alexametrics
21.2 C
Surakarta
Wednesday, 28 July 2021

SMPN 25 Surakarta Gelar Simulasi PTM 

SOLO – Simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) terus berlanjut. SMPN 25 Surakarta menggelar simulasi perdana PTM pada Senin (29/3). Sebanyak 82 siswa kelas IX mengikuti PTM. Mereka diantar orang tua ke sekolah. Para siswa mengikuti simulasi PTM selama dua jam, yakni 08.00-10.00.

Dalam pelaksanaannya, sekolah menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Siswa wajib menggunakan masker dan face shield. Setibanya di sekolah, siswa wajib mengecek suhu tubuh, mencuci tangan dengan sabun, baru diarahkan guru untuk menuju ruang kelas masing-masing. Sekolah juga telah memasang tanda informasi jalur masuk dan keluar. Guna meminimalisir kontak fisik dengan siswa lain.

Kepala SMPN 25 Surakarta Sri Rahayu mengatakan, persiapan simulasi PTM sudah dilakukan jauh-jauh hari. Sekolah juga telah menyiapkan regulasi tentang tata cara alur prokes, pembentukan tim satgas Covid-19 sekolah serta sarana prasarana (Sarpras), dan standar operasional prosedur (SOP). Semua persiapan mengacu pada surat edaran dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta

“Hari ini (kemarin) sekolah kami sudah mulai lakukan PTM diikuti oleh 50 persen dari kapasitas siswa di kelas IX. Yakni 82 anak dari 164 siswa. Dalam satu kelas, ruangan diisi maksimal 15 siswa. Dengan satu meja diperuntukkan satu siswa. Posisi duduk juga diatur secara diagonal dan diberi jarak,” terangnya pada Jawa Pos Radar Solo, Senin (29/3).

Sri menjelaskan, fase pertama simulasi PTM diisi dengan pembiasaan perilaku, serta pembinaan wali kelas. Dalam sehari ada tiga jam pelajaran. Pada hari pertama simulasi, terbagi menjadi dua jam pelajaran diampu wali kelas untuk penanaman pembiasaan perilaku. Baru satu jam pelajaran diisi mengenai pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sebelumnya sudah berjalan. Selain itu, guru juga menyisipkan motivasi pada siswa untuk tetap semangat belajar.

Fase pertama simulasi PTM ini akan digelar selama dua pekan. Pada pekan pertama diikuti siswa dengan nomor presensi kecil. Pekan berikutnya, bergantian siswa dengan nomor presensi besar. Sekolah menerapkan blended learning yakni, luring dan daring. Siswa yang mengikuti PJJ bisa mengakses pelajaran melalui WhatsApp, Google Classroom, serta Zoom Cloud Meeting atau Google Meet.

“Kemudian bagi siswa yang ikut simulasi PTM, ketika sudah sampai rumah tetap melanjutkan PJJ. Karena belajar di sekolah hanya dua jam. Setelah itu akan dilanjutkan fase kedua dengan durasi belajar menjadi lima jam dan ada jeda istirahat,” terangnya.

Penerapan fase kedua kelas IX ini juga disusul siswa kelas VIII, yang mulai masuk simulasi PTM fase pertama. Dan begitu seterusnya secara bertahap. Selain itu, sekolah juga mengatur alur pulang sekolah. Siswa tidak diperbolehkan langsung keluar kelas begitu bel pulang berbunyi. Melainkan menunggu di ruangan sampai orang tua menjemput.

“Jadi orang tua akan menjemput. Kemudian di gerbang sekolah kami sediakan alat komunikasi. Orang tua hanya perlu sebutkan nama anak dan kelas, kemudian nanti dipanggil siswanya. Baru siswa keluar. Supaya tidak menimbulkan kerumunan,” jelasnya.

Sri mengaku sekolah juga memperbarui data siswanya yang mendapatkan izin simulasi PTM. Termasuk pendataan dan pemetaan kesehatan, riwayat bepergian ke wilayah apakah berada di zona hijau, oranye atau merah. “Selain itu juga ada riwayat pernah terpapar Covid-19 apa tidak, dalam masa pengobatan apa tidak. Jadi seperti itu. Tidak hanya untuk siswa, tapi juga seluruh warga sekolah,” imbuhnya.

SMPN 25 juga memaksimalkan potensi sekolah yang ada. Terbukti dengan predikat sekolah aktif literasi nasional selama 4 tahun berturut-turut dari Gerakan Menulis Buku Indonesia. Selama pandemi, sekolah berinovasi dengan kegiatan-kegiatan seperti pelatihan animasi dan game secara daring. SMPN 25 bekerja sama dengan UNS dan Komite Sekolah. Serta melakukan pemilihan pengurus OSIS dengan e-voting.

“Kami juga mengapresiasi kegigihan guru dalam melayani siswa selama PJJ. Terbukti dengan pantauan melekat dan home visit,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu siswa peserta simulasi PTM kelas IX F SMPN 25 Surakarta Adha Rizki Amelia mengaku senang dapat kesempatan ini. Sebab selama PJJ dia merasa kesulitan untuk pahami materi pelajaran.

“Saya senang karena bisa bertemu teman-teman. Kalau PTM pembelajarannya lebih jelas daripada PJJ. Bisa mendengarkan penjelasan guru secara langsung dengan bertatap muka. Jadi kalau ada materi yang belum saya paham lebih mudah untuk bertanya. Saya harap bisa segera lakukan PTM dan bisa masuk semua,” katanya.  (adv/mg2/rgl/nik)


SOLO – Simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) terus berlanjut. SMPN 25 Surakarta menggelar simulasi perdana PTM pada Senin (29/3). Sebanyak 82 siswa kelas IX mengikuti PTM. Mereka diantar orang tua ke sekolah. Para siswa mengikuti simulasi PTM selama dua jam, yakni 08.00-10.00.

Dalam pelaksanaannya, sekolah menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Siswa wajib menggunakan masker dan face shield. Setibanya di sekolah, siswa wajib mengecek suhu tubuh, mencuci tangan dengan sabun, baru diarahkan guru untuk menuju ruang kelas masing-masing. Sekolah juga telah memasang tanda informasi jalur masuk dan keluar. Guna meminimalisir kontak fisik dengan siswa lain.

Kepala SMPN 25 Surakarta Sri Rahayu mengatakan, persiapan simulasi PTM sudah dilakukan jauh-jauh hari. Sekolah juga telah menyiapkan regulasi tentang tata cara alur prokes, pembentukan tim satgas Covid-19 sekolah serta sarana prasarana (Sarpras), dan standar operasional prosedur (SOP). Semua persiapan mengacu pada surat edaran dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta

“Hari ini (kemarin) sekolah kami sudah mulai lakukan PTM diikuti oleh 50 persen dari kapasitas siswa di kelas IX. Yakni 82 anak dari 164 siswa. Dalam satu kelas, ruangan diisi maksimal 15 siswa. Dengan satu meja diperuntukkan satu siswa. Posisi duduk juga diatur secara diagonal dan diberi jarak,” terangnya pada Jawa Pos Radar Solo, Senin (29/3).

Sri menjelaskan, fase pertama simulasi PTM diisi dengan pembiasaan perilaku, serta pembinaan wali kelas. Dalam sehari ada tiga jam pelajaran. Pada hari pertama simulasi, terbagi menjadi dua jam pelajaran diampu wali kelas untuk penanaman pembiasaan perilaku. Baru satu jam pelajaran diisi mengenai pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sebelumnya sudah berjalan. Selain itu, guru juga menyisipkan motivasi pada siswa untuk tetap semangat belajar.

Fase pertama simulasi PTM ini akan digelar selama dua pekan. Pada pekan pertama diikuti siswa dengan nomor presensi kecil. Pekan berikutnya, bergantian siswa dengan nomor presensi besar. Sekolah menerapkan blended learning yakni, luring dan daring. Siswa yang mengikuti PJJ bisa mengakses pelajaran melalui WhatsApp, Google Classroom, serta Zoom Cloud Meeting atau Google Meet.

“Kemudian bagi siswa yang ikut simulasi PTM, ketika sudah sampai rumah tetap melanjutkan PJJ. Karena belajar di sekolah hanya dua jam. Setelah itu akan dilanjutkan fase kedua dengan durasi belajar menjadi lima jam dan ada jeda istirahat,” terangnya.

Penerapan fase kedua kelas IX ini juga disusul siswa kelas VIII, yang mulai masuk simulasi PTM fase pertama. Dan begitu seterusnya secara bertahap. Selain itu, sekolah juga mengatur alur pulang sekolah. Siswa tidak diperbolehkan langsung keluar kelas begitu bel pulang berbunyi. Melainkan menunggu di ruangan sampai orang tua menjemput.

“Jadi orang tua akan menjemput. Kemudian di gerbang sekolah kami sediakan alat komunikasi. Orang tua hanya perlu sebutkan nama anak dan kelas, kemudian nanti dipanggil siswanya. Baru siswa keluar. Supaya tidak menimbulkan kerumunan,” jelasnya.

Sri mengaku sekolah juga memperbarui data siswanya yang mendapatkan izin simulasi PTM. Termasuk pendataan dan pemetaan kesehatan, riwayat bepergian ke wilayah apakah berada di zona hijau, oranye atau merah. “Selain itu juga ada riwayat pernah terpapar Covid-19 apa tidak, dalam masa pengobatan apa tidak. Jadi seperti itu. Tidak hanya untuk siswa, tapi juga seluruh warga sekolah,” imbuhnya.

SMPN 25 juga memaksimalkan potensi sekolah yang ada. Terbukti dengan predikat sekolah aktif literasi nasional selama 4 tahun berturut-turut dari Gerakan Menulis Buku Indonesia. Selama pandemi, sekolah berinovasi dengan kegiatan-kegiatan seperti pelatihan animasi dan game secara daring. SMPN 25 bekerja sama dengan UNS dan Komite Sekolah. Serta melakukan pemilihan pengurus OSIS dengan e-voting.

“Kami juga mengapresiasi kegigihan guru dalam melayani siswa selama PJJ. Terbukti dengan pantauan melekat dan home visit,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu siswa peserta simulasi PTM kelas IX F SMPN 25 Surakarta Adha Rizki Amelia mengaku senang dapat kesempatan ini. Sebab selama PJJ dia merasa kesulitan untuk pahami materi pelajaran.

“Saya senang karena bisa bertemu teman-teman. Kalau PTM pembelajarannya lebih jelas daripada PJJ. Bisa mendengarkan penjelasan guru secara langsung dengan bertatap muka. Jadi kalau ada materi yang belum saya paham lebih mudah untuk bertanya. Saya harap bisa segera lakukan PTM dan bisa masuk semua,” katanya.  (adv/mg2/rgl/nik)

Populer

Berita Terbaru