Itu diungkapkan Ketua Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi UNS Prof Sahid Teguh Widodo. “Karena sifat kebudayaan Jawa itu berputar, maka ada cakra manggilingan (bahwa hidup itu bagaikan roda yang terus berputar). Masa depan itu terus berputar dari depan ke belakang,” terangnya, Rabu (18/8).
Dalam konteks Sura, imbuh Sahid, ada dua pengertian. Pertama, Sura merupakan momentum mawas diri apa saja yang dilakukan setahun lalu, yang kedua merefleksi masa yang akan datang.
“Tapi ingat, (memaknai) masa depan (bagi orang) Jawa itu berputar. Karena itu, ritualnya bentuknya berputar. Itu untuk merepresentasikan kehidupan yang selalu cakra manggilingan. Selalu berputar seperti cakra. Berbeda dengan budaya barat yang masa depannya di depan,” beber pria dengan gaya tertawa khas tersebut.
Nah yang mengundang penasaran, kenapa ada ritual dengan tidak memakai busana. Menurut Sahid, bertelanjang dalam istilah jawa disebu nglegeno. Biasanya pelaku ritual membawa air disiramkan sedikit demi sedikit ke titik tertentu.
Ada pula yang membawa sesaji dengan isi mewakili unsur air, tanah, api, dan kayu. “Itu artinya membawa bekal untuk menyongsong kehidupan masa depan yang selalu berputar dengan lebih baik. Jadi sebenarnya ilat, gelagat, ulat menjadi sarana doa. Makanya doanya orang Jawa beda dengan barat. Karena Jawa memelihara lambang-lambang yang bersumber dari lingkungannya sendiri,” urainya.
Fenomena tradisi memperingati Sura, imbuh Sahid, merupakan bentuk keragaman. Dan sudah terjadi sejak dahulu kala. Karena Jawa itu berkembang di pesisir, di pedalaman, dan di pesantren. Masing-masing menghasilkan karya budaya.
“Itulah kekayaan Jawa. Tidak perlu kontradiktif. Sifat budaya Jawa itu non konfrontatif, karena konsepnya dari sangkan paran, ditarik manunggal kawula lan gusti, kemudian mangan orang mangan kumpul. Ning kumpul karo gustine, bukan karo kancane. Ora mangan wae kumpul gusti, apalagi pas mangan,” jelas Sahid.
Kondisi tersebut, imbuhnya, berasal dari kultural masyarakat Jawa yang dibangun dari bermacam sumber. “Budaya Jawa itu unik. Termasuk culture capital. Ketika dikemas dengan baik, dapat menjadi kekuatan kultural. Saat masyarakat masih punya keyakinan, berarti masih punya harpaan. Hidup kan seperti di taman bunga. Ada mawar, melati, dan sembukan,” kelakar dia. (wa/dam)
Editor : Damianus Bram