“KSM merupakan perlombaan yang digelar dan diadakan oleh Kementerian Agama (Kemenag), sebagai wadah membangun gairah kompetisi sains di kalangan siswa madrasah. Sejak awal digelar pada 2012, KSM telah menjadi ajang yang positif dalam membangun budaya kompetisi. Dan mulai 2018, KSM mengelaborasikan sains dengan konteks nilai-nilai Islami,” terang Waka Kurikulum MTsN 5 Karanganyar Syaiful Bahri kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (1/9).
KSM, lanjut Syaiful, memotivasi siswa madrasah agar selalu meningkatkan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual berdasarkan nilai-nilai agama. Serta menumbuhkembangkan budaya kompetitif yang sehat.
“Memberi kesempatan siswa madrasah menjadi duta Indonesia, yang dapat membanggakan bangsa. Sekaligus menjadi penyejuk di tengah keterpurukan dunia pendidikan di Indonesia,” imbuhnya.
Sementara itu, di bawah kepemimpinan Kepala MTsN 5 Karanganyar Tri Wibowo, madrasah ini memiliki 27 rombongan belajar (rombel) atau 816 siswa pada tahun pelajaran 2021/2022. Sesuai program Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), madrasah mengembangkan program literasi, numerasi, dan wawasan lingkungan kepada seluruh warganya. Baik guru, karyawan, maupun siswa.
Maka, MTsN 5 Karanganyar telah melaksanakan program literasi dan numerasi. Terlebih pada tahun ini, sudah dimulai uji coba Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Menekankan pada kemampuan literasi, numerasi, dan wawasan lingkungan atau kebangsaan.
Di samping program tersebut, MTsN 5 Karanganyar terus mengembangkan bakat dan minat siswa di bidang tahfidz Alquran. Dari 27 rombel, tiga di antaranya telah ditambahkan materi tahfidz. Diampu oleh para hafidz dari beberapa pondok pesantren. Diharapkan, siswa MTsN 5 Karanganyar mampu menyelesaikan target minimal 3 juzz Alquran.
“Minat dan animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di MTsN 5 Karanganyar semakin besar. Sehingga perlu dilakukan terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” terang Syaiful. (rud/fer/dam) Editor : Damianus Bram