Stunting dan Kesehatan Anak: Dari Keluarga Sehat Menuju Desa Bebas Stunting


OLEH: Dr. Dyah Rahmawatie Ratna Budi Utami, M.Kep.; Fida’ Husain, S.Kep., Ns., M.Kep.; Chandra Wisnu Utomo, S.E., M.M.; Dr. Haryoto, M.Sc.
Stunting masih menjadi salah satu masalah penting dalam kesehatan anak di Indonesia.
Secara sederhana, stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.
Anak dikategorikan stunting apabila tinggi badan menurut umur berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median standar pertumbuhan anak WHO (World Health Organization [WHO], 2015).
Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek dari teman seusianya.
Kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan otak, daya tahan tubuh, kemampuan belajar, dan kualitas kesehatan anak dalam jangka panjang.
Karena itu, stunting perlu dipahami sebagai masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada masa depan generasi, bukan hanya sebagai masalah gizi individu (WHO, 2014, 2015).
Secara global, stunting masih menjadi tantangan besar. Estimasi bersama UNICEF, WHO, dan World Bank menunjukkan bahwa pada tahun 2024 terdapat sekitar 150,2 juta anak usia di bawah lima tahun yang mengalami stunting, atau sekitar 23,2% dari seluruh balita di dunia.
Data ini menunjukkan bahwa stunting masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan intervensi lintas sektor dan berkelanjutan (UNICEF, WHO, & World Bank, 2025).
Di Indonesia, hasil Survei Status Gizi Indonesia atau SSGI 2024 menunjukkan bahwa prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%.



