Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
UNS Kembangkan Dashboard Peringatan Dini Bencana Berbasis IoT untuk Desa Lampahan Timur

Penulis: Tri wahyu Cahyono❯
Advertisement

RADARSOLO.COM - Universitas Sebelas Maret (UNS) mengembangkan dashboard Monitoring and Early Warning System (MEWS) berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman banjir, longsor, dan cuaca ekstrem di Desa Lampahan Timur, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Advertisement
Pengembangan tersebut merupakan bagian dari program kolaborasi pengabdian masyarakat tahun 2026 yang mempertemukan tiga perguruan tinggi, yakni UNS, Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Advertisement
Program dilaksanakan selama satu tahun sejak Mei 2026 dengan dukunganpendanaan hibah PKMI 2026. Dalam kemitraan tersebut, USK bertindak sebagai host sekaligus penghubung utama dengan lokasi dan masyarakat sasaran.
Desa Lampahan Timur dipilih karena memiliki karakteristik lingkungan yang membutuhkan perhatian terhadap risiko bencana hidrometeorologi. Kondisi wilayah yang berbukit, curah hujan yang relatif tinggi.
Serta posisinya di kawasan hulu daerah aliran sungai menjadikan pemantauan kondisi lingkungan dan penyampaian informasi secara cepat kepada masyarakat
sebagai bagian penting dari kesiapsiagaan desa.
Termasuk di dalamnya, berfungsi untuk mengantipasi banjir, sehingga bencana 26 Desember 2025 tidak terulang.
Kolaborasi empat perguruan tinggi tersebut dikembangkan dengan pendekatan lintas bidang.
Masing-masing tim membawa kepakaran yang berbeda namun saling melengkapi dalam membangun satu ekosistem pemantauan berbasis teknologi.
Tim UNS berfokus pada pengembangan dashboard Monitoring and Early Warning System yang berfungsi mengintegrasikan data dari berbagai sensor IoT di lapangan.
Data tersebut kemudian diolah dan ditampilkan dalam bentuk informasi yang lebih mudah dibaca sehingga dapat membantu proses pemantauan kondisi lingkungan dan mendukung pemberian peringatan dini. Dashboard tersebut tersedia pada alamat mewscenter.id

“Keberadaan sensor saja belum cukup. Data yang dihasilkan perlu diintegrasikan, divisualisasikan, dan diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami oleh pengguna. Di sinilah UNS mengambil peran melalui pengembangan dashboard monitoring dan early warning system,” beber Mitra Utama pengabdian dari UNS Cucuk Wawan Budiyanto (ptik.fkip.uns.ac.id).
Dashboard dirancang sebagai pusat informasi yang memungkinkan kondisi lingkungan dipantau melalui satu antarmuka. Integrasi tersebut diharapkan mempermudah pengguna dalam mengenali perubahan kondisi dan mengambil langkah lebih cepat ketika indikator tertentu menunjukkan peningkatan risiko.
Sementara itu, USK mengembangkan dan mengadopsi sensor berbasis IoT melalui kolaborasi lintas bidang. Sensor digunakan untuk merekam berbagai parameter kondisi lapangan yang diperlukan dalam sistem pemantauan.
Sebagai host kemitraan, USK juga memiliki peran strategis dalam menghubungkan kebutuhan masyarakat, kondisi lokal, dan pengembangan teknologi yang dilakukan oleh tim.
ITB berkontribusi melalui pengembangan sensor feeder dan sistem otomasi. Teknologi tersebut melengkapi sistem sehingga data yang diperoleh dari lapangan tidak hanya dapat dipantau, tetapi juga dapat digunakan sebagai dasar untuk mengaktifkan fungsi tertentu secara otomatis sesuai kondisi yang terdeteksi.
Integrasi ketiga komponen menjadi kekuatan utama program. Sensor menyediakan data kondisi lapangan, sistem komunikasi mengirimkan data secara berkala, dashboard yang dikembangkan UNS menyajikannya menjadi informasi monitoring, sedangkan sistem otomasi memungkinkan pengembangan respons teknologi berdasarkan parameter yang telah ditentukan.
Pengembangan MEWS tidak diarahkan semata-mata sebagai proyek teknologi. Tim juga menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari implementasi sistem. Informasi yang dihasilkan diharapkan dapat membantu masyarakat memahami kondisi lingkungan di sekitarnya, mengenali indikator risiko, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Program yang berlangsung sejak Mei 2026 tersebut mencakup tahapan pengembangan perangkat, integrasi sistem, implementasi lapangan, pengujian, hingga evaluasi bersama masyarakat.
Tim juga akan mengkaji bagaimana sistem dapat dioperasikan secara berkelanjutan setelah masa program berakhir. Bagi UNS, keterlibatan dalam program ini menjadi bentuk penerapan kepakaran informatika, IoT, integrasi data, dan pengembangan sistem informasi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Kolaborasi bersama USK, UGM dan ITB sekaligus memperlihatkan bahwa upaya pengurangan risiko bencana membutuhkan keterhubungan antara teknologi, kepakaran lintas disiplin, dan pemahaman terhadap konteks lokal.
Melalui kolaborasi ini, sistem yang dikembangkan di Desa Lampahan Timur diharapkan tidak hanya membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat setempat, tetapi juga dapat menjadi model pengembangan sistem monitoring dan peringatan dini berbasis IoT yang dapat diadaptasi untuk wilayah lain dengan karakteristik risiko serupa. (*)
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



