"Banyak masyarakat keliru memahami tentang UT. Mereka beranggapan pendidikan di UT kurang berkualitas karena menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sehingga banyak pertanyaan apakah ijazah UT bisa untuk mencari pekerjaan atau tidak? Bisa untuk studi lanjut atau tidak? Saya tegaskan, lulusan UT bisa menggunakan ijazahnya bahkan untuk studi lanjut di luar negeri," ungkap Direktur UT Surakarta, Yulia Budiwati dalam webinar studi lanjut UT Surakarta, Sabtu (14/8).
Keraguan masyarakat tersebut terjawab dengan adanya alumni UT yang telah berhasil menyelesaikan studi lanjutnya baik di dalam maupun luar negeri. Alumni tersebut antara lain, Ruth Angela Christie alumni S2 Tsinghua University di Beijing, China. Ngabdul Khalim yang tengah menyelesaikan studi S2 di University College London di Inggris. Dan Arif Bagus Prasetyo alumni S2 Universitas Udayana Bali.
"Pada 2019, rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) didominasi lulusan UT. Sebanyak 9.600 alumni UT terserap dalam rekrutmen tersebut," sambung Yulia.
Artinya, meskipun UT menerapkan sistem PJJ dalam perkuliahannya, bukan berarti kualitas mahasiswanya tidak mampu bersaing dengan kampus lain. Justru di masa pandemi Covid-19, mahasiswa UT sudah lebih siap menjalani PJJ lantaran telah terbiasa dengan sistem tersebut. Bahkan jauh sebelum pandemi mewabah.
"Sekarang masyarakat mulai menyadari pentingnya PJJ. Di masa pandemi ini PJJ bukan lagi sebagai alternatif. Tapi menjadi kebutuhan. Bagi mahasiswa UT, ini bukan hal baru," imbuhnya.
Soal peluang studi lanjut, Yulia menyebut kesempatan tersebut terbuka lebar bagi siapapun. Termasuk alumni UT. Sebab, pemeritahan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) telah menyiapkan dana sebesar Rp 70 triliun untuk beasiswa studi lanjut. Namun tidak seluruhnya terserap karena tidak semua pelamar memenuhi kriteria persyaratan.
"Selain dana pemerintah, masih ada juga sumber dana lain dari CSR perusahaan dan lain sebagainya. Artinya, kesempatan dan dukungan untuk studi lanjut sangat besar. Tinggal bagaimana kita menghadapi persaingan sehat itu," pungkasnya. (aya/dam) Editor : Damianus Bram