alexametrics
24.8 C
Surakarta
Thursday, 9 December 2021

PGRI Dorong Guru Tingkatkan Kompetensi, Jamin Terciptanya Generasi Unggul

SOLO – Menyambut Hari Guru Nasional (HGN) sekaligus HUT Ke-76 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), tenaga pendidik harus berperan dalam menyiapkan generasi unggul bagi bangsa. Guru dituntut untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensinya, guna menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0. Karena Kompetensi dan kesejahteraan guru, merupakan jaminan terciptanya generasi unggul.

Ketua PGRI Surakarta Wahyono menjelaskan, selama ini terus mendorong agar seluruh guru di Kota Bengawan meningkatkan kompetensinya. Berbagai program dan kegiatan untuk meningkatkan kompetensi serta kesejahteraan guru, gencar dilakukan. Salah satunya lewat pembinaan pengetahuan teknologi informasi (IT) bagi guru.

“Terakhir, kemarin beri pendampingan guru-guru saat pendaftaran pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Karena kebanyakan guru masih lemah dalam hal IT. Sehingga kami bantu untuk penyelesaian pendaftaran, yang notabene 90 persen menggunakan IT,” terang Wahyono, kemarin (25/11).

Bukan tanpa alasan guru harus melek teknologi. Karena di masa pandemi Covid-19 ini, guru dituntut mampu melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. Diakui Wahyono, di awal pandemi mayoritas guru kesulitan melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan teknologi digital.

“Namun berkat usaha yang sungguh-sungguh, serta bantuan dari semua pemangku kepentingan pendidikan, problematika tersebut dapat dilalui,” imbuhnya.

Wahyono menambahkan, kompetensi guru sangat penting untuk menunjang kemajuan pendidikan di suatu wilayah. Nah, PGRI berperan aktif melaksanakan kegiatan pelatihan pembelajaran dan literasi. Melalui berbagai program dan kegiatan tersebutm PGRI berusaha mewujudkan guru yang kompeten dan sejahtera.

“Ada program rumah belajar guru, sekolah inspiratif, Solo vokal, serta asosiasi profesi dan keahlian sejenis (APKS). Bisa diikuti semua guru dari jenjang TK-SMA, bahkan SLB. Ada juga program Smart Learning and Character Center (SLCC) PGRI. Tugasnya melakukan pengembangan profesi guru dan pendidikan karakter berbasis IT,” ungkapnya.

Menurut Wahyono, kesejahteraan guru perlu ditingkatkan. PGRI mengapresiasi upaya pemerintah yang ingin mengangkat kesejahteraan guru lewat PPPK.

“Bisa juga dengan cara-cara sederhana. Seperti pemberian reward bagi guru teladan dan kreatif dalam pembelajaran daring dan luring. Reward ini bisa memantik semangat para guru untuk selalu berprestasi,” tandasnya.

Sementara itu, Wahyono berpesan agar guru di Kota Bengawan ikut mengembangkan program-program pembelajaran yang terbarukan. Karena guru harus selangkah lebih maju daripada siswanya.

“Semoga semua guru di Solo mau bersinergi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Mulai dari jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK, dan SLB. Semuanya saling bersinergi dan bergandeng tangan demi kemajuan pendidikan,” paparnya. (ian/fer/dam)

SOLO – Menyambut Hari Guru Nasional (HGN) sekaligus HUT Ke-76 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), tenaga pendidik harus berperan dalam menyiapkan generasi unggul bagi bangsa. Guru dituntut untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensinya, guna menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0. Karena Kompetensi dan kesejahteraan guru, merupakan jaminan terciptanya generasi unggul.

Ketua PGRI Surakarta Wahyono menjelaskan, selama ini terus mendorong agar seluruh guru di Kota Bengawan meningkatkan kompetensinya. Berbagai program dan kegiatan untuk meningkatkan kompetensi serta kesejahteraan guru, gencar dilakukan. Salah satunya lewat pembinaan pengetahuan teknologi informasi (IT) bagi guru.

“Terakhir, kemarin beri pendampingan guru-guru saat pendaftaran pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Karena kebanyakan guru masih lemah dalam hal IT. Sehingga kami bantu untuk penyelesaian pendaftaran, yang notabene 90 persen menggunakan IT,” terang Wahyono, kemarin (25/11).

Bukan tanpa alasan guru harus melek teknologi. Karena di masa pandemi Covid-19 ini, guru dituntut mampu melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. Diakui Wahyono, di awal pandemi mayoritas guru kesulitan melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan teknologi digital.

“Namun berkat usaha yang sungguh-sungguh, serta bantuan dari semua pemangku kepentingan pendidikan, problematika tersebut dapat dilalui,” imbuhnya.

Wahyono menambahkan, kompetensi guru sangat penting untuk menunjang kemajuan pendidikan di suatu wilayah. Nah, PGRI berperan aktif melaksanakan kegiatan pelatihan pembelajaran dan literasi. Melalui berbagai program dan kegiatan tersebutm PGRI berusaha mewujudkan guru yang kompeten dan sejahtera.

“Ada program rumah belajar guru, sekolah inspiratif, Solo vokal, serta asosiasi profesi dan keahlian sejenis (APKS). Bisa diikuti semua guru dari jenjang TK-SMA, bahkan SLB. Ada juga program Smart Learning and Character Center (SLCC) PGRI. Tugasnya melakukan pengembangan profesi guru dan pendidikan karakter berbasis IT,” ungkapnya.

Menurut Wahyono, kesejahteraan guru perlu ditingkatkan. PGRI mengapresiasi upaya pemerintah yang ingin mengangkat kesejahteraan guru lewat PPPK.

“Bisa juga dengan cara-cara sederhana. Seperti pemberian reward bagi guru teladan dan kreatif dalam pembelajaran daring dan luring. Reward ini bisa memantik semangat para guru untuk selalu berprestasi,” tandasnya.

Sementara itu, Wahyono berpesan agar guru di Kota Bengawan ikut mengembangkan program-program pembelajaran yang terbarukan. Karena guru harus selangkah lebih maju daripada siswanya.

“Semoga semua guru di Solo mau bersinergi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Mulai dari jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK, dan SLB. Semuanya saling bersinergi dan bergandeng tangan demi kemajuan pendidikan,” paparnya. (ian/fer/dam)

Populer

Berita Terbaru