

Pada jenjang SMP juga mengalami kekurangan guru pada beberapa mapel. Dari 1.759 formasi guru dan tenaga kependidikan, baru terisi 1.421. Sehingga pada jenjang SMP masih kekurangan sekitar 338 guru dan tenaga kependidikan. Paling banyak kekosongan juga terjadi pada formasi guru mata pelajaran agama.

“Maka memang di Kota Solo masih banyak membutuhkan SDM guru yang berkualitas, baik dari segi kuantitas maupun kualitas,” imbuhnya.

Tantangan kedua, yakni perubahan kurikulum. Setiap guru dituntut secara cepat dapat menyesuaikan dengan perubahan kurikulum. Di mana saat ini pemerintah telah mengarahkan untuk menggunakan kurikulum merdeka yang lebih memusatkan pembelajaran pada siswa. Namun, kenyataanya masih banyak guru yang memiliki pola pikir yang salah.

“Jadi masih banyak guru itu yang pola pikirnya apapun makannya, minumnya tetap sama. Apapun bentuk kurikulumnya mengajarnya tetapi sama dengan ceramah. Padahal itu sudah tidak efektif, mindset seperti itu yang masih menjadi tantangan dunia pendidikan,” jelasnya.

Tantangan ketiga, guru dihadapkan pada proses perencanaan berbasis data. Saat ini, masih banyak guru yang merencanakan proses pendidikan berdasarkan asumsi dan perkiraan tanpa menggunakan data yang valid. Maka saat ini adanya raport pendidikan yang dapat digunakan sebagai evaluasi tentang pelaksanaan pendidikan.

“Jadi tidak boleh lagi guru merencanakan berdasarkan angan-angan saja. Guru harus merencanakan segala keperluan pendidikan berdasarkan data yang ada,” tegasnya.

Tantangan lain dalam era digitalisasi, tidak semua guru menguasai skill atau kemampuan teknologi. Guru dituntut bersikap profesional untuk terus belajar, harus serbabisa guna menciptakan lulusan terbaik yang mempunyai skill digital yang sangat dibutuhkan saat ini.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Solo Wahyono membenarkan, tantangan terbesar para guru di wilayah Solo mayoritas adalah penguasaan digital. Masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran dengan memanfaatkan media digital. Hal ini bisa berdampak pada interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses belajar mengajar.

“Paling penting saat ini memang harus adanya peningkatan penguasaan IT bagi para guru. Memang bagi guru yang usianya sudah tidak muda lagi sedikit kesulitan menyesuaikan. Kami banyak mendapat laporan dari teman-teman guru itu yang masih kesulitan memanfaatkan digitalisasi,” ungkapnya.

Penekanan pelatihan bimbingan teknologi juga difokuskan untuk para guru-guru PAUD dan SD yang dinilai masih sangat kurang. Para guru tersebut dinilai sangat membutuhkan pelatihan dan penguasaan IT untuk memudahkan proses pembelajaran. Guru PAUD dan SD sebagai fondasi awal pendidikan menjadi sangat krusial dalam hal menguasai kemajuan teknologi.

“Mereka yang akan mengenalkan teknologi kepada para siswa di awal. Jadi penguasaan digital ini memang sangat perlu. Guru harus cepat menyesuaikan dengan perubahan zaman dan teknologi,” imbuhnya.

Diakui, sebenarnya guru adalah ujung tombak untuk melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pendidikan. Karena itu perannya harus diperkuat, diberdayakan, dan diberikan otonomi. Jangan sampai kalau ada persoalan pendidikan, seolah-olah guru menanggung beban itu sendirian.

“Ini tentu bukan hanya tanggung jawab guru, tapi juga tanggung jawab masyarakat yang lainnya. Karena kemajuan pendidikan adalah tanggung jawab seluruh masyarakat,” tandasnya.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo Sri Sayekti mengatakan, pembelajaran untuk generasi milenial berbeda dengan zaman dahulu. Para generasi saat ini jauh lebih kompeten dalam hal pemanfaatan IT. Pola pikir dan cara pandang generasi milenial juga jauh berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Di era yang serba digital dn cepat, penanaman karakter menjadi fondasi awal untuk siswa untuk dapat berkembang lebih jauh lagi.

“Kami selalu menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter yang Islami pada jiwa anak-anak. Hal tersebut melihat saat ini pendidikan karakter menjadi fokus dan fondasi awal untuk melahirkan generasi yang unggul dan bisa bermanfaat bagi masyarakat dan negara,” ucap Sayekti.

Bila zaman dulu, guru menjadi sumber utama belajar karena buku-buku pada zaman itu merupakan barang mahal dan tidak semua siswa memiliki kemudahan mengaksesnya. Namun saat ini sumber belajar sangat melimpah dan bisa diakses oleh siapapun.

“Jika dulu guru satu-satu sumber informasi, maka kemudian penghormatan pada guru itu sangat luar biasa. Kalau sekarang guru sebagai partner dan fasilitator, dan anak bisa mencari sumber informasi dari mana pun, itu juga sedikit mengubah pola pikir,” ujar Kepala SMA IT Nur Hidayah Sukoharjo Muhammad Ihsan Fauzi.

Perubahan zaman juga membuat guru tak lagi bisa menasihati anak secara keras. Jika dulu guru dapat secara leluasa mengingatkan anak dengan cara mencubit atau sedikit dengan suara keras dianggap hal wajar. Namun, jika hal tersebut dilakukan saat ini bisa masuk kategori pelanggaran hak asasi manusia.

“Kalau dulu guru bisa marah-marah kalau anak salah, sekarang sudah tidak bisa. Para generasi milenial lebih rapuh dan ketika dimarahi guru itu, mereka merasa seperti di-bully dan mentalnya down. Mereka ini memang generasi yang tidak bisa dibanding-bandingkan,” ungkapnya.

Namun, di luar itu semua para generasi saat ini dinilai jauh lebih unggul dalam hal penguasaan kompetensi terutama IT. Para generasi tersebut dinilai jauh lebih cepat untuk menyerap materi dan mengembangkan kompetensinya dengan bantuan IT.

“Secara mental memang jauh lebih rapuh, tapi secara penguasaan IT jauh lebih unggul mereka. Maka kami guru dituntut harus lebih cepat untuk mengejar para generasi milenial ini. Harus tangguh, adaptif, dan tetap survive,” imbuhnya. (ian/mg19/bun/ria)

Peta Kebutuhan Guru SD-SMP di Kota Solo

  • Jenjang SD

Kebutuhan guru kelas: 1.161 guru

Kekurangan guru kelas: 39 guru

Kebutuhan guru agama Kristen: 152 guru

Kekurangan guru agama Kristen: 63 guru

Kebutuhan guru agama Katolik: 152 guru

Kekurangan guru agama Katolik: 79 guru

  • Jenjang SMP

Kebutuhan guru dan tenaga kependidikan: 1.759 guru

Kekurangan guru dan tenaga kependidikan: 338 guru

 

 

 

 

 






Reporter: Septian Refvinda Argiandini

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/